Inovasi
01 July 2008
Panaskan Dulu, Baru 'Sajikan'

Pemanasan terbukti tingkatkan kecernaan pakan dalam usus, hasilkan pertambahan bobot sapi di atas rata-rata

Kepulan asap membubung dari kompleks kandang penggemukan sapi milik Ilham Akhmadi, peternak muda dari Segoroyoso, Bantul, Jogjakarta. Di sudut kandang itu, tiga soblok (panci berbentuk tong) setinggi dada orang dewasa nongkrong di atas luweng (tungku besar) yang menyala, ditunggui dua orang pekerja. Seorang terlihat sedang mengaduk isi soblok  sambil bercanda riang.
Aktivitas tersebut bukannya memasak makanan ataupun minuman untuk karyawan. Mereka memasak bubur konsentrat pakan sapi yang terdiri atas kulit ari biji kedelai yang biasa dikenal dengan kleci, dicampur dengan dedak padi. Setelah mendidih isi soblok itu dipindahkan ke dalam ember ? ember besar. Pekerjaan itu wajib ditunaikan sebagai rutinitas di pagi hari.
Setelah uap tak lagi mengepul, dicampurnya adonan tadi dengan onggok basah (ampas pati ketela) dan cacahan ketela. Selanjutnya, segera campuran itu diberikan kepada 200 ekor sapi yang mulai terlihat tak sabar menanti sarapan pagi. Slurrpp... suara mulut sapi yang melahap habis pakan itu, sembari menggerak-gerakkan rahangya.

Genjot ADG
Metode yang dilakukan Ilham terlihat sangat sederhana, meski sedikit repot karena harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk memasak. Tetapi dengan formula itu, Ilham mengaku bisa mendapatkan ADG setidaknya 1,4 kg/hari untuk sapi berbobot kurang dari 350 kg. ADG 1,6 ? 1,8 kg/hari optimis diperoleh pada sapi berbobot 400 ? 450, bahkan untuk mendapatkan ADG diatas 2 kg/hari pada sapi berbobot 600 kg sangat mudah. Dengan demikian Ilham bisa menghemat waktu pemeliharaan dan mempercepat umur panen.
Selain ADG yang tinggi, Ilham juga berani menjamin rendemen karkas minimal 56%, setidaknya 4% lebih tinggi dari sapi hasil penggemukan biasa (52%). ?Termasuk pada sapi PO yang berbadan lebih kecil daripada sapi silangan,? tandasnya.

Manajeman Pakan
Untuk sapi seberat 350 ? 400 kg, Ilham memberikan ransum berupa 8 kg rebusan campuran kleci dan bekatul (rasio 1:1), onggok basah 10 kg, ketela cacah 5 kg, tetes tebu 3 sendok makan dan garam secukupnya. Kleci dan dedak direbus dengan air 60% sampai mendidih. Campuran ini diberikan 2 kali, pagi dan sore.
Hijauan hanya diberikan pada malam hari, setelah seharian sapi makan konsentrat. ?Kalau hijauan diberikan sebelum dikombor pagi, nafsu ngombornya kurang. Bila hijauan diberikan siang, maka sore hari nafsu ngombornya turun,?papar pemilik bendera Restu Bumi Fattening & Beef Supplier ini.

Dasar Ilmiah
Menurut Dr Ir Ali Agus DAA DEA, pakar nutrisi ruminansia Fapet UGM, metode yang dilakukan Ilham bisa diterangkan secara ilmiah. Intinya, pakan penggemukan ruminansia di Indonesia itu berasal dari limbah hasil pertanian. ?Kleci itu limbah dari penggilingan kedelai,?tegasnya. Ciri umum limbah seperti itu, mengandung serat kasar (selulosa, lignoselulosa dan hemiselulosa) yang tinggi. Molekul kompleks ini sebenarnya tersusun dari ikatan rantai panjang glukosa (ikatan 1,6 - beta glukosidik).
Secara alamiah, di dalam rumen serat akan dibongkar (degradasi) oleh mikrobia selulolitik menjadi molekul yang lebih sederhana, termasuk glukosa. Molekul sederhana ini akan disintesa oleh mikrobia untuk membuat asam-asam lemak dan protein, yang nantinya diserap usus halus.
Semakin mudah pakan didegradasi oleh mikrobia maka semakin cepat laju sintesa itu, nutrien yang diserap usus halus akan makin banyak pula. Sehingga pertumbuhan sapi pun semakin baik.
Tanpa perlakuan khusus, nilai kecernaan pakan rendah alias sulit didegradasi karena kuatnya ikatan 1,6 - beta glukosidik. Laju sintesa asam lemak dan protein pun lambat karena harus melalui tahap pemecahan serat di dalam rumen. ?Padahal seharusnya proses ini bisa ?dicicil? di luar, sebelum pakan diberikan kepada sapi,? papar Ali Agus.
Menurut Ali Agus cara yang umum dipakai untuk memecah ? atau setidaknya merenggangkