Kiprah Trobos



 

 

Gebrakan Indonesia di ILDEX Bangkok 2012
Trobos bertindak sebagai penanggung jawab "Paviliun Indonesia" sekaligus penanggung jawab rombongan
 

Banjir berkepanjangan akhir tahun lalu itu seolah tak menunjukkan jejaknya sepanjang keberadaan TROBOS dan rombongan di Bangkok medio Februari lalu. Sebanyak 30 orang dari unsur pemerintah, pelaku usaha, asosiasi dan media tergabung dalam bendera TROBOS Tour - ILDEX Bangkok 2012 tuntas menggenapkan projek pameran dan konferensi peternakan serta beberapa rangkaian kegiatan lainnya.

Pameran ILDEX Bangkok 2012 diselenggarakan NCC Exhibition Organizer Co., Ltd (NEO) bekerjasama dengan VNU Exhibition Europe (Belanda), berlangsung 8 – 9 Februari lalu di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC) Bangkok dan mengusung tema “Bringing International Technology to Satisfy Local Need”.

Paviliun Indonesia
Tak sekadar hadir sebagai pengunjung, dalam pameran kali ini Indonesia berpartisipasi sebagai peserta (exhibitor). Bahkan, dengan  tema “Indonesia Expertise For Animal Health And Productivity” tampilan paviliun Indonesia tampak menonjol diantara booth yang ada.

Paviliun dengan gapura bermotif batik ini diisi beberapa perusahaan asal Indonesia dan unit balai milik pemerintah yang siap melebarkan pasar ekspornya. Peserta tersebut adalah PT Caprifarmindo Laboratories, PT Medion, Pusat Veterinaria Farma (Pusvetma), PT IPB Shigeta Animal Pharmaceuticals, PT Greenfields Indonesia, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, serta 2 media agribisnis Tabloid Agrina dan Majalah TROBOS.

Keberadaan paviliun Indonesia didukung oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP), Kementerian Pertanian RI serta Kedutaan Besar RI di Bangkok. Dan bertindak sebagai penanggung jawab paviliun sekaligus penanggung jawab rombongan adalah TROBOS.

Dukungan suksesnya mempromosikan produk peternakan Indonesia di mata pelaku usaha Thailand datang dari berbagai pihak. Pada acara pembukaan tampak Primanto Hendrasmoro, Deputy Chief of Mission KBRI hadir mewakili Duta Besar Republik Indonesia di Bangkok dan Seketaris Direktorat Jenderal P2HP Kementerian Pertanian, Yasid Taufik  mewakili Dirjen P2HP. Sementara Dubes RI Lutfi Rauf hadir dan menyambangi paviliun Indonesia pada hari kedua. Pujian sempat terlontar dari Lutfi yang menilai paviliun disiapkan dengan baik.

Mempertemukan Asosiasi 2 Negara
Di hari pertama pameran, dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) dan Animal Husbandry Association of Thailand (AHAT). Representasi asosiasi perunggasan Indonesia hadir menyaksikan penandatanganan. Antara lain Don P Utoyo (Ketua FMPI), Achmad Dawami (Ketua Umum Arphuin, Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia), Rakhmat Nuriyanto (Ketua Umum Asohi, Asosiasi Obat Hewan Indonesia), Desianto Budi Utomo (Sekjen GMPT, Asosiasi Produsen Pakan Indonesia), Ricky Bangsaratoe (Sekjen Pinsar, Pusat Informasi Pasar Unggas), Chandra Gunawan (Sekjen GPPU, Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) dan Kuswoyo (Sekretaris GOPAN, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional).Kerjasama yang memayungi asosiasi peternakan dua negara ini meliputi pertukaran informasi,  promosi, dan penelitian bersama.  

Di hari kedua,Asohi juga mengadakan pertemuan dengan AHPA (Animal Health Product Association of Thailand), menindaklanjuti MoU di 2010. “Saling tukar informasi mengenai kesehatan hewan, regulasi, investasi dan kerjasama lain untuk kemajuan industri obat hewan di kedua negara,” jelas Rakhmat.

Rangkaian Kunjungan
Beberapa perwakilan asosiasi perunggasan di sore hari pertama pameran diterima Duta Besar RI di KBRI yang terletak di jantung kota Bangkok. Dalam pertemuan tersebut Dubes menunjukkan dukungannya kepada pelaku perunggasan Indonesia. “Adalah tugas kami untuk mempromosikan Indonesia di Thailand, termasuk menjadi sales agent. Kalau ada yang mau ekspansi ke sini, jangan segan untuk berkordinasi dan  kami siap untuk membantu,” ujar Pak Dubes penuh semangat.

Tak kalah seru, rombongan TROBOS Tour – ILDEX Bangkok mengunjungi  "Royal Chitralada Projek". Menjadi nilai lebih, karena hanya orang atau pihak tertentu yang diizinkan masuk lokasi tersebut. Tempat ini adalah kompleks projek riset Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej. Dibangun 1961 dengan luas istana 4 km2, sebagian lahannya diperuntukkan projek pertanian demi mengembangkan dan menyejahterakan perekonomian rakyat Thailand.

 

TROBOS Gelar Outlook Perikanan 2012 :
Membedah Industrialisasi Perikanan Budidaya
 

Pengembangan komoditas perikanan budidaya unggulan menjadi produk-produk bernilai tambah yang berorientasi pasar

Beberapa tahun terakhir, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menempatkan sub sektor perikanan budidaya sebagai primadona pembangunan perikanan nasional. Hal ini tidak terlepas dari besarnya potensi perikanan budidaya yang belum digali dan dimanfaatkan secara optimal.

Disisi lain akuakultur Indonesia saat ini juga membutuhkan sentuhan industrialisasi dalam berbagai aspek. Industrialisasi yang dimaksud meliputi dukungan kebijakan, infrastruktur, permodalan, teknologi, dari hulu sampai hilir. Konsep ini dibahas lebih mendalam dalam acara seminar Outlook Perikanan yang bertema “Industrialisai Perikanan: Peluang dan Tantangan Bagi Usaha Budidaya” di di Hotel Menara Peninsula Jakarta (18/1).
Seminar yang diadakan untuk yang keempat kalinya ini menghadirkan Men KP (Menteri Kelautan dan Perikanan) Sharif Cicip Sutardjo sebagai keynote speaker sekaligus membuka seminar. Acara tahunan ini terselenggara atas kerjasama TROBOS dengan Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT).

Dalam sambutannya Cicip mengemukakan, konsep Industrialisasi kelautan dan perikanan sendiri merupakan sebuah proses perubahan sistem produksi hulu dan hilir. Tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah, produktivitas, dan skala produksi sumberdaya kelautan dan perikanan, melalui modernisasi yang didukung dengan arah kebijakan terintegrasi antara kebijakan ekonomi makro, pengembangan infrastruktur, sistem usaha dan investasi, Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), serta SDM (Sumber Daya Manusia) untuk kesejahteraan rakyat.

Catatan Kinerja 2011
Berdasarkan data KKP, produksi perikanan budidaya menunjukkan grafik positif berupa kenaikan signifikan, dari produksi sebesar 4,78 juta ton pada 2010 meningkat menjadi 6,97 juta ton pada 2011. Dalam presentasinya, Ketut Sugama Direktur Jenderal Perikanan Budidaya menyatakan pada 2012 perikanan budidaya diharapkan menyumbang lebih dari 50 % pencapaian target nasional.

