Trobos Goes to Campus Universitas Padjadjaran
Supaya Mahasiswa Bisa Jadi Pengusaha
Majalah Trobos sambangi kampus Universitas Padjadjaran Bandung. Trobos berupaya menjembatani antara kebutuhan dunia usaha dengan kompetensi mahasiswa.
Aula Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Fapet Unpad) mendadak dipadati banyak orang. Sebanyak 300 kursi disediakan namun tidak sebanding dengan jumlah peserta acara yang datang. Digelarnya kegiatan bertajuk Trobos Goes To Campus Sabtu (17/4) lalu di Kampus Fapet Unpad Jatinangor Bandung itu, di luar dugaan menarik banyak perhatian para mahasiswa dan alumni Fapet Unpad.
Para peserta umumnya tertarik menambah wawasan soal bagaimana tips dan trik menjadi seorang pengusaha. Hal itu sesuai dengan tema yang diangkat yaitu Siap Hadapi Dunia Kerja, Mau Jadi Karyawan Atau Wirausaha. Apalagi pembicara yang dihadirkan bukan sembarang orang, ada pengusaha sukses ayam broiler asal Bogor - Ir Setya Winarno, Regional Manager PT Medion - drh. Suwadi Hartono, dan Pemimpin Harian Majalah Trobos – drh Iswandari.
Informasi yang dipaparkan para pembicara itu mendapat sambutan antusian dari para peserta. Tak pelak pada saat sesi tanya jawab rentetan pertanyaan pun bermunculan. Para penanya banyak yang ingin tahu lebih jauh mengenai kiat sukses berbisnis ayam broiler. Saking banyaknya peserta yang bertanya, acara pun berlangsung lebih lama dari jadwal yang ditentukan. Apalagi dengan adanya kegiatan hadiah hiburan (doorprize) membuat peserta lebih bersemangat.
Acara yang diselenggarakan kerjasama dengan Fapet Unpad berjalan sukses. Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Dekan Fapet Unpad Dr. Ir. Iwan Setiawan, DEA. Menurut Iwan, kegiatan ini menjadi peluang bagi mahasiswa untuk mendapat informasi seluas-luasnya tentang peternakan baik teknis maupun produksi. “Kami berharap kegiatan ini bisa diagendakan sebagai agenda nasional Trobos,” ujarnya.
Tanggapan juga dating dari Pembantu Dekan III Fapet Unpad, Jajang Gumilar, S.Pt, MM. Ia mengatakan kegiatan ini bisa memotivasi mahasiswa untuk menjadi wirausaha. “Peluang menjadi sukses dari wirausaha ini sangat besar dan lebih menjanjikan. Mahasiswa kan modal ilmunya sudah cukup,” tutur Jajang.
***
Outlook Perikanan 2010
Negara Besar dengan Obsesi Besar
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah komando Fadel Muhammad berobsesi menjadi penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia pada 2015. Target yang dipatok, peningkatan produksi sebesar 353% di 2015. Ini kembali diutarakan dengan penuh keyakinan oleh Fadel saat bertindak sebagai pembicara kunci “Outlook Perikanan”, gelaran tahunan yang diselenggarakan TROBOS bekerjasama dengan GPMT (Asosiasi Produsen Pakan Indonesia). Kali ini mengambil tema “Industrialisasi Perikanan Menuju Ketahanan Pangan Nasional"
Beberapa peserta dari hampir 200 orang yang hadir di Hotel Grand Sahid, Jakarta hari itu (14/1) menaruh harapan besar pada Fadel, sebagai menteri yang baru. “Bagus, ada semangat baru, semoga mampu membuka iklim usaha yang baik,” ujar salah satu peserta dari sebuah perusahaan pakan ikan-udang. Terlebih, sebelum acara Fadel menyempatkan berdiskusi mendengarkan masukan dari perwakilan pelaku usaha perikanan. Diharapkan ia mampu mengurai beberapa persoalan yang menghambat usaha. Sebagaimana janji Presiden SBY yang melakukan “debottlenecking” bagi iklim usaha selama masa pemerintahannya kali ini.
