Andalan Air Tawar
01 August 2009
Budidaya Udang Galah ?Sistem Tangga?

Budidaya udang galah selama ini baru bisa dilakukan dengan kepadatan rendah, hanya berkisar 10 ? 15 ekor/m2. Tak seperti vannamei yang berenang-renang, udang galah lebih senang ngendon di dasar kolam.
Berangkat dari fakta itu maka pada 2007, timbullah ide dari Jarot untuk menggunakan bagian atas/permukan kolam guna pembesaran benur (benih udang) hingga menjadi tokolan (benih udang ukuran 2 ? 3 cm). Menurut Kepala Bidang Budidaya Udang Galah PERMINA (Perkumpulan Masyarakat Perikanan Nusantara) tersebut, permukaan kolam sebenarnya tak pernah terjamah si capit biru yang terkenal tak suka berenang.
Caranya dengan menggelar hafa (semacam jaring) di kolom bagian atas sebagai media pendederan. Sementara manajemen budidaya pembesaran udang galah di bagian bawah dari hafa sama saja dengan budidaya biasa. Hanya, pengontrolan kesehatan udang dan kualitas airnya harus lebih intensif. ?Tapi jika menghitung hasilnya, saya rasa sepadan,? kata Jarot. Tetapi ia menggarisbawahi, keberhasilan budidaya dengan teknik tersebut mutlak didukung kualitas air yang sangat bagus.

Hemat Lahan
Jarot kembali menyebutkan, kolam untuk membuat tokolan berkapasitas 24 ribu ekor biasanya memerlukan lahan seluas 120 ? 250 m2 (tergantung kepadatan, kualitas air dan sistem sirkulasi air). Tapi dengan sistem tangga ini bisa dihemat dengan 8 set hafa berukuran masing-masing 1 x 6 x 1 m2. Alhasil, kolam yang semula hanya dipakai untuk pembuatan tokolan kini bisa dipakai sekaligus untuk pembesaran.
?Daripada kolam dipakai untuk pendederan tok lebih baik untuk pembesaran juga. Pendederannya dipindah ke bagian atas kolam dengan menggelar hafa,? tandas lulusan Fakultas Teknik UGM ini. Karena memanfaatkan permukaan dan dasar kolam secara bersamaan itulah sistem ini kemudian dipopulerkan sebagai sistem tangga.
Hasilnya, panen dalam satu kolam bertahap hingga tiga kali. Dua kali panen tokolan dan satu kali panen udang galah konsumsi. ?Baik struktur fisiknya maupun siklus panennya seperti tangga,? kata Jarot dengan mata berbinar-binar.
Selain sebagai tempat membesarkan benur hingga menjadi tokolan, hafa ini juga berfungsi untuk menjauhkan calon tokolan dari predator. Selain itu juga bisa mengurangi risiko kegagalan panen tokolan pada kolam tanah/sawah akibat kebocoran pematang (menyebabkan benur/tokolan lolos ke saluran pembuangan).
Kasus panen tak maksimal karena tokolan tertimbun lumpur juga bisa dihindari. ?Sistem ini juga cocok dikembangkan di daerah yang tanahnya berlumpur,? tegas Jarot. Dengan keunggulan itu, tak heran panen tokolan bisa mencapai SR hingga 80%, sangat jauh dari rerata panen tokolan kolam sawah yang hanya 60% saja.
Efisiensi lahan dicapai dengan meningkatkan kepadatan benur di dalam hafa hingga mencapai 600 ? 650 ekor/m2. Angka ini jauh melampaui kepadatan tebar pendederan benur di kolam sawah yang hanya 100 ? 200 ekor/m2. Ia pun menyatakan baru saja seminggu panen tokolan dari hafa sistem tangga itu. ?Rata-rata SR 80%. Ada satu hafa yang 70%, karena sempat bocor hafanya, sehingga benur lolos,? papar pria yang pernah 3 tahun bekerja di Jepang ini.

Manajemen Hafa
Menurut Jarot, setiap kolam pembesaran bisa dihampari hafa untuk pendederan hingga 20% dari luasan kolam. Jarak antar hafa 80 cm ? 1m. Agar tak tenggelam, hafa diikat pada patok-patok bambu setinggi 1,5 m yang ditancapkan ke dasar kolam. Patok yang terlihat di permukaan air diusahakan minimal setinggi 20 cm agar tali tak mudah lepas. Patok ini ditancapkan setiap 2 m di sisi terpanjang hafa.
Agar benur tidak kekurangan oksigen, dipasang aerasi sistem kricik alias mengalirkan air di atas hafa. Pipa melintang di lubangi sisi samping, sehingga setiap hafa memperoleh 2 lubang yang alirannya menuju arah yang berbeda. Menurut Jarot, air ini harus mengalir 24 jam penuh. Pompa yang diadaptasi dari pompa air celup untuk taman itu hanya mati saat dibersihkan filter-nya setiap 3 hari sekali.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Agustus 2009