Menurut Ketut, pencapaian produksi paling besar yaitu untuk budidaya ikan kerapu yang mencapai 12,4 ribu ton atau 138 % dari target 9 ribu ton pada 2011. Secara umum komoditas perikanan budidaya (seperti rumput laut, ikan patin, lele, mas, nila, dan gurami) produksinya lebih tinggi dari 2010. Hanya untuk komoditas udang (vannamei dan windu) terlihat angka produksi yang lebih rendah yaitu pada 2010 mencapai 375 ribu ton, sementara sampai Oktober 2011 hanya 259 ribu ton.  Ketut optimis menargetkan angka produksi budidaya di 2012 akan mencapai 9,4 juta ton.

Menyoroti kinerja perikanan 2011, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri yang hadir sebagai pembicara menuturkan, saat ini masih sekitar 805 tambak rakyat d ikawasan pantura dalam keadaan mangkrak di Pantura (Pantai Utara Jawa). “Revitalisasi tambak udang jangan hanya tambak modern saja tetapi juga tugas pemerintah juga merevitalisasi tambak rakyat,” tegasnya. Tidak hanya itu, pengelolaan, pengolahaan produk perikanan juga harus diimbangi degan ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern.

 

Indonesian Poultry Club 30 Nov 2011
Angka Supply-Demand Jujur, Industri Terukur


Menuju industri perunggasan yang profesional dan terukur (predictable) diperlukan data yang terang

Pembenahan data riil industri perunggasan nasional menjadi kebutuhan mendesak. Perusahaan-perusahaan pembibitan (breeding) melalui GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) bersama pemerintah sudah waktunya menampilkan angka supply – demand dengan transparan. Untuk menuju industri perunggasan yang profesional dan terukur (predictable), data tersebut harus terang ibarat buku yang terbuka sehingga dapat dibaca dan dianalisa secara objektif oleh semua pelaku.

Poin ini menjadi salah satu inti diskusi diskusi Indonesian Poultry Club (IPC) dengan topik “Harga ayam dan telur berfluktuasi, salah siapa?” yang digelar TROBOS di Jakarta (30/11). Data yang “remang-remang” selama ini diakui hampir semua narasumber sebagai sebab babak belurnya harga produk unggas, terutama broiler, sepanjang tahun ini.

Transparansi data menjadi simpul penting yang harus diurai, karena kejadian over supply kerap menjadi pemicu hancurnya harga live bird (broiler hidup). Ketua FKPMI (Forum Komunikasi Perunggasan Makassar Indonesia), Wahyu Suhaji antara lain menunjukkan gejala yang terjadi di wilayahnya. “Pertumbuhan produksi DOC oleh perusahaan breeding tidak seimbang dengan pertumbuhan kandang di level budidaya komersil (pembesaran – red),” tuturnya saat diberi kesempatan bicara oleh moderator, Achmad Dawami.

Dari pengamatan Wahyu, pasokan DOC baik lokal maupun asal Pulau Jawa yang membludak mendorong kecenderungan fenomena kepadatan dipaksakan sampai angka yang tidak masuk akal. Atau masa istirahat kandang dipangkas sampai pada titik yang ekstrim, tersingkat sepanjang sejarah broiler di Makassar. Ia mengkritik produsen DOC dan pakan yang terus membujuk peternak untuk serakah.

 

Dari Gelar Seminar  TROBOS tentang Penyakit ND 'Baru'
Virus ND Genotipe VII Baru, Biang Kerok Kasus ND Terkini


Potensi virus ND genotipe VII baru sebagai calon bibit vaksin lebih baik ketimbang La Sota


Kasus New Castle Disease (ND) pada unggas yang merebak sepanjang 2009 – 2011 dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia, penyebabnya didominasi oleh virus ND genotipe VII generasi baru. Ini terungkap dalam seminar “Menyelamatkan Peternak dari ND Geno 7B”, hasil kerjasama TROBOS dan ADHPI di Jakarta (24/11). Virus ND genotipe VII adalah virus asli Indonesia dengan tingkat keganasan tinggi (velogenik). Gejala yang ditimbulkan dikenal dengan istilah VVND (Very Virulen ND) atau ND dengan keganasan tinggi.

Dijelaskan Prof I Gusti Ngurah Mahardika, hasil identifikasinya menunjukkan genotipe ini memiliki perbedaan susunan asam amino dengan genotipe VII yang ada sebelumnya. “Hasil DNA sequencing menunjukkan kasus ND di lapangan terkini didominasi virus genotipe VII baru, angkanya di atas 95%,” virolog dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Bali ini menyodorkan hasil identifikasi virus ND terkini. Keterangan ini seolah memberikan jawaban atas pro dan kontra yang berkembang di kalangan dokter hewan praktisi perunggasan, tentang keberadaan virus ND genotipe VII baru.

Isu ini ramai dibicarakan para pelaku di lapangan, dan sampai menjelang akhir tahun perdebatan itu masih hangat. Karena jarak genotipe ini sangat jauh dari virus ND genotipe I atau II, yang merupakan seed (bibit) vaksin yang selama ini beredar di pasaran. Dalam presentasinya, Manajer Produksi & Pengawas Keswan CV Satwa Utama Group, Nuryanto bahkan menyebut kecocokan virus lapang ini dengan seed vaksin La Sota (genotipe II) hanya 20%.

Jauhnya jaraknya genotipe virus lapang dengan seed vaksin komersial ini diyakini sebagian kalangan menjadi biang pencetus wabah di banyak wilayah. Membuat tak habis pikir, karena wabah menyatroni peternakan kendati sudah menerapkan vaksinasi lengkap, bahkan pengulangannya (booster) cenderung makin kerap. Ditengarai ketidakcocokan ini menjadi sebab tingkat protektivitas tidak maksimal, sehingga vaksin pun “jebol”.

Seed Lapang Lebih Baik
Anehnya, hasil uji laboratorium terhadap ayam yang divaksin dengan vaksin La Sota dan diuji tantang dengan virus lapang, hasilnya menunjukkan 100% protektif. Meski demikian, hasil ini dipertanyakan oleh sebagian peserta seminar, karena fakta di lapangan menunjukkan banyak wabah berujung pada kematian dan kerugian kendati sudah divaksin.

Terhadap ini, Mahardika mengatakan, vaksin dengan starin lama (genotipe I dan II) maupun genotipe VII baru memberikan hasil protektif. Namun, solusi alternatif bagi peternak untuk mengendalikan ND saat ini adalah menggunakan seed baru dari lapang untuk vaksin. Mahardika tegas membenarkan, potensi virus ND genotipe VII baru sebagai calon bibit vaksin lebih baik ketimbang La Sota. “Meskipun membutuhkan kajian lebih lanjut,” sambungnya.
Sementara itu, dalam presentasinya, Prof Wayan Teguh Wibawan menekankan perlunya peternak kembali pada kaidah budidaya yang benar. “Back to basic!” serunya berpesan. Vaksinasi bukan segalanya, dan tak akan berarti tanpa perbaikan tatalaksana pemeliharaan dan manajemen kesehatan. Meskipun, Wayan tak menampik indikasi adanya virus ND genotipe VII baru.

Biosekuriti, satu yang disebut Wayan sebagai prioritas. “Biosekuriti adalah tindakan penting yang berpengaruh sangat besar terhadap pencegahan penyakit masuk ke wilayah peternakan,” kata Wayan. Selain itu ia menyebut istirahat kandang, dan memastikan proses vaksinasi dilakukan pada ayam sehat secara tepat dari persiapan vaksin sampai aplikasinya. Berikutnya, ayam dicegah dari hal-hal yang menyebabkan imunosupresif (stres tinggi, kualitas pakan buruk, padat, ventilasi kurang, dll).