*** ***
TROBOS Golf Tournament 2009
Bangun Sportivitas, Bangun Jejaring
Karena turnamen ini tak sekadar sarana olahraga semata, tetapi memiliki muatan ajang silaturahmi
Mentari di ufuk timur belum juga menghangati kawasan Bogor, tetapi kesibukan dan keriuhan segera terasa di Klub Golf Bogor Raya pagi itu(19/11). Tak kurang dari 120 orang yang sehari-harinya bergelut di bidang peternakan dan perikanan rame-rame mengikuti TROBOS Golf Tournament (TGT) 2009. Turnamen ini adalah kedua kalinya digelar TROBOS. Dan berdasarkan catatan panitia, penyelenggaraannya diikuti peserta 20% lebih banyak ketimbang tahun lalu. Bisa jadi, fakta ini karena turnamen tersebut tak sekadar sarana olahraga semata, tetapi juga memiliki muatan sebagai ajang silaturahmi.
Sebagaimana tahun sebelumnya, peserta TGT 2009 datang dari berbagai daerah di Indonesia. Antara lain peserta dari Jabodetabek, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Jogjakarta serta Jawa Timur. Dan peternak dari kawasan Priangan Timur (Tasikmalaya dan Ciamis) tercatat sebagai peserta terbanyak. Sebanyak 17 peserta berasal dari Priangan Timur meramaikan TGT 2009. Turnamen tahun ini menjadi lebih semarak karena peserta yang terlibat tak hanya pelaku peternakan sebagaimana tahun lalu, tetapi kini mengundang juga komunitas perikanan.
Dalam sambutannya, Iswandari, Pemimpin Harian TROBOS mengatakan, TGT 2009 merupakan satu rangkaian dari perayaan dan persembahan TROBOS dalam mensyukuri usianya yang memasuki satu dasawarsa. Dan kegiatan ini merealisasikan gagasan untuk membuat sebuah ajang silaturahmi bagi para stakeholder di industri peternakan dan perikanan. Penambahan dan penguatan jejaring sosial diharapkan dapat terbangun dari kegiatan ini, sehingga secara tidak langsung turnamen ini dapat turut mendorong berkembangnya industri peternakan dan perikanan. “Semangat silaturahmi dan sportivitas dari olah raga ini mudah-mudahan semakin memberi warna pada pembangunan peternakan dan perikanan, tempat kita berkecimpung saat ini,”
*** ***
Turnamen Tenis Meja Perunggasan
Kampanyekan Ayam dan Telur Melalui Tenis Meja
Kesamaan visi membuat masyarakaat perunggasan berhimpun kembali untuk memberikan pencerahan gizi kepada masyarakat mengenai pentingnya protein hewani utamanya asal ayam dan telur. Dengan didukung asosiasi perunggasan nasional seperti GOPAN, GPMT, PINSAR, GAPPI, GPPU, ASOHI, MIPI dan ISMAPETI. Acara dengan tema besar “Sehat dan Cerdas, Berkat Ayam dan Telur” ini memanfaatkan media olahraga tenis meja sebagai media penghubungnya. Yang kemudian terselengaralah Turnamen Tenis Meja Perunggasan yang dilanjutkan dengan Kampanye Gizi Perunggasan Nasional yang berlangsung sejak 16-18 Juni di GOR Pajajaran Bogor.
*** ***
Outlook Perikanan 2009
Gebrak Pasar dan Tingkatkan Produksi
Memutar otak, mencari strategi untuk meningkatkan bisnis perikanan di dalam negeri dan di pasar global.
