Andalan Air Tawar
01 September 2010
Menggemukkan Kepiting di Serambi Mekah

Peluang usaha menguntungkan, sayang masih terkendala bibit.

Aceh terus berbenah. Wilayah yang pernah dilanda tsunami pada akhir 2004 tersebut sedang giat membangun kembali daerahnya. Beragam pengembangan di segala sektor usaha terus dipacu demi menggairahkan kembali perekonomian di sana. Satu diantaranya adalah usaha penggemukan kepiting.
Staf ahli Balai Budidaya Kepiting Bakau Air Payau Ujung Batee (BBAPUB), Sarifuddin menyebutkan, Aceh memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan usaha budidaya penggemukan kepiting terutama jenis kepiting bakau. Alasannya antara lain karena Aceh memiliki pasokan kepiting dewasa di alam sebagai sumber benih.
Selain itu potensi lahan tambak di sana sangat besar yakni mencapai 47.000 hektar. Kondisi pantai Aceh juga banyak dipenuhi vegetasi mangrove dan bebas dari pencemaran industri atau limbah rumah tangga lainnya dengan dasar perairan berlumpur. ?Fakta tersebut cukup merepresentasikan besarnya peluang usaha penggemukan kepiting di Aceh,? ujar Sarifuddin.
Dari sisi ekonomi, usaha penggemukan kepiting cukup menggiurkan. Betapa tidak, harga per kilo mister crab ini bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Armia Yusuf,  petambak penggemukkan kepiting di wilayah Pidie menyebutkan, harga kepiting bakau pada Mei ? Oktober berkisar antara Rp 80.000 ? 100.000/kg  di tingkat petani pengumpul.
Harga tersebut akan melonjak tinggi pada bulan  November ? April dengan kisaran harga Rp 100.000 ? 135.000/kg. ?Lonjakan harga terutama terjadi saat perayaan tahun baru dan hari raya imlek. Harga kepiting ukuran 2 - 3  ekor/kilogram bisa mencapai Rp 135.000,? katanya.
Dengan nilai jual tinggi itu, lelaki 40 tahun itu mengaku bisa  meraup keuntungan sekitar Rp 9 hingga Rp 10 juta per siklus produksi. Hebatnya lagi, siklus penggemukan kepiting bakau ini sangat singkat sehingga perputaran uangnya juga cepat. ?Hanya dalam waktu 15 hari sudah bisa panen,? sebut Armia.
Petambak asli Pidie ? Aceh yang memulai usaha penggemukan kepiting pada 2007 itu mengatakan usaha penggemukan kepiting ini sangat menguntungkan. Sebab dalam waktu tak terlalu lama sudah bisa balik modal. Armi menyebut angka Rp 13 juta untuk modal awal usahanya. Mulanya dia mencoba menggunakan keramba bambu di tambak dengan ukuran 1.500 m2. Bibit kepiting berasal dari alam yang merupakan hasil tangkapannya sendiri. Ukuran bibit kepiting antara 250 ? 300 gram/ekor. Dalam waktu sekitar 2 minggu kepiting bertambah bobot 20% dari bobot awal (300 - 350 gram/ekor).
Kini lahan tambak Armia mencapai 5.000 m2. Armia memagari sekeliling dinding tambak dengan belahan bambu. Dalam luas lahan tersebut, ditebar bibit kepiting sebanyak 350 kg (asumsi bobot bibit rata-rata 250 gram per ekor jadi jumlah penebaran sekitar 1.400 ekor). Armia kini bahkan telah memiliki 2  kelompok petambak asuhannya dengan jumlah anggota per kelompok  15 orang.
Sementara itu untuk pemasaran kepiting tak sulit karena permintaannya cukup tinggi baik di dalam maupun luar negeri. Di antaranya dari Singapura dan lainnya. ?Permintaan ekspor tinggi, sayang tidak semuanya bisa terpenuhi,? imbuh Armia yang menjadikan Medan sebagai pasar utama kepitingnya. Sarifuddin menambahkan, dari total ekspor kepiting Indonesia, Aceh mampu menyumbang 15% diantaranya.

Bibit Sulit
Kendati demikian, usaha penggemukan kepiting bakau di Serambi Mekah bukan berarti tanpa kendala. Armia menyebutkan, masalah utama usaha ini adalah pasokan bibit kepiting yang terus menurun dari waktu ke waktu karena hanya mengandalkan pasokan alam. ?Bibit kepiting makin sulit diperoleh dalam jumlah banyak. Saya sangat berharap ada suatu terobosan pembenihan kepiting bakau sehingga  bibit kepiting di Aceh ke depan tidak punah,? harapnya.
Menurut Armia, pihaknya selama ini melakukan kerjasama dengan pedagang pengumpul di sekitar Aceh demi mengatasi kendala bibit tersebut. ?Tujuannya agar pasokan bibit tetap tersedia setiap saat kami butuhkan,? katanya. Harga bibit yang dibeli Armia dari pengumpul ini sekitar Rp 25.000 ? 35.000/kg (ukuran 3 ? 4 ekor/kg).
Kian menipisnya ketersediaan benih kepiting bakau ini juga diamini Sarifuddin. Menurutnya, penggemuk kepiting seperti Armia mendapatkan benih dari alam. Yakni di sepanjang pesisir timur Aceh seperti Kabupaten Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur dan Langsa. Namun, ketersediaan bibit dari alam ini dipastikan akan terus menyusut karena semakin terkuras.
Dari kondisi terakhir ini, kata Sarifuddin, pihaknya berupaya melakukan proses pembenihan untuk bibit kepiting tersebut. ?Masih  dalam proses penelitian dan baru berjalan 6 bulan karena memang pembenihannya terbilang sulit,? jelasnya.
Upaya lain adalah melakukan observasi atau kajian ketersediaan kepiting di Aceh. Berdasarkan kajian tersebut diketahui bahwa keberadaan kepiting paling banyak di Panton Labu (Aceh Utara). Wilayah yang selama ini diklaim sebagai pusat transaksi kepiting terbesar di Aceh itu nantinya diharapkan bisa memenuhi kekurangan bibit kepiting di wilayah lain seperti Pidie.


Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi September 2010