Peternak Harus Diselamatkan
Kejadian ND hampir 2 tahun ini demikian luar biasa, membuat aspek kesehatan hewan industri perunggasan tanah air cukup kalang kabut. Dialami broiler, layer ataupun breeder, dan terjadi pada peternakan yang sudah menerapkan program vaksinasi lengkap. Kerugian yang diderita pun tidak kecil.  Sebagaimana dipaparkan Nuryanto, peternak sangat berharap segera ada solusi dari kasus yang berkepanjangan dan sampai hari ini ancaman itu masih berlangsung. “Peternak bener-bener dibuat pening, bahkan frustasi dengan kasus ini,” keluh Nuryanto menyuarakan derita rekan seprofesinya. 

Berbagi pengalaman, Nuryanto, menunjukkan kerugian yang dialami beberapa kandangnya yang terkena kasus ND. Salah satu yang nyata, disebutnya, biaya kesehatan hewan yang meliputi obat, vaksin dan zat kimia menjadi meningkat. Pada keadaaan normal, biaya ini hanya berkisar 2% dari total biaya produksi. Tetapi akibat serangan ND angkanya membengkak menjadi sekitar 8%.

Selain itu yang disebut Nuryanto, tingkat kematian meningkat, konversi pakan (FCR) membengkak dan harga pokok produksi (HPP) pun melonjak. Data hasil pengamatan rentang Januari – Juni 2011 yang ditampilkannya berbunyi, FCR pada ayam tanpa kasus berkisar 1,56 – 1,618 dan melonjak menjadi 1,573 – 2,755 pada ayam dengan kasus ND.

Wayan pun menggarisbawahi perlunya kerja keras dan cepat dari berbagai pihak (industri, ilmuwan,  praktisi dan pemerintah) untuk secara nyata memberikan solusi yang tepat dalam penanganan kasus ND di lapangan. Kerugian yang diderita peternak akibat meluasnya wabah ini sudah demikian berat.  Kepentingan menyelamatkan peternak harus menjadi prioritas semua pihak, di atas kepentingan-kepentingan yang lain.

 

Semarak TROBOS Golf Tournament 2011


Turnamen ini dapat mendorong berkembangnya industri peternakan dan perikanan yang sehat, tangguh dan berdaya saing melalui olahraga

Pagi itu cuaca di kawasan Sentul Bogor cukup bersahabat mendukung berjalannya acara TROBOS Golf Tournament (TGT) 2011 di Permata Sentul Golf dan Country Club (22/11). Tak kurang dari 100 orang pelaku usaha peternakan dan perikanan ikut serta paga gelaran tahunan yang sudah diselenggarakan untuk ke empat kalinya oleh Majalah TROBOS.

Dalam sambutannya, Fitri Nursanti, Pemimpin Umum TROBOS mengatakan, TGT 2011 merupakan satu rangkaian dari perayaan ulang tahun TROBOS ke 12. “Penambahan dan penguatan jejaring sosial diharapkan dapat terbangun dari kegiatan ini, sehingga secara tidak langsung turnamen ini dapat mendorong berkembangnya industri peternakan dan perikanan yang sehat, tangguh dan berdaya saing melalui olahraga,” ujar Fitri.

Seperti tahun sebelumnya, peserta TGT 2011 datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti wilayah Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi), Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, serta Jawa Timur. Peternak ayam ras dari kawasan Priangan Timur (Tasikmalaya dan Ciamis) tercatat sebagai peserta terbanyak. Turnamen tahun ini jadi lebih semarak dengan kehadiran para pelaku usaha perikanan.

Turnamen dimulai dengan ditandai pemukulan bola golf pertama oleh Syamsir Siregar, mantan Kepala BIN (Badan Intelejen Nasional). Turnamen yang berlangsung sepanjang 06.30 – 12.00 WIB ini terbagi menjadi 3 flight (kelompok) yakni flight A, B, dan C, yang memutari 18 hole golf. 

Sistem penilaian TGT 2011 menggunakan sistem “Struck Play”. TGT 2011 kali ini memperebutkan piala dengan kategori Best Gross Overall, Best Nett Overall, Best Nett I Flight A, Best Nett II Flight A, Best Nett III Flight A, Best Nett I Flight B, Best Nett II Flight B, Best Nett III Flight B, Best Nett I Flight C, Best Nett II Flight CB, Best Nett III Flight C, Longest Drive dan Nearest to The Pin.

Prestasi para peserta yang berhasil menyabet predikat juara yang dilambangkan melalui “Keris”. Dengan demikian diharapakan melalui piala-piala tersebut, baik secara keseluruhan maupun secara personal masing-masing mengandung pesan idealisme cinta terhadap budaya Indonesia.
Penyelenggaraan TGT 2011 pun semakin meriah dengan disedikannya berbagai hadiah. Tak kurang 115 buah hadiah langsung dibagikan untuk peserta. Termasuk 14 buah grand prize berupa 2 unit DVD, 2 unit telepon genggam, 1 unit kulkas, 2 unit juicer,  dan 1 unit coffe maker, 1 unit home theater, dan tak ketinggalan 4 unit stik golf. Tak hanya itu kemeriahaan TGT 2011 pun dimeriahkan dengan hadiah Great Grand Prize berupa sepeda motor matic yang dimenangi oleh Paulus D, peserta dari PT. Citra Ina Feedmill.

 

 

 

 

Juara TROBOS Golf Tournament 2011
1.    Best Gross Overall     : Yuli Santoso
2.    Best Nett Overall        : Erick Salim
3.    Best Nett Flight A    
       a.    Best Nett I        : Wihadi
       b.    Best Nett II         : Nusantara Purba
       c.    Best Nett III        : Stanis Budiman
4.    Best Nett Flight B    
       a.    Best Nett I        : Rudi Eka
       b.    Best Nett II        : Frans Kurnianto
c.    Best Nett III        : Suwandi
5.    Best Nett Flight c    
       a.    Best Nett I        : Armansyah
       b.    Best Nett II        : Agus Wiranto
c.    Best Nett III        : Hendi
6.    Longest Drive         : Yuli Santoso
7.    Nearest to The Pin    : Munawaroh
8.    Best Try            : Dany Kusmanto

 

Kiprah TROBOS pada Gelar Thailand Labs 2011
Belajar dari Tekad Thailand  Menjadi Basis Ristek Asean

Gelar Thailand Labs berlangsung 5 – 7 Oktober lalu , dan didukung penuh oleh Kementerian Sains dan Teknologi, Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand dan asosiasi-asosiasi terkait. Ladda Mongkolchaivivat, General Manager NEO menyatakan keyakinannya gelaran ini mampu menjadi mimbar bagi perusahaan-perusahaan peserta mengembangkan pasarnya ke negara-negara Asean.

Thailand Labs 2011 adalah debut NCC Exhibition Organizer (NEO) yang berkolaborasi dengan VNU exhibitions (Belanda) dalam penyelenggaraan pameran khusus peralatan laboratorium dan sains. Meski dalam soal penyelenggaraan pameran dan konvensi lainnya, pengalaman NEO dan VNU yang juga penyelenggara VIV dan ILDEX ini sudah tidak dipertanyakan lagi.