Berkaca pada apa yang terjadi selama 2008, saatnya semua pihak yang menekuni industri perikanan mempersiapkan diri memasuki 2009. Apakah perikanan Indonesia siap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan unjuk gigi di pasar gobal, ataukah Indonesia hanya bisa jadi penonton? Untuk itu, pertengahan bulan Desember lalu pelaku perikanan berkumpul, membahas dan mendiskusikan hal tersebut dalam diskusi Outlook Perikanan 2009. Acara bertemakan ?Tinjauan Fokus Prakiraan Perikanan Indonesia 2009? tersebut diselenggarakan oleh GPMT divisi Pakan Ikan bekerjasama dengan Majalah TROBOS pada 17 Desember 2008 lalu di Jakarta.
*** ***
Diskusi Terbatas Ultah ke-9 TROBOS
Prospek Agribisnis Peternakan & Perikanan di Tengah Krisis Global
Krisis yang melanda dunia telah lebih dahulu dirasakan nyata sektor perikanan, "Permintaan pasar telah menurun tajam," ungkap Sumpeno Putro, Peneliti Senior Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan DKP. Sektor perikanan, yang selama ini banyak mengandalkan pasar ekspor dipastikan mengalami pukulan. Seakan menggenapi prestasi menurun 10 tahun belakangan yang tren pertumbuhannya negatif. Sumpeno mengungkapkannya dalam diskusi terbatas yang digelar dalam rangka ulang tahun ke-9 TROBOS.
Siwi Peni, Asisten Vice President Divisi Usaha Kecil Bank Negara Indonesia (BNI) yang juga menjadi pembicara dalam diskusi terbatas mengatakan, "Sekarang ini, kami (Perbankan) juga jadi deg-degan mengucurkan kredit ke sektor peternakan & perikanan. Khawatir macet!" Selama ini, Siwi mengutarakan, pihaknya memberikan kredit yang tidak kecil bagi sebuah perusahaan besar (integrator) perunggasan.
Anton J Supit, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia (GAPPI) yang juga didaulat sebagai pembicara. "Harus ada solusi," tandasnya. Situasi yang serba sulit justru harus dijadikan momentum untuk membenahi dan memperkuat sektor peternakan, khususnya ia menyoroti perunggasan. Berkali - kali disebutnya, pembenahan itu dimulai dengan membuat sebuah grand design (kerangka besar) peternakan. Berisi target perunggasan Indonesia hingga 25 tahun yang akan datang. "Harus jelas siapa melakukan apa sehingga ada sinergi antara para stakeholder," tutur Anton. "Lima tahun ke depan tingkat konsumsi ditarget berapa, caranya bagaimana, siapa yang mengerjakan. Lalu selanjutnya sepuluh tahun seperti apa?" cecarnya penuh semangat.
Wacana penyusunan grand design mendapat tanggapan positif dari banyak kalangan. Achmad Dawami, tokoh perunggasan mengomentari, "Saya setuju ada grand design, malah tidak terbatas perunggasan saja."
*** ***
TROBOS Golf Tournament 2008
Jalin Silaturahmi dari Rumput Hijau
Ajang bertukar pengalaman dan informasi bagi pelaku usaha peternakan
Fajar masih menyisakan hawa dinginnya ketika matahari tak kunjung beranjak dari balik ketiak cakrawala. Walau demikian, di Imperial Klub Golf, Karawaci, Tangerang, keramaian justru telah dimulai. Hari itu (20/8), digelar TROBOS Golf Tournament (TGT) 2008.
Sebanyak 100 peserta berdatangan dari berbagai wilayah. Yakni dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, Lampung bahkan sampai Makasar. Ya, pertandingan golf ini memang pesta olah raga bagi insan peternakan yang sengaja diselenggarakan TROBOS guna memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-63. Tak cuma itu, TGT juga bertujuan untuk mempererat buhul silaturahmi di antara pelaku usaha peternakan. "Ini adalah turnamen persahabatan yang sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi insan peternakan," kata Pemimpin Harian TROBOS, Iswandari dalam pidato sambutannya pada acara tersebut.
Dengan semangat kemerdekaan, even ini diharapkan bisa mempersatukan insan peternakan Indonesia sehingga lebih memajukan dunia peternakan nasional di masa depan. "Semoga semangat perjuangan dan kemerdekaan dapat selalu menginspirasi kita dalam berkiprah dan membangun bangsa melalui peternakan".
