Andalan Tawar
01 December 2011
Menanti Aksi Para PunggawaBaru

Perikanan – Kelautan Indonesia dan Peternakan Indonesia punya punggawa baru. Kalau sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Fadel Muhammad digantikan Sharif Cicip Sutardjo, kini giliran Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Prabowo R Caturroso lengser dan digantikan posisinya oleh Syukur Iwantoro.

Sebagaimana biasa dalam sebuah pergantian, lontaran asa untuk adanya perbaikan selalu mengemuka. Berbagai harapan pun disampirkan ke pundak si pemegang tongkat estafet. Demikian pula dengan pergantian di dua sektor yang merupakan pemasok kebutuhan pangan hewani dan salah satu tiang pembangunan ekonomi negeri ini.

Dalam sebuah pertemuan chief editor yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan dihadiri para pimpinan media nasional baik cetak, elektronik maupun online, Cicip menegaskan arah kebijakannya dalam memimpin perahu KKP sepanjang 3 tahun ke depan.

Industrialisasi Perikanan menjadi jargon KKP di bawah komando Cicip, setelah 2 tahun sebelumnya sang pendahulu lebih cenderung mengupayakan menggenjot produksi budidaya besar-besaran. Arah haluan yang bergeser ini ditengarai banyak pihak, termasuk para awak media, mengubah peta konsentrasi KKP.

Jelas kala itu Cicip mengatakan, bisnis pengolahan tidak boleh dibiarkan mati dan menuntut perhatian dan dukungan. Menurut  Menteri KP, tumbuhnya industri pengolahan akan menjadi penghela sektor budidaya, dan secara otomatis akan mendongkrak produksi budidaya. Selama ini, usaha hilir tak jarang kesulitan dalam mempertahankan kelangsungannya karena kekurangan bahan baku. Terutama yang disebutnya adalah usaha pemindangan ikan yang banyak tersebar di berbagai daerah.

Dan jelas pula Cicip menjawab tanya TROBOS ketika itu, impor ikan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pemindangan ini bukan tidak mungkinakan diizinkan. “Semua harus diberi kesempatan hidup, tidak bisa yang satu didorong tapi yang lain dibiarkan mati.” Kalimat Cicip ini seolah ingin mengatakan selama ini KKP terlalu berorientasi pada budidaya, sementara industri pengolahan dikesampingkan kepentingannya.

*  *  *

Penjabaran lebih terang dari Menteri KP akan makna Industrialisasi Perikanan yang diusungnya, dinantikan para pemangku kepentingan.Benarkah KKP dipimpin Cicip tak bernafsu lagi menjadi pemasok utama perikanan dunia di 2015 sebagaimana didengungkan pendahulunya. Sang Punggawa berputar haluan, di bawah bendera “industrialisasi” .

Industrialisasi perikanan, semestinya dimaknai secara luas. Segala aspek dalam usaha budidaya menuntut sentuhan industrialisasi. Peningkatan skala usaha, aplikasi teknologi, menekan biaya untuk mencapai efisiensi, semua itu masuk dalam makna industrialisasi. Thailand yang sepanjang sejarah dekade ini mampu bercokol sebagai pemasok dunia produk-produk perikanan, secara massif melakukan industrialisasi pada perikanan budidayanya. Dan dari mengandalkan perikanan budidaya yang modern itu pula negeri inimengeruk devisadari ekspor.

Budidaya, tidak bisa tidak adalah masa depan perikanan dunia. Pemenuhan pangan yang  semakin membengkak mau tidak mau kelak disandarkan pada sektor ini mengingat stok perikanan tangkap kian hari kian menipis. Sudah sewajarnya apabila berobsesi menjadi pemain kelas dunia, perikanan budidaya menjadi motornya.

*  *  *

Sementara itu, asa pun digantungkan kepada Syukur Iwantoro dalam membawa pembangunan peternakan tanah air. Menteri Pertanian, Suswono saat melantik Syukur, mengggadang dirjen baru ini bakal mampu mendorong investasi dalam rangka mewujudkan swasembada daging sapi 2014. Masih soal obsesi swasembada daging sapi.

Syukur pun menjanjikan terobosan kebijakan yang kondusif bagi investor, serta proaktif melakukan pendekatan dengan Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mendorong perbaikan infrastruktur yang mendukung investasi industri peternakan.

Tetapi pekerjaan rumah (PR) di bidang peternakan yang menunggu sentuhanSyukur di 2012 tak hanya swasembada daging sapi. Masih banyak PR yangmenumpukdi atas meja kerja,menanti untuk dikerjakanSyukur. Sekalilagi, pelaku menunggu dan menyandarkan harapan kondisi yang lebih baik kepada para nakhoda. Selamat Tahun Baru 2012.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Desember 2011