Ia melaporkan, sekitar 60 perusahaan berpartisipasi dengan membawa 400 – 500  merek dagang alat – alat laboratorium dan sains. Dan pameran dikunjungi sekitar 5 ribu orang, mulai dari pelaku usaha, peneliti, instansi laboratorium, institusi pendidikan, sampai masyarakat umum.
Pameran dirangkai dengan beberapa seminar terkait yang mendatangkan para pakar Ristek sebagai pembicara, baik dari Thailand maupun dari Vietnam, Indonesia, dan Filipina. Dari Indonesia, penyelenggara bekerjasama dengan TROBOS menghadirkan Dr Kamaluddin Zarkasie, Vice President Director PT IPB Shigeta Animal Pharmaceuticals yang membawakan makalah “The Role of Laboratory Equipment to Develop and Produce  Reliable Combined Vaccine Based on Reverse Genetic Technology, Case Study from Indonesia Perspective”.

Selain Kamaluddin, TROBOS membawa rombongan yang terdiri atas Endhang Pudjiastuti, Kepala PusVetma Surabaya; Widiyanto Dwi Surya, dari Create; serta Susi Ekawati dari PT Mitsu Element Indonesia.  Rombongan TROBOS juga berkesempatan mengunjungi Betagro Science Center (BSC) yang terletak di kawasan Thailand Park Center, di Klong Luang Provinsi Pathumthani, utara Bangkok. Pusat riset ini di bawah bendera Betagro Group, perusahaan agribisnis peternakan terpadu (integrator) terbesar kedua di Thailand setelah Charoen Pokphand.

Lima area garap BSC adalah pangan, bioteknologi, budidaya peternakan, produk kesehatan hewan, dan riset umum lainnya. Tak hanya melayani kebutuhan usaha peternakan dan pengolahan pangan dari grup, BSC juga melayani pemeriksaan dan analisa laboratorium untuk sampel dari pihak luar, baik pelanggan maupun umum (30 %).

Pusat riset dilengkapi dengan peralatan canggih dan sudah mengantongi sertifikat ISO 9001:2008 dan ASO/IEC 17025:2005. Dengan ini, Betagro  berkontribusi dalam meningkatkan kualitas proses produksi peternakan di Thailand, sesuai standar keamanan pangan. Mewujudkan Thailand sebagai “Kitchen of the World”.

 

Memaknai 12 Tahun TROBOS

 

Memadu-imbangkan idealisme dan kepentingan bisnisadalahyang menafasi TROBOS hingga masuk tahun ke-12, wujud apresiasi dan penghormatan pada Wahyudi Mohtar, sang pendiri

Mengusung visi sebagai media pendorong dan barometer kemajuan agribisnis peternakan – perikanan Indonesia yang sehat dengan didukung jurnalisme bermoral serta beretika, TROBOS menjadi satu-satunya majalah yang hingga kini peduli terhadap agribisnis peternakan dan perikanan. Dalam perjalanannya, TROBOS senantiasa berupaya memadu-imbangkan kepentingan bisnis dan idealisme. Itu pula visi dan misi yang diemban dan sekaligus menafasi TROBOS sebagai yang pertama di khasanah pers Indonesia, hingga memasuki tahun ke-12 di 2011 ini.

Sejak lahir 15 Oktober 1999, sebagai media interaksi yang profesional, TROBOS konsisten menyebarluaskan informasi dan sekaligus berusaha berperan sebagai penyuluh yang merangsang tumbuhnya pelaku bisnis di bidang peternakan dan perikanan. Di sisi lain mengawal kebijakan dan mendorongnya agar berpihak pada tumbuh besarnya industri peternakan dan perikanan nasional.

Dengan langkah penuh keyakinan, TROBOS ikut serta mendorong  agribisnis dan agroindustri  agar berjaya sebagai sumber pertumbuhan optimal ekososbud (ekonomi – sosial – budaya); baik dalam hal menarik devisa, maupun dalam hal terciptanya ketahanan pangan.

Karakter ini berusaha terus dijaga sebagai apresiasi dan penghormatan para punggawa yang ada di dalamnya kepada pendiri TROBOS yang direpresentasikan oleh sosok almarhum Wahyudi Mohtar. Wartawan sejati yang juga tokoh peternakan nasional ini sejak membidani kelahiran TROBOS memegang kuat komitmen idealismenya, menjunjung jurnalisme bermoral dan beretika di satu sisi, dan berkontribusi positif pada pembangunan peternakan dan perikanan tanah air di sisi lain.

Mengembangkan kapasitas TROBOS dengan dibarengi menjaga karakter tersebut adalah wujud dari masing-masing komponen TROBOS dalam mengabadikan nama Wahyudi Mohtar di sejarah peternakan dan perikanan nasional.

Dalam peran aktifnya kepada pembangunan agribisnis peternakan dan perikanan, TROBOS bertekad memenuhi kebutuhan stakeholder. Sasaran utama sejak kelahirannya tak hanya menjadi bacaan dan rujukan bagi peternak, petambak, petani ikan maupun nelayan. Tetapi juga para industriawan serta pebisnis peternakan dan perikanan, kalangan akademisi dan peneliti, birokrat maupun politisi di pusat maupun di daerah. Adalah keinginan TROBOS untuk menjadikan semua elemen itu terhubung dalam sebuah jaringan yang berujung pada sinergitas untuk pembangunan peternakan dan perikanan nasional.

Dan dengan posisi dan jangkauan wilayah serta pangsa pembacanya tersebut, TROBOS sekaligus menjadi media promosi yang ampuh untuk memasarkan berbagai komoditas dan jasa produk agribisnis dan agroindustri.

 

Dari VIV Asia Forum : Networking Trip2011

Peternakan Thailand Makin Melaju

 

Negeri ini diperkirakan pada 2011 memproduksi 1,144 miliar ekor broiler, dengan ekspor menyentuh volume 450 ribu metrik ton

Tren bisnis kesehatan hewan (animal health) yang meliputi obat hewan, vitamin, premiks dan vaksin hewan di Thailand senantiasa naik dari tahun ke tahun. Bahkan di 2011, angkanya diperkirakan meningkat signifikan dibandingkan angka di 2010. Dari nilai nominal yang sekitar 17 juta Baht Thailand tahun lalu, diprediksi bakal melonjak menjadi lebih dari 23,5 juta Baht tahun ini. Dari nilai tersebut, khusus besaran bisnis vaksin mendekati angka 3 juta Baht.

Gambaran terkini bisnis kesehatan hewan di Negeri Gajah Putih di atas dipaparkan oleh Presiden Animal Health Product Association (AHPA) Thailand, Chatchawan Orawannukul di hadapan puluhan wartawan di Hotel JW Marriott, Bangkok awal bulan lalu (7/9). Dalam acara konferensi pers yang merupakan rangkaian dari VIV Networking Trip 2011 itu, Orawannukul menuturkan kenaikan tersebut sejalan dengan tren pertumbuhan bisnis peternakan di Thailand, terutama babi dan ayam.

Dengan grafik dan tabel, Orawannukul menunjukkan estimasi besaran produksi broiler negaranya pada 2011 akan mencapai 1,144 miliar ekor, dengan ekspor menyentuh volume 450 ribu metrik ton (MT). Angka ekspor ini menjadikan negeri seribu pagoda ini sebagai salah satu pemasok utama ayam untuk dunia. Sementara populasi layer di 2011 sekitar 44 juta ekor, dan babi disebutnya bakal menembus 14 juta ekor (atau ton?). “Selain skala usaha yang bertumbuh, sistem beternak di Thailand semakin bergeser dari backyard farm ke intensive farm. Tak heran bila bisnis kesehatan hewan tumbuh mengikuti berkembangnya bisnis peternakan,” kata Orawannukul. Disebutnya, _____ % dari budidaya ternak di Thailand kini menerapkan sistem komersial bukan lagi backyard.