*** ***
Seminar Perunggasan
Bangun RPA, Tak Harus Mahal
Dengan bunga pinjaman bank sebesar 12 % pun usaha RPA tetap menguntungkan.
Setidaknya dalam waktu dekat adalah kawasan Jabodetabek, tapi kecenderungan bakal diikuti daerah-daerah lain. Tidak bisa tidak, kondisi mutakhir menuntut RPA menjadi sebuah keniscayaan bagi pelaku usaha perunggasan. Salah satu alasannya adalah syarat terpenuhinya kriteria daging ayam yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Demikian yang terungkap dalam dialog publik "Rumah Potong Ayam (RPA) : Sesuai Standar dan Menguntungkan Seperti Apa?" yang digelar TROBOS di seputar hajatan Indolivestock Expo & Forum 2008 lalu. Kali ini TROBOS berkolaborasi dengan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Prov DKI Jakarta, GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional) dan CIVAS (Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies).
*** ***
Membangun Optimisme dalam Agflasi
Agflasi, kondisi peningkatan harga komoditas pertanian yang terjadi akhir-akhir ini berdampak pada menurunnya laju pertumbuhan industri peternakan di seluruh dunia. Peningkatan harga bahan pakan sebagai akibat rendahnya ketersediaan komoditas pertanian membuat kompetisi penggunaan komoditas pertanian untuk pangan dan pakan semakin ketat. Terlebih dengan tingginya harga minyak dunia, membuat konversi komoditas pertanian menjadi bahan bakar dan sumber energi telah terjadi di beberapa negara.
Kondisi agflasi mendorong pembuat kebijakan di beberapa negara memutuskan untuk mengamankan pasokan pangannya, dengan kebijakan tarif dan pajak. Hal ini akan memperburuk situasi agflasi, mengingat pasar komoditas pertanian telah mengglobal. Terlebih, pada saat ini terdapat 60 triliun dolar dana investasi global yang dikelola para manajer investasi. Lesunya sektor investasi keuangan mendorong investor masuk ke pasar berjangka komoditas. Hal ini membuat kondisi agflasi semakin parah.
Pengaruh agflasi terhadap industri peternakan akan berbeda dari masing-masing negara. Tingginya ketergantungan impor bahan baku dan ketatnya persaingan pasar peternakan membuat unik situasi peternakan Indonesia. Melihat hal tersebut, PT Trouw Nutrition Indonesia, sebagai anak perusahaan Nutreco Group, bekerja sama dengan TROBOS dan Fakultas Peternakan IPB, pada 1 Juli 2008 yang lalu menyelenggarakan forum bisnis dengan nama Nutreco Forum dengan topik Feed, food and fuel : which is most essential for us ?
*** ***
Dialog Publik Pelaku Perunggasan
Ciptakan Pasar Sehat
Dialog diprakarsai oleh GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional), PINSAR (Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional) dan Majalah TROBOS. Dialog publik : Unggas Hidup Dilarang Masuk DKI, Konsekuensinya? pada Kamis/9 Agustus 2007 bertempat di Hotel Santika Jakarta ini terselenggara dengan niat untuk membangun dunia perunggasan yang tangguh dan berdaya saing ditengah persaingan global dan munculnya wabah flu burung yang membawa dampak pada usaha perunggasan. Diawali dengan diskusi antara perwakilan Pinsar, Gopan, FMPI dan Trobos kemudian bergabung pula Civas terselenggaralah diskusi publik ini dengan dukungan dari berbagai pihak, menghadirkan pembicara:
1. Bpk Anton J Supit, Ketua Umum GAPPI
2. Drh Edy Setiarto, M.Si, Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta
3. Dr. Ir Arief Daryanto, M.Ec, Direktur Program Pasca Sarjana Managemen & Bisnis IPB,
4. Ir. Hery Dermawan, Pebisnis ayam dari priangan yang mewakili peternak & pedagang ayam.
5. Dr. drh Tri Satya Putri NH, Ketua Badan Pengurus CIVAS (Center for Indonesian Veterinary Analitical Studies).
Dalam konteks penanganan AI, pasar adalah salah satu tempat publik yang menjadi entry point pengendalian menyebarnya virus. Fokus utamanya pada tempat-tempat yang memperdagangkan ayam dalam wujud hidup. Secara medis, ayam hidup berpeluang lebih besar menularkan virus dibandingkan bentuk karkasnya.
