Konsultasi
01 October 2011
Memaksimalkan Pemberian Pelet Bandeng

Tanya:

Saya adalah pembudidaya ikan bandeng dari daerah Karawang, Jawa Barat. Dulu saya tidak menggunakan pakan buatan, hanya mengandalkan pakan alami. Satu tahun terakhir ini atas saran teman, saya mulai mencoba menggunakan pakan buatan namun hasil yang saya dapat tidak maksimal (pertumbuhan ikan tidak beda jauh dibanding tanpa pakan buatan). Yang ingin saya tanyakan adalah pakan seperti apa yang cocok untuk bandeng? Bagaimana aplikasinya atau kiat-kiat di lapangan agar pertumbuhan ikan bisa cepat?Terimakasih.

H. Masdikun - Karawang

 

Jawab:

Budidaya bandeng sudah ratusan tahun dilakukan di Indonesia, sejak dulu hingga saat ini teknologi budidaya bandeng masih menggunakan makanan alami, terutama klekap, sebagai sumber makanan utama ikan bandeng. Pakan alami merupakan faktor utama bagi pertumbuhan ikan (terutama ketika ikan masih berukuran kecil), karena nutrisi didalamnya sangat lengkap dan sesuai dengan kebutuhan ikan. Oleh karena itu jika klekap tidak tumbuh baik maka jumlah makanan yang tersedia menjadi sedikit sehingga pertumbuhan ikan bandeng akan terhambat. 

 

Seiring meningkatnya ukuran ikan maka ketersediaan pakan alami akan semakin menipis.  Pada tahap tertentu makanan alami tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan ikan bandeng, sehingga perlu diberikan tambahan dari luar, yaitu dengan pemberian pelet atau pakan buatan. Pakan buatan yang cocok untuk bandeng yaitu berbentuk apung.

 

Pakan apung memiliki kelebihan antara lain mudah dalam mendeteksi apakah dimakan atau tidak, sehingga bisa meminimalisir kelebihan pakan (over feeding). Semakin tinggi nutrisi pakan maka semakin tinggi pula laju pertumbuhan ikan. Dengan manajemen budidaya yang tepat maka budidaya dengan pakan buatan bisa menghasilkan keuntungan yang lebih maksimal.

 

Aplikasi pakan buatan bisa dimulai saat ikan berukuran kira-kira 100 gram/ekor atau berumur 3 - 4 bulan, jumlah yang diberikan antara 3 – 5 % dari biomasadan frekuensi pemberiannya 2 – 3 kali/hari. Acuan tersebutharus disesuaikan dengan kondisi ikan (nafsu makan) dan kualitas airnya. Semakin bagus nafsu makan ikan dan kualitas airnya, maka pemberian pakan bisa dimaksimalkan.

 

Kualitas air bisa dioptimalkan dengan cara ganti air secara periodik (misalkan setiap 1 minggu sekali/saat air laut sedang pasang) atau ketika dibutuhkan (saat kualitas mulai menurun). Penentuan lokasi tambak sangat menentukan mudah/tidaknya melakukan pergantian air, hal ini akan berpengaruh terhadap lama/tidaknya pemeliharaan ikan. Dengan teknik ini, pertumbuhan ikan bisa meningkat karena air selalu segar.

 

Agar lebih efisien, pakan cukup diberikan 1 bulan atau paling lama 2 bulan sebelum panen.  Tujuannya adalah untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi bagi ikan dalam tambak karena persediaan makanan alami yang semakin terbatas. Sebaiknya target panen ditentukan saat harga ikan tinggi, misalnya saat menjelang hari raya Idul Fitri/Idul Adha, Imlek, tahun baru, dan sebagainya.

 

Teknik lain untuk memaksimalkan budidaya adalah dengan cara panen parsial (penjarangan). Panen parsial dilakukan saat carrying capacity (daya tampung) tambak sudah maksimal. Kondisi ini dicirikan dengan pertumbuhan ikan yang mulai melambat atau bahkan terlihat gejala ikan kekurangan oksigen (lebih banyak berenang dipermukaan/megap-megap).

 

Dengan panen parsial maka daya dukung lingkungan akan lebih tinggi dan ruang gerak ikan lebih luas, sehingga laju pertumbuhan ikan akan lebih cepat. Panen parsial bisa dilakukan dengan memanen 1/3 dari biomass, sisanya dipelihara lagi hingga masuk ukuran target budidaya. Panen parsial bisa dilakukan lebih dari 1 kali (disesuikan dengan carrying capacity dan ukuran target panen).

 

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Oktober 2011