Selain Orawannukul, menjadi pembicara dalam konferensi tersebut adalah Vice President of Thai Veterinary Medical Association Under The Royal Pratonage, Kitti Supchukun yang mengulas peran bioteknologi dalam bisnis peternakan. Sementara dari pihak pemerintah hadir dan memberikan sambutan, Director Bureau of Livestock Standards & Certification, Sorraris Thaneto.

Promosi VIV Asia

Kegiatan tur VIV Networking Trip 2011, digagas dan diselenggarakan bertujuan menyampaikan kepada khalayak umum –terutama pelaku industri peternakan— 3 hal. Pertama adalah menyampaikan keberhasilan VIV Asia 2011, kedua mempromosikan VIV Asia 2013 dan ketiga mempromosikan ILDEX Bangkok 2012. Ini disampaikan Teerayuth Leelakajornkij, Senior Project Manager  NCC Exhibition Organiser Co Ltd (NEO), penyelenggara VIV Asia. “Tujuan besarnya adalah membangun industri peternakan di kawasan regional Asia,” tutur Leelakajornkij.

VIV Asia merupakan hajatan terbesar industri peternakan di Asia dan rutin digelar tiap 2 tahun di Bangkok. Terakhir, pameran akbar itu berlangsung 9 – 11 Maret 2011 dan berikutnya akan digelar pada 13 – 15 Maret 2013. Leelakajornkij dalam sambutannya melaporkan hasil penyelenggaraan VIV Asia 2011 yang mendulang sukses. Gelaran Maret lalu dikunjungi hampir 30 ribu pengunjung asal 101 negara. “Jumlah pengunjung meningkat 39 % dari angka 2009,” imbuh Leelakajornkij. Sementara pameran diikuti 682 peserta dari 46 negara, dengan 246 diantaranya adalah peserta baru. Disebut pula oleh dia, Indonesia masuk dalam 5 besar negara asal pengunjung terbanyak setelah Thailand, India, Vietnam dan Filipina.

Selain VIV Asia, NEO merupakan penyelenggara pameran ILDEX. Dan setelah sukses dengan ILDEX di India dan Vietnam, NEO untuk pertamakalinya akan menggelar ILDEX Bangkok, pada 8 – 9 Februari 2012. Sedikit berbeda dengan VIV Asia yang cakupannya meliputi semua aspek industri terkait peternakan, ILDEX Bangkok lebih mengkhususkan pada teknologi pakan dan nutrisi, serta kesehatan hewan.

Tumbuh besarnya industri peternakan Thailand, sebagaimana dikatakan Sorraris Thaneto, tidak ingin sendiri. “Kami selalu menghendaki bergandengan tangan dengan negara tetangga,” katanya. Dan melalui tur ini, ia yakin peserta menemukan informasi dan pengetahuan baru tentang bagaimana para pelaku industri yang terkait dengan proses produksi ternak di Thailand mengembangkan teknologi, khususnya kali ini adalah produsen peralatan (equipment) dan produk kesehatan hewan. “Dapat disaksikan, teknologi yang dikembangkan dan standar yang diaplikasikan demikian maju,” imbuh dia. Ini menjadi bukti nyata kuatnya Thailand dan kesiapannya untuk memajukan industri peternakan.

Bisnis Kesehatan Hewan

Kegiatan tur sepanjang 5 – 7/9 ini diikuti 12 jurnalis dari 7 negara Asia, antara lain Indonesia, Korea, Filipina, Malaysia, Bangladesh dan India masing-masing 1 peserta, serta 6 peserta tuan rumah, Thailand. Perjalanan yang padat agenda dan sarat dengan informasi ini diawali dengan menyambangi perusahaan farmasetikal (produsen obat hewan dan premiks) di hari pertama. Hari berikutnya diterima asosiasi produsen peralatan kelengkapan peternakan (equipment) –Thailand Livestock Equipments Assosiation (TLEA)— serta mengunjungi tempat wisata, dan di hari terakhir mengikuti konferensi pers.

Better Pharma, adalah salah satu perusahaan yang berkontribusi besar pada bisnis obat hewan di Thailand. Perusahaan ini bernaung di bawah bendera Betagro Group, sebuah perusahaan terpadu (integrated) di bidang peternakan di Thailand. Lokasi pabrik ada di Provinsi Lopburi, berjarak tempuh 3 jam ke arah utara dari Bangkok. Mulai produksi pada 2006 dan menempati lahan seluas 18.500 m2.

Menurut keterangan Chaiyan Disilpat, Senior Plant Manager, tiap tahunnya Better Pharma memproduksi 14,760 ton dengan ratusan jenis produk. Antara lain water soluble powder, penicillin powder, solution, feed additive antibiotic, feed additive anticoccidial, desinfectan & cleansing. Selain itu disebut juga vitamin dan mineral premiks, acidifier, enzim dan probiotik, capsaicin dan suplemen. Perusahaan lokal ini disebut-sebut sebagai produsen kedua terbesar di negeri tersebut.

Ditegaskannya, Better Pharma hanya memproduksi produk-produk berkualitas tinggi dengan standar kualitas dan keamanan international. Berbagai sertifikat disebutnya telah dikantongi, antara lain GMP, GMP DLD Thailand, ISO 14001:2004, ISO 9001:2008, HACCP, ISO/IEC Guide 17025 FAMIQS, TIS 18001 dan OHSAS 18001. Dan didukung dengan sistem dan fasilitas canggih untuk memastikan jaminan kualitas dan keamanan produk.

Karena itu Better Pharma dipilih sebagai salah satu tujuan tur. “Better Pharma merupakan salah satu representasi kemajuan teknologi animal health di Thailand. Dan karena pihak Betagro terbuka, maka kami memfasilitasi komunitas peternakan baik lokal dan regional melalui pers untuk berbagi informasi dan kemajuan teknologi yang dimilikinya,” jelas Leelakajornkij.

Industri Peralatan Peternakan

Sementara pertemuan dengan TLEA berlangsung di B International & Technology Co Ltd (B Inter), perusahaan produsen farm equipment, yang juga merupakan Betagro Group. Kepada rombongan, Presiden TLEA, Cherdchai Sinsarng memaparkan asosiasi tersebut yang baru saja dibentuk. “Dibentuk 24 Juni 2010, dan untuk pertamakalinya bergabung di VIV Asia Maret 2011 lalu,” kata Sinsarng yang sekaligus General Manager B Inter.

Dikatakannya, anggota TLEA saat ini tercatat 24 dari total 34 perusahaan di Thailand. Produk-produk dan layananannya untuk sistem peternakan baik broiler, breeder, itik dan babi. Meliputi peralatan sistem pendingin, peralatan pakan dan minum otomatis, silo dan sistem penghantarannya, sistem kontrol suhu, pengelolaan limbah dan biogas, serta perkandangan (closed house).

Usai presentasi, rombongan diberi kesempatan melihat langsung proses produksi di pabrik B Inter. Beberapa inovasi terbaru dari perusahaan ini dipaparkan secara bergantian oleh  Sinsarng dan Ajit Upadhya, Sales Engineer-Export Division. Salah satunya adalah pengendali suhu (temperature controller) otomatis dengan sistem digital. Menurut dia, sampai hari ini Thailand masih mengimpor alat sejenis tersebut. “Kami berhasil mengembangkan alat ini, dan rencananya dirilis tahun depan. Harganya bisa 50% dari harga produk impor,” jelasnya. Selain B Inter, peserta juga mendapat penjelasan dari produk-produk sejenis dari perusahaan lain yang menjadi anggota TLEA.