Mimpi Pemda DKI-Jakarta. Tidak ada ayam hidup dijual di pasar Jakarta, semua dalam bentuk karkas. Aspek kesehatan manusia ? penduduk Jakarta yang jumlahnya lebih dari tujuh juta jiwa - melatari mimpi itu. Satu visinya, menyelamatkan penduduk Jakarta dari serangan Afian Ifluenza (AI). Hingga saat ini, ratusan ayam hidup masih lalu lalang melintasi jalan dan gang-gang disela lapak-lapak pasar Jakarta. Menata pasar tradisional hakikatnya tidak menghilangkan keberadaan pasar. Dalam konteks restrukturisasi dan penataan pasar unggas, essensinya sederhana, bagaimana mengubah yang tradisional semrawut dan kumuh menjadi tradisional yang sehat dan nyaman. Saat hadir sebagai pembicara dalam dialog publik yang di gelar di Hotel Santika Jakarta, Tata menyampaikan minimal ada tiga syarat yang harus dipenuhi untuk memperoleh pasar yang sehat. “Kesehatan lingkungan, keamanan pangan, dan perlindungan konsumen”, sebut Tata.
*** ***
Rembug Peternak Nasional
Basmi Virus Flu Burung, Bukan Basmi Unggas!
Adanya wabah AI (flu burung) menuntut penertiban pemeliharaan unggas, tetapi penanggulangan AI harus juga menyelamatkan peternakan.
Perkembangan kasus flu burung yang diberitakan terus memakan korban telah menimbulkan kepanikan masyarakat. Akibatnya lebih lanjut membuat masyarakat semakin merasa ketakutan mengonsumsi produk ternak unggas. Peraturan pemerintah yang kurang dipahami dengan baik dan komprehensif oleh masyarakat juga telah membuat sebagian masyarakat mengambil tindakan yang cenderung mengancam keberadaaan segala ternak unggas di Indonesia, termasuk ternak unggas (ayam ras, buras dan unggas lokal lain) yang diusahakan secara komersial untuk memenuhi kebutuhan daging sebagai sumber protein manusia. Itu semua mengakibatkan goncangnya perunggasan secara serius. Menyikapi kondisi tersebut peternak unggas di Indonesia menggelar acara Rembug Nasional pada akhir Januari lalu bertempat di Hotel Menara Peninsula, Jakarta. Dihadiri perwakilan peternak seluruh Indonesia dan asosiasi-asosiasi terkait peternakan. TROBOS memediasi pertemuan Nasional tersebut bekerjasama dengan PINSAR dan GOPAN.
Pada kesempatan tersebut Ketua Umum FMPI, Don P Utoyo merencanakan dalam jangka pendek melakukan upaya untuk memulihkan kepercayaan masyarakat pada produk perunggasan. Sementara, Ketua GAPPI, Anton Supit menegaskan, produk perunggasan berperan dalam menentukan maju mundurnya bangsa. Tak hanya penyedia protein hewani tetapi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Penanganan tidak Bijaksana
Penanganan AI yang tidak bijaksana berakibat pada kerugian secara ekomoni. "Kerugian ekonomi di Indonesia lebih parah dibandingkan negara lain", ungkap Ketua Umum ISPI, Yudhi Guntara. Masalah penanganan AI di Indonesia juga disuarakan oleh Ketua Umum PDHI, Wiwiek Bagdja, "Deptan yang harus menetapkan penanggulangan penyakit AI di peternakan, bukan departemen lain". Lebih jauh Wiwiek juga menyayangkan, karena profesi dokter hewan selama ini kurang dilibatkan. Kewenangan Veteriner (kedokteran hewan) berada di eselon II sehingga jangkauannya sangat terbatas. Pemerintah perlu segera melakukan perbaikan sehingga penanganan AI bisa lebih baik. Bustanul Arifin, Ekonom INDEF yang menjadi pengamat peternakan juga mengamini. Menurutnya hirarki dari keputusan dan kebijakan perlu segera dibenarkan.
