Andalan Tawar
01 December 2009
Panen Patin di Lahan Gambut

Desa Garung, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah (Kalteng). Seolah tak hiraukan teriknya matahari, puluhan laki-laki terjun ke kolam dan penuh semangat menangkapi patin ukuran setengah kiloan. Dengan disaksikan pejabat setempat dan pejabat Departemen Kelautan dan Perikanan, warga sekitar melakukan panen perdana hasil ujicoba budidaya patin di lahan gambut. Patin-patin itu telah dipelihara selama 7 bulan. Hari itu seakan menjadi pembuktian dapatnya patin (Pangasius hypopthalmus) dibudidayakan di lahan dengan keasaman tinggi.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DKP), Made L Nurdjana menjelaskan, kegiatan tersebut sebagai realisasi dari program pemanfaatan 1,4 juta hektar lahan gambut. Instruksi Presiden nomor 2 tahun 2007 menyebutkan, percepatan rehabilitasi dan revitalisasi kawasan pengembangan lahan gambut di Kalteng untuk wilayah konservasi meliputi 80% total area. “Sisanya, sekitar 330 ribu hektar dimanfaatkan untuk agribisnis termasuk perikanan,” sebut Made kepada TROBOS. “Dengan sedikit rekayasa olah kolam, masyarakat Kalteng yang umumnya tinggal di kawasan lahan gambut berpeluang membuka usaha pembesaran patin,” sambung Made.
Direktur Usaha dan Investasi, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya DKP, Lenny Stansye Syafei pun yakin, wilayah Kalteng sangat berpotensi menjadi sentra produksi patin dengan memanfaatkan sungai-sungai yang ada. “Jika produksi bisa digenjot, tidak menutup kemungkinan ada investor yang tertarik mendirikan pabrik pengolahan patin sebagai komoditas ekspor,” kata Lenny.  

Dukungan Pemda
Dalam sebuah kesempatan terpisah, Gubernur Kalteng, Teras Narang menyatakan dukungannya pada pemanfaatan lahan gambut yang selama ini lebih banyak “tidur” untuk budidaya patin. ”Pulaung Pisau dan beberapa kabupaten lainnya akan saya dorong untuk mengembangkan budidaya patin. Kemudahan perizinan usaha akan diberikan bagi investor yang tertarik membangun pabrik pengolahan di Kalteng,” tegas Teras.
Panen perdana patin di kolam percontohan diperkirakan menghasilkan 2 sampai 3 ton. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran para ahli budidaya di BBAT (Balai Budidaya Air Tawar) Mandiangin Kalsel, yang memulai program pembangan patin di lahan gambut sejak Maret 2009. Kepala BBAT Mandiangin, Endang Mudji Utami menjelaskan, instalasi budidaya ikan lahan gambut lahannya diserahterimakan dari Pemerintah Kabupaten Pulau Pisau kepada Ditjen Perikanan Budidaya DKP. Luas lahan intalasi buidaya yang diserahterimakan sekitar 22 hektar. Ada 12 kolam percontohan diisi ikan patin dan 3 kolam diisi ikan nila. Masing-masing seluas 600 m2. 
Lebih lanjut, Endang mengatakan, 9 kolam diisi 3 ribu ekor, 4.200 ekor, dan 6 ribu ekor dengan ukuran benih 5 sampai 8 cm. Lama pemeliharaan 7 bulan, panen ukuran rata-rata 600 gram per ekor, dan tingkat kematian sekitar 20%. Kemudian ada 1 kolam yang awalnya diisi patin ukuran 600 gram per ekor, kini dipanen dengan ukuran 2 kg per ekor. Tingkat kematiannya sekitar 10%.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Desember 2009