Menutup tur, rombongan diperkaya pengetahuannya akan kekayaan budaya dan sejarah Negeri Gajah Putih dengan mengunjungi Ancien City. Di tempat wisata ini peserta menyusuri miniatur istana yang pernah ada di Thailand. Yang ternyata kebudayaannya banyak kemiripan dengan Indonesia. Mulai dari wayang golek, wayang kulit, gamelan, arsitektur rumah sampai makanan dan dolanan anak-anak, dua negara ini memiliki kesamaan.

 

TROBOS Gelar Seminar Up Date Avian Influenza di Indonesia

"AI, Pekerjaan Rumah yang Belum Rampung"
 

Keterbatasan pendataan perunggasan pada sektor 1, 2, dan 3 menjadi hambatan dalam penanggulangan AI. Kasus pada sektor 4 cenderung bersifat endemis dan sektor 3 cenderung sporadis. Sedangkan sektor 1 dan 2 tidak diketahui secara pasti

Ruang seminar di IPB International Convention Center, siang itu 3 Mei 2011, dipadati tidak kurang dari 153 peserta seminar yang bertajuk ”Up Date Avian Influenza di Indonesia”. Mereka berasal dari pemerintah, dinas peternakan daerah, perusahaan, dan universitas hadir.  Seminar yang diselenggarakan oleh TROBOS dan Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) itu menghadirkan Prof Charles Rangga Tabbu dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta; Prof Chairul Anwar Nidom dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya; dan Dr Nining Hartaningsih dari OFFLU (organisasi kumpulan para pakar flu burung dunia).

Kian merebaknya serangan penyakit AI atau flu burung pada unggas akhir-akhir ini melatarbelakangi diselenggarakannya seminar tersebut. Data Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menunjukkan, terhitung sejak Januari 2011 hingga minggu ke-3 April 2011, jumlah kasus pada unggas sektor 4 (peternakan tradisional) sebanyak 782 kasus. Belum lagi ditambah dengan kasus pada unggas sektor 3 (peternakan komersil skala kecil) yang belum terdata dengan baik, serta pada unggas sektor 1 (pembibitan) dan 2 (peternakan komersil skala besar) yang cenderung ”dirahasiakan”, jumlahnya jumlahnya disinyalir jadi lebih banyak.

Dalam pemaparannya, Charles Rangga Tabbu menjelaskan, distribusi kasus AI pada unggas sudah mencapai 32 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. Sejak November 2010, kasus AI terus meningkat dan puncaknya pada Maret 2011. Menurutnya, dari kasus-kasus itu, penyebabnya masih virus Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) subtipe H5N1 dan terkait dengan curah hujan yang tinggi. Diperburuk lagi, tambahnya, dengan aspek manajemen, terutama biosekuriti yang tidak optimal, serta sistem distribusi unggas yang mengabaikan konsep biosekuriti.

Sementara terkait tingginya jumlah kasus AI, Charles juga menganalisa kasus AI berdasarkan sektornya. Menurutnya, sektor 4 cenderung bersifat endemis dan sektor 3 cenderung sporadis. Sedangkan sektor 1 dan 2 tidak diketahui secara pasti. ”Akibatnya pengambilan kebijakan penanggulangan AI yang komprehensif sulit dilakukan karena faktor tak lengkapnya data,” ia menengarai imbasnya.

 

Trobos Goes to Campus Universitas Negeri Jenderal Soedirman

Antusiasme Entrepreneurship Penerus Sang Jenderal
 

Membangkitkan jiwa kewirausahaan mahasiswa peternakan Universitas Negeri Jenderal Soedirman. Sebab persoalan utama sarjana peternakan adalah tidak dimilikinya soft skill bisnis bahkan pada bidang keilmuannya sendiri.

Nama besar Jenderal Soedirman tersemat gagah pada nama kampus yang terletak di lereng Gunung Slamet ini. Kesan semangat dan antusiasme tinggi terpancar dari sorot mata lebih 150 peserta yang menyesaki ruangan auditorium Fakultas Peternakan Universitas Negeri Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed).

Ini merupakan hasil  panitia Trobos Goes To Campus (TGC) Mei 2011 dalam mempersiapkan segala sesuatunya. “Ternyata dimulai tepat waktu. Luar biasa,” kata drh Hari Wibowo, Ketua Asosiasi Peternak Ayam Jogjakarta yang didaulat menjadi pemateri utama entrepreneurship(kewirausahaan)TGC kali ini.

Membawakan presentasi berjudul “Jiwa Entrepreneur Sarjana Peternakan” Hari Wibowo mengawali paparannya dengan mengisahkan bisnis perunggasan tersegmentasi secara baik. “Dan semuanya menjadi lahan bisnis,” terangnya.

 

Peluang Sarjana Peternakan

Masa Depan sarjana peternakan bagi mahasiswa Fakultas Peternakan digambarkan oleh Hari Wibowo ibarat jalan lurus namun penuh tanjakan dan cekungan. “Melewati jalan seperti itu akan mudah tergagap jika tiba-tiba dari balik tanjakan muncul kendaraan lain,”tuturnya. Maka mahasiswa Fapet harus mempersiapkan ‘peta’ jalan masa depan sejak dini, mau jadi karyawan atau berwirausaha.

Pada kesempatan itu Hari melontarkan pertanyaan sederhana : “Apa kendalanya sehingga sarjana peternakan tidak berbisnis?” tanyanya singkat. Pertanyaan ini segera dijawab dengan koor,”Tidak punya modal”. Dengan pasti Hari menjawab, “Bagaimana kalau saya beri modal Rp 50 juta, apakah siap?”.

Dari pertanyaan ringkas itu disimpulkan persoalan utama sarjana peternakan adalah tidak dimilikinya soft skill bisnis bahkan pada bidang keilmuannya sendiri. “Umumnya tidak antisipatif, tidak mempersiapkan samasekalimasa depannya bisnis sehingga ketika lulus tergagap dan mengkambinghitamkan ketiadaan modal,”tegasnya.

Mengakhiri paparannya, Hari menerangkan untuk memiliki berpenghasilan Rp 5 juta/bulan, seorang sarjana peternakan cukup memelihara broiler (ayam pedaging)5.000 ekor dengan modal Rp 1.200/ekor. “Sangat optimis angka itu bisa diraih, asal soft skill beternaknya disiapkan terlebih dahulu,” tandas alumnus IPB ini. 

Setelah itu, lanjut Hari, ia bergabung dengan kemitraan broiler terpercaya dan berusaha agar ayamnya mendapat indeks performans excellent di atas 300. Rp 1.200/ekor adalah modal yang harus disediakan peternak untuk biaya operasional, karena Sapronak(Sarana Produksi Peternakan)sudah 100% dicukupi oleh inti. “Ke depan memang eranya peternak plasma, karena kunci suksesnya hanya di soft skill saja. Sementara pertarungan pasar yang tak pasti sudah diurusi oleh inti,”pesannya kepada peserta.

 

45 Tahun Unsoed

TGC kali ini menurut Dekan Fapet Unsoed Dr Ir Achmad Shodiq M Agr disatukan dalam rangkaian lustrum, peringatan 45 tahun berdirinya kampus ini. “Kami sedang berusaha menuju World Class Civic University atau kampus kerakyatan berkelas dunia, yang peduli pada masalah-masalah pemberdayaan rakyat,” katanya saat memberipidato pembukaan TGC.

Sebagai konsultan pemberdayaan ekonomi masyarakat, Shodiq menegaskan perlunya akses pada sumberdaya modal sebagai pilar keberhasilan entrepreneurship. “Tentu setelah pembekalan soft skill yang cukup,”katanya.