Merry, wakil peternak dan penjual ayam buras di Jakarta mengatakan kebijakan pemerintah untuk memusnahkan unggas itu sangat menzalimi para peteranak. Pasalnya berdasar realitas yang terjadi di lapangan, petugas dengan alasan hendak memeriksa kerap kali merampas ayam. Baik ketua PINSAR, Hartono maupun ketua GOPAN, Tri Hardiyanto berharap koordinasi antara gubernur dan jajarannya bisa terjalin dengan baik. Jangan main asal sweeping, asal sita dan mengobrak-abrik peternakan. Fenomena ini sangat menghawatirkan, nantinya pemerintah hanya mendapatkan hasil peternakan unggas terbasmi sementara virus flu burung masih tetap ada.
*** ***
ULTAH ke 7 TROBOS
Reuni Akbar Insan Peternakan
“Berbekal pengalaman dan kebersamaan, bangun TROBOS yang berkarakter”. Seuntai kalimat penuh optimisme dan pengharapan itu menjadi tema yang mengiringi acara tujuh tahun TROBOS yang berlangsung di Cibubur awal November lalu.
Lebih dari 140 undangan yang hadir pada saat itu bersama dengan segenap pimpinan dan karyawan TROBOS bernyanyi, seraya bertepuk tangan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Tumpeng nasi kuning turut menjadi saksi kebahagiaan TROBOS. Ya, genap 7 tahun sudah TROBOS melangkah, mengambil sedikit peran dalam pembangunan peternakan dan perikanan negeri ini. Tidak hanya sekedar gagah-gagahan atau main berani-beranian, TROBOS memiliki tanggung jawab untuk melakukan perubahan demi meningkatkan kualitas, kuantitas serta efektivitas pelayanan, penyampaian dan penyebarluasan informasi. Demikian disampaikan drh Iswandari, Pemimpin Harian TROBOS saat memberikan sambutan di awal acara.
Tumbuh dan berkembang berkat dukungan dari banyak pihak, “tumpeng kebahagiaan” pun secara simbolis diserahkan oleh pimpinan TROBOS kepada perwakilan asosiasi peternak unggas. Mereka adalah Tri Hardiyanto, ketua GOPAN (Gabungan Peternak Ayam Nasional), Eddy Wahyudi wakil dari PINSAR Unggas (Pusat Informasi Pasar) dan drh Djody H.S, ketua PPUB (Persatuan Peternak Unggas Bersatu).
Terkenang Wahyudi
Di tengah meriah kebahagiaan perayaan para tokoh peternakan, ingatan pun tak dapat ditahan akan seorang sosok yang selama ini selalu hadir di antara mereka. "Biasanya momen seperti ini selalu ada pak Yud", celetuk seorang peserta mengenang almarhum Wahyudi Mohtar, Pemimpin Redaksi (Pemred) TROBOS yang telah berpulang ke rahmatullah 17 Agustus lalu. Peserta tampak larut dalam haru yang terbalut kerinduan mengenang kebersamaan dengan almarhum Wahyudi Mohtar, saat sebuah slide video sederhana ditayangkan. Film berdurasi 10 menit persembahan dari Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (IMAKAHI) ini, kembali menampilkan kesederhanaan, loyalitas, komitmen dan kedekatan Wahyudi dengan para pelaku peternakan termasuk mahasiswa. Tak sedikit peserta, kolega, sahabat dan keluarga yang hadir pada saat itu “dipaksa” menitikkan air mata.









