Andalan Air Tawar
04 September 2006
Pakan Apung Vs Pakan Tenggelam

Pertanyaan tersebut bisa jadi sering muncul pada benak orang-orang yang baru merintis usaha budidaya ikan.  Hal ini menjadi sangat penting, karena biaya untuk pakan merupakan komponen variabel terbesar yang dikeluarkan pembudidaya ikan.  Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan yang tepat menjadi suatu keharusan.  Bukan hanya dari sisi harganya saja, tetapi juga efektifitas dan efisiensi dari masing-masing jenis pakan tersebut.  Pakan ikan ada dua jenis, yaitu pakan apung dan pakan tenggelam.

Berbicara pakan ikan tentu tidak terlepas dari membicarakan komposisi nutrisi yang dikandung oleh masing-masing jenis pakan. ?Biasanya masing-masing pabrik pakan mempunyai komposisi nutrisi yang berbeda, dan itu faktor penting yang harus diperhatikan oleh pembudidaya?, kata Dr Ir Dedi Jusadi, MSc, kepala Departemen Budidaya Perairan IPB. Menurutnya perbedaan komposisi nutrisi tersebut dapat menentukan nilai FCR yang akan diperoleh.  ?Selain itu feeding management juga merupakan faktor penting untuk mencapai nilai FCR yang baik?, tambah Dedi.

 

Perbedaan Nilai FCR (Feeding Convertion Rate)

Nilai FCR yang baik pasti menjadi dambaan setiap pembudidaya ikan, karena nilai FCR ini dapat dijadikan standar untuk melihat tingkat efisiensi dari jenis pakan yang digunakan.  Semakin kecil angka FCR, itulah yang dicari oleh para pembudidaya. ?Pada komposisi nutrisi yang sama seharusnya semua jenis pakan ikan, baik itu pakan apung maupun tenggelam akan mempunyai nilai FCR yang sama, tetapi pada kenyataannya dapat berbeda ketika sudah diberikan di kolam?, demikian menurut Dedi.  Berdasarkan hasil pantauannya terhadap petani ikan lele di Bogor, pakan apung mempunyai nilai FCR yang lebih baik yaitu 1,05. Sedangkan untuk jenis pakan tenggelam diperoleh nilai FCR sebesar 1,15. Pendapat bahwa pada kandungan nutrisi yang sama, jenis pakan apung mempunyai nilai FCR yang lebih baik bila dibandingkan pakan tenggelam juga dibenarkan oleh Ade Noverzan, staff marketing PT Suri Tani Pemuka.  ?Pada kandungan nutrisi yang sama jenis pakan apung mempunyai nilai FCR yang lebih baik apabila dibadingkan dengan jenis pakan tenggelam?, katanya saat diwawancarai pada acara Jaksefo awal Agustus lalu.        

Berbedanya nilai FCR ini disebabkan adanya perbedaan karakter pada masing-masing jenis pakan.  Jika pakan apung, maka akan mengapung di permukaan air.  Sedangkan pakan tenggelam, akan segera tenggelam ketika dilempar ke air.  Perbedaan karakter ini akan berpengaruh pada tingkat efisiensi pakan yang diberikan kepada ikan. ?Jika menggunakan pakan apung pembudidaya dapat mengetahui dengan pasti apakah ikan sudah kenyang atau belum dari sisa pakan yang mengapung di permukaan?, jelas Dedi.      Jadi tidak ada pakan yang terbuang, selain itu pembudidaya juga dapat mengetahui berapa banyak pakan yang termakan ikan. Berbeda dengan pakan apung, pada penggunaan pakan tenggelam pembudidaya tidak mengetahui dengan pasti berapa banyak pakan yang termakan oleh ikan.  Menurut Dedi hal ini dikarenakan sifat pakan yang langsung tenggelam, sehingga proses makan ikan tidak terlihat dan kemungkinan pakan tidak termakan oleh ikan lebih besar. Terutama untuk ikan-ikan yang tidak mempunyai kebiasaan makan di dasar kolam.  ?Dari sini dapat terlihat bahwa tingkat efisiensi pakan tenggelam lebih rendah?, ujar Dedi. 

Keunggulan lain pakan apung adalah mempunyai water stability yang tinggi (tidak mudah hancur).  ?Tingginya water stability memungkinkan pakan apung dapat  bertahan lebih lama di dalam air, sehingga ketika termakan ikan tidak ada kandungan nutrisi yang hilang karena hancurnya pelet?, kata Dedi.  Kebalikannya, pada pakan tenggelam memiliki tingkat water stability yang lebih rendah, sehingga ketika dimasukkan ke dalam air, pakan akan mudah hancur.  ?Hancurnya pakan ini juga akan menghilangkan sebagian nutrisi yang dikandungnya, konsekuensinya ikan yang memakannya tidak mendapatkan nutrisi secara lengkap?, jelas Dedi.  Kondisi ini akan mengakibatkan nilai FCR yang diperoleh menjadi kurang baik.  ?Akumulasi dari sisa pakan yang hancur ternyata juga dapat mencemarkan perairan, yang nantinya akan berdampak pada populasi ikan yang ada di kolam tersebut?, tambahnya. 

Proses pembuatan pakan ternyata juga dapat mempengaruhi nilai FCR.  Menurut Ade Noverzan, pada saat proses pembuatan, pakan apung dimasak lebih matang.  Sehinga memberikan dampak positif pada tingkat kecernaan ikan, karena nutrisi yang terserap akan lebih optimal.  Senada dengan Ade Noverzan,  Dedi mengungkapkan, ?Ada bahan baku pakan yang membutuhkan proses pemanasan yang sempurna untuk meningkatkan tingkat kecernaan pada ikan, yaitu bungkil kedele?. Menurutnya bungkil kedele mengandung zat anti nutrien yang sulit dicerna bila tidak mengalami pemanasan optimum. Sayangnya proses pemanasan yang sempurna tidak terjadi pada proses pembuatan pakan tenggelam. ?Pada pembuatan pakan tenggelam dengan skala industri rumah tangga, tidak ada proses pemanasan, yang ada hanya pemadatan saja?, ungkap Dedi.  Sehingga dapat mengurangi tingkat kecernaan pada ikan jika pakan tersebut berbahan baku bungkil kedele.                              

 

 

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi September 2006