Model bisnis perunggasan broiler telah mencakup semua itu karena adanya kucuran Sapronak dari inti, minimalnya modal dan kecilnya risiko yang harus ditanggung  peternak/calon peternak mitra. Sehingga peternak tinggal memaksimalkan kemampuannya dalam budidaya saja.

Acara ini diakhiri dengan pemaparan seputar majalah TROBOSoleh Wakil Pemimpin Redaksi TROBOSTrobos  drh Heni Widiastuti. Pada kesempatan itu juga dibagikan voucher berlangganan  dan beberapa bundel majalah TROBOSkepada penanya-penanya terbaik di tiap sesi. 

Acara ditutup dengan pertanyaan oleh Puji Agung Sanjaya, Moderator dan Ketua BEM Fapet Unsoed: Siapa yang masih mau menjadi karyawan? Ternyata tak satupun peserta mengacungkan jarinya. Ketika pertanyaan diubah menjadi:   Siapa mau jadi wirausaha ? Semuanya mengacungkan jarinya sembari tersenyum lebar. Selamat, wahai para penerus semangat sang Jenderal! (TROBOS/Nuruddin)

 

Outlook Perikanan Budidaya 2011
"Tahun Pertama Menuju 353"

Produksi perikanan 2010 mencapai 10,83 juta ton atau meningkat 10,29 % dibandingkan 2009 yang sebesar 9,82 juta ton. Target produksi perikanan sampai 2014 dipatok sebesar 22,39 juta ton terdiri atas pasokan dari perikanan budidaya 16,89 juta ton. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dalam sambutannya pada acara Outlook Perikanan 2011 yang diadakan (7/2) di Hotel Borobudur, Jakarta.
Lebih lanjut pada acara tahunan yang diadakan Majalah TROBOS dan GPMT (Asosiasi Produsen Pakan Indonesia) itu Fadel mengatakan, tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mentargetkan sasaran produksi ikan sebesar 12,26 juta ton. Angka ini meningkat 13 % dari produksi tahun lalu yang sebesar 10,85 juta ton. ”Peningkatan produksi tersebut diharapkan diikuti dengan kenaikan tingkat konsumsi ikan,” kata Fadel.
Data KKP menunjukkan hingga akhir 2010, tingkat konsumsi ikan mencapai 30,47 kg/kapita, meningkat dibandingkan konsumsi tahun 2009 yang sebesar 29,08 kg/kapita. Fadel menambahkan, upaya peningkatan mutu produk perikanan budidaya untuk mendongkrak konsumsi sudah dilakukan. Untuk itu, KKP menerapkan sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) bagi para pembudidaya ikan. Sampai 2010 sebanyak 650 unit usaha perikanan budidaya sudah disertifikasi.
Selain menghadirkan Fadel sebagai pembicara utama, acara yang mengambil tema ”Tahun pertama menuju 353” itu juga menghadirkan pakar pemasaran Kafi Kurnia yang membahas tentang tantangan dan strategi pemasaran produk perikanan. Selain itu juga menghadirkan pembicara Ketua AP5I (Asosiasi Pengusaha Pengelolaan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia) Thomas Darmawan, Ketua SCI (Shrimp Club Indonesia) Iwan Sutanto, Ketua Divisi Akuakultur GPMT Denny D. Indradjaja, serta Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Ketut Sugama.   

*** 

 

Menjelang VIV Asia dan Aquatic Asia 2011

"TROBOS Mewakili Indonesia pada Press Tour VIV Asia"
 

Tur jurnalis digelar untuk mempromosikan VIV Asia dan Aquatic Asia 2011

Gelaran pameran peternakan dan perikanan tingkat dunia VIV Asia dan Aquatic Asia 2011 sudah tinggal kurang dari 90 hari lagi. Tepatnya pada 9 – 11 Maret 2011, acara 2 tahunan itu akan diselenggarakan di BITEC Bangkok Thailand. Serangkaian kegiatan promosi menjelang acara besar itu pun telah diadakan oleh VNU Exhibitions dan NEO (N.C.C. Exhibition Organizer) selaku penyelenggara.
Salah satu kegiatan itu yaitu press tour (tur jurnalis/wartawan)  yang diadakan pada 6 – 9 Desember lalu di Bangkok. Pada acara tersebut diundang sekitar 30 jurnalis mewakili berbagai media bidang pertanian, peternakan, dan perikanan dari sejumlah negara diantaranya Indonesia, China, Vietnam, Korea, India, Inggris, Belanda, Bangladesh, Jepang, Thailand, dan Malaysia. Majalah TROBOS termasuk salah satu media yang diundang mewakili Indonesia.
Rangkaian acara tur jurnalis itu dimulai dengan acara konferensi pers terkait penyelenggaraan VIV Asia dan Aquatic Asia 2011 . Pembicara yang dihadirkan antara lain  General Manager N.C.C. Exhibition Ladda Mongkolchaivivat, Senior Manager Thailand Convention & Exhibition Bureu Kanokporn Damrongkul, Bureu of Livestock Standards & Certification Thailand Pennapa Matayompong, dan sejumlah pembicara dari perusahaan peserta pameran. Bertindak sebagai moderator yaitu Project Manager Asia-Pacific VNU Exhibitions Ruwan Berculo.
Dalam presentasinya Ladda mengatakan, tema utama pameran akbar itu seperti ajang sebelumnya soal kemajuan teknologi peternakan dan perikanan. Acara tersebut akan diikuti tidak kurang dari 650 perusahaan bidang peternakan dari 45 negara yang akan memamerkan produk inovatifnya. Perusahaan-perusahaan tersebut bervariasi mulai dari penyedia pakan ternak hingga penyedia teknologi pengolahan produk peternakan.
“Jumlah peserta pameran itu meningkat 15 % dibandingkan dengan pada pameran VIV Asia 2009,” katanya. Ade sekitar 120 perusahaan yang baru pertama kali ikut VIV Asia 2011. Masih kata Ladda, diperkirakan lebih dari 22.000 orang yang berasal dari seluruh dunia akan berkunjung dalam pameran tersebut.

 

 

11 Tahun TROBOS
Gelar Seminar dan Turnamen Golf

Dua acara digelar berturut-turut sebagai rangkaian peringatan Ulang Tahun ke-11 Majalah TROBOS. Pada 1/12 diselenggarakan Outlook Perunggasan “Menjadi Pemenang dalam Percaturan Perunggasan 2011” di Hotel Grand Kemang, Jakarta dan Trobos Golf Tournament III berlangsung 2/12 di Emeralda Golf and Country Club, Cimanggis – Bogor.
Outlook Perunggasan dibuka oleh Djajadi Gunawan, Direktur Kesamvet dan Pasca Panen yang mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. Diskusi menghadirkan pembicara Direktur Perbibitan, Ditjennakeswan, Abubakar; ahli penyakit unggas, Wayan Teguh Wibawan; Direktur Bank Agris, Paulus Setiabudi; dan Budiarto Soebijanto, Vice President PT Japfa Comfeed Indonesia. Acara direspon positif, ditandai penuhnya ruangan seminar. Setidaknya panitia mencatat 130 orang  mengikuti acara tersebut.
Mengemuka dalam diskusi, perunggasan tanah air masih saja terbenam dalam masalah-masalah klasik yang seakan tidak ada jalan keluar. Antara lain persoalan bagaimana membesarkan “kue” industri perunggasan, sehingga energi pelaku bisnis diarahkan untuk saling membesarkan bukan saling gontok atau saling rebut. Kunci besarnya adalah promosi. Penting untuk kembali merevitalisasi pokja (kelompok kerja) perunggasan yang pernah menggagas promosi beberapa waktu lalu. Pokja akan menjadi motor penggerak pengurai keruwetan bisnis perunggasan. Soal lain yang dinilai mendesak adalah transparansi angka produksi, terutama produksi dan peta kebutuhan DOC. Persoalan klasik fluktuasi DOC kembali menyeruak sepanjang 2010 dengan tingkat keparahan yang tinggi.
Hasil rangkuman diskusi hari itu akan dirumuskan menjadi sebuah rekomendasi, dan akan disampaikan langsung oleh TROBOS kepada Menteri Pertanian dan Dirjenakeswan.

