Konsultasi
01 August 2008
Persiapan Budidaya Lele

Tanya:
Saya berkeinginan membudidayakan lele, tetapi masih awam dengan hal tersebut. Mohon informasinya mengenai: 1.Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyiapkan  kolam (kolam yang sudah disiapkan kolam semen ukuran 2x1x1 m), 2. Jumlah benih yang diperlukan, 3. Benih yang harus digunakan, 4. Pakan 5. Penyakit. Terimakasih, salam.
Arnen,
dewan_jagung@cbn.net.id

 

Jawab

Kami salut atas semangat Bapak memulai usaha baru. Budidaya lele sebetulnya bukan hal baru dalam dunia perikanan. Kita mengenal budidaya lele mulai dari sistem ekstensif (tradisional) maupun intensif bahkan super-intensif.
Sebelum memulai usaha budidaya, ada baiknya mengenal lebih dekat sifat dan karakteristik lele. Dalam habitat aslinya, lele merupakan hewan nocturnal (aktif di malam hari). Hewan ini menyukai suasana gelap daripada suasana terang. Dalam urusan makan memakan, lele bersifat omnivor (pemakan segala) yang cenderung carnivor (pemakan daging).
Yang harus dipersiapkan:
1. Untuk membudidayakan lele bisa dalam wadah bermacam-macam, mulai dari kolam tanah, kolam semen ataupun kolam terpal. Keuntungan kolam semen adalah memiliki buangan bawah yang sangat menguntungkan dalam pembuangan air bawah dan pada saat panen.
Jika Bapak sudah menyiapkan kolam semen ukuran 2 x 1 x 1 m dan jika kolam tersebut adalah kolam baru, maka langkah pertama adalah melakukan pencucian. Caranya dengan merendam kolam tersebut dengan menambahkan sabut kelapa atau batang pisang (atau bahan lain yang mudah menyerap). Tujuannya agar sisa dan bau semen (yang bisa meracuni ikan) hilang.
Setelah beberapa hari air dibuang dan cuci permukaan kolam. Jika masih ada bau semen, ulangi langkah ini, kemudian kolam siap digunakan. Langkah berikutnya mempersiapkan airnya agar intensitas cahaya tidak terlalu besar masuk ke dalam air. Caranya dengan menumbuhkan plankton. Pemupukan bisa menggunakan kotoran ayam (yang sudah menjadi kompos/tanah) dengan dosis 0,5 kg/m2. Pemupukan lebih efektif jika sudah ada bibit plankton dari air yang digunakan. Biasanya setelah 4-5 hari air berubah menjadi coklat kemerahan dan terdapat jentik-jentik yang cukup banyak. Setelah ada warna air, penebaran baru boleh dilakukan. Sedapat mungkin jangan melakukan penebaran pada saat air masih bening karena benih lele mudah stres pada air yang jernih. Penebaran bisa dilakukan pagi atau sore hari pada saat cuaca sejuk.
2. Untuk pemeliharaan sistem intensif, kepadatan ikan bisa mencapai 200 ekor/m3, atau 400 ekor/bak.
3. Kualitas benih sangat menentukan keberhasilan budidaya. Induk yang unggul akan menurunkan benih yang unggul pula. Secara morfologi sulit dibedakan antara benih yang unggul dan yang tidak. Tetapi benih yang didapat dari perkawinan inbreeding (sedarah) menghasilkan individu yang mutunya rendah dalam arti jumlah telur lebih sedikit, daya tetas (hatching rate) lebih rendah, tidak tahan penyakit, pertumbuhan lambat dll.   
Ukuran tebar juga menentukan umur panen. Semakin besar ukuran tebar, maka umur budidaya semakin singkat. Di Jawa Timur umumnya lele ditebar pada ukuran 3-5 cm dan panen dengan ukuran 10-12 ekor/kg dalam waktu 3 bulan. Sebaliknya di banyak wilayah di Jawa Barat lele ditebar ukuran 10-12 cm, dan mencapai ukuran panen 8-10 ekor/kg dalam waktu 50-an hari.
4. Pakan diberikan 2-3 kali sehari, dan dilatih makan pada pagi sampai sore hari (agar lebih mudah). Merk pakan ikan lele sangat beragam, salah satunya pakan produksi PT Suri Tani Pemuka. Tetapi secara umum pakan terdiri atas 2 jenis yaitu pakan apung dan pakan tenggelam. Pakan apung lebih mudah dikontrol karena jika tidak habis akan tetap mengapung, Sebaliknya pakan tenggelam harus hati-hati dalam penggunaannya karena bisa saja terjadi kelebihan pakan (over feeding). Pakan apung lebih ramah lingkungan sehingga pemeliharaan kualitas air lebih mudah dibanding pakan tenggelam. Dengan grade yang sama, biasanya harga pakan apung lebih mahal tetapi energi yang tersedia lebih banyak dibanding pakan tenggelam.
5. Penyakit yang paling umum adalah bakteri Aeromonas spp dengan tanda-tanda klinis bercak atau cacar putir di tubuhnya. Pencegahannya dengan mengendalikan kualitas air agar tidak berfluktuasi. Karena tidak bersisik, lele juga sangat rentan terhadap perubahan pH air yang bisa menyebabkan luka sehingga mengalami infeksi sekunder oleh bakteri. Demikian, selamat berbudidaya!

Rubrik ini diasuh oleh PT Suri Tani Pemuka (STP)