Golf
Sementara itu, sebanyak 113 peserta mengikuti turnamen golf keesokan harinya. Peserta ini  berasal dari  Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Jogjakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Turnamen dimulai dengan ditandai pemukulan bola golf berasap oleh Syamsir Siregar, mantan Kepala BIN (Badan Intelejen Nasional).
Best Gross Over All dalam pertandingan ini diraih oleh Hendra Permana dari PT Citra Ina Feedmill/Guyofeed, sementara Best Nett Over All disabet Dally dari Bintaro. Berbagai doorprize pun dibagikan pada para peserta, termasuk 1 sepeda motor, 2 LCD TV, 2 lemari es, dan masih banyak lagi.
Di sela acara penyerahan hadiah, dilakukan penggalangan dana untuk membantu korban letusan Gunung Merapi, Jogjakarta melalui lelang stik golf. TROBOS/heni, arief

Daftar Nama Pemenang “TROBOS Golf Tournament” :
Kategori   Nama   Total Handicap Nett
Best Gross Over All  Hendra Permana    77 6  71
Best Nett Over All  Daly   78 9  69
Flight A (1-20)
Best Nett 1   Iwan Setiawan  84 14  70
Best Nett 2   Antoni Purba  86 16  70
Best Nett 3   SB Lee   87 17  70
Flight B (21 up)
Best Nett 1   Ming Ay   92 21  71
Best Nett 2   Rudy Eka  94 22  72
Best Nett 3   William Denis  94 22  72
Longest Drive   Sujarwo   243 m
Nearest to the Pin  Johansyah  280 cm

***

TROBOS Goes To Campus Universitas Gajah Mada (UGM)
Sajikan Kiat Entrepreneur Sukses Tanpa Modal

TROBOS sambangi kampus Fakultas Peternakan dan Fakultas Kedokteran Hewan Univeritas Gadjah Mada
 
Hentakan dinamis lagu Black Superman mengiringi keceriaan 150 peserta yang memenuhi ruangan Auditorium Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.  Penuh semangat mereka memperhatikan aba-aba dan menirukan gerakan tinju ala Muhammad Ali yang dicontohkan sang trainer. Sorak sorai dan tawa riang memecah suasana formal yang sebelumnya begitu kental.
Begitulah gambaran suasana acara Trobos Goes to Campus  bertajuk “Siap hadapi dunia kerja : Mau menjadi karyawan atau Wirausaha?”, digelar pada Minggu 17 Oktober 2010, hasil kerjasama Majalah TROBOS (T-Com) dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) dan Fakultas Kedokteran Hewan (UGM). Sukses acara ini tak lepas dari dukungan Japfa Group dan PT Sierad Produce.
Para peserta terlarut dalam sajian kewirausahaan aktual yang dibawakan motivator, Ir Agus Wahyudi – Ketua Umum Perhimpunan Industri Peternakan Ayam Ras  (PINTAR) Lampung.  “Seorang wirausahawan harus senantiasa melayani, membangun relasi, pantang menyerah, dan cakap memanfaatkan peluang. Tak layak mengeluh tak punya modal. Karena dengan memanfaatkan 4 attitude tadi, semuanya akan teratasi,” ungkapnya sambil menceritakan kisah suksesnya membangun berbagai bisnis tanpa keluar modal.
 Selanjutnya Agus membagi 3 jenis entrepreneurship (kewirausahaan) yang harus dikenali. “Pertama business entrepreneurship, kedua executive entrepreneurship, dan ketiga social entrepreneurship,” kata Agus. Menurut pengusaha yang aktif di Indonesian Marketing Association (IMA) ini, ketiganya harus ada dalam diri entrepreneur sejati. Sebab jika hanya business saja, maka orang hanya berfikir untung. Jika hanya executive saja maka meskipun ia sangat mandiri dalam mengambil keputusan bisnis tetaplah ia seorang karyawan. Selanjutnya, social entrepreneurship biasanya diterapkan oleh LSM (Lembaga Sosial Masyarakat).
Tak terasa waktu 2 jam telah habis untuk pemaparan. Dengan semangat, peserta meminta acara diperpanjang 30 menit untuk sesi diskusi. Jumlah penanya pun akhirnya mesti dibatasi. Pada diskusi ini pula panitia membagikan hadiah doorprize dan voucher berlangganan TROBOS selama 3 bulan.

Dekat dan Selaras
 “Sejak awal berdirinya, manajemen TROBOS sangat dekat dengan kampus. Semoga acara ini bisa menjaga hubungan mesra antara TROBOS dengan dosen maupun mahasiswa, kini dan selamanya,” sambut Fitri Nursanti P, Pemimpin Umum TROBOS. Kedekatan itu bukan hanya dalam menyampaikan informasi semata, namun juga dalam membuka networking dan supporting kegiatan mahasiswa sebagai penerus dunia peternakan Indonesia. “Kami senang sekali, sampai sekarang aktivis Imakahi (Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia) dan Ismapeti (Ikatan Senat Mahasiswa Indonesia) masih sering bertandang ke TROBOS,” ungkapnya terharu.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Fapet UGM Ir. Edi Suryanto, M.Sc., Ph.D mengemukakan even Trobos Goes to Campus ini selaras dengan keseriusan UGM dalam menggarap skill (keahlian) kewirausahaan bagi mahasiswa. Setiap tahun diharapkan 10% - 15% lulusan UGM mampu menciptakan lapangan kerja.
Keseriusan mencapai target itu diwujudkan melalui kucuran permodalan dalam Program Wirausaha Mahasiswa (PWM)  dari hibah Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) yang besarnya mencapai Rp 1 miliar/tahun. Dengan PWM ini mahasiswa bisa mendapat modal gratis. “Bahkan dua orang mahasiswa Fapet UGM berhasil meraih penghargaan Shell LiveWIRE di ajang Business Start-Up Awards 2010 yang digelar oleh PT Shell Indonesia bekerjasama dengan Kementrian UKM,” tutur Edi bangga.
Sementara itu,  Wakil Dekan Bidang Akademik, Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat
FKH UGM Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama menyatakan modal utama kesejahteraan bangsa adalah skill kewirausahaan. Dengan itu, kekurangan sumberdaya alam tidak menjadi persoalan. Wayan memberi contoh perusahaan obat Boehringer Ingelheim dari Jerman, namun mampu  menjadi nomor 2 terbesar di dunia. “Padahal negeri itu minim bahan baku obat-obatan. Mereka mengandalkan bahan baku dari Brasil dan Asia Tenggara – termasuk Indonesia. Yang kaya sebenarnya kita, tapi mereka yang mendapatkannya,” paparnya.

***

Trobos Goes to Campus Institut Pertanian Bogor (IPB)
Siap Hadapi Dunia Kerja : Mau jadi karyawan atau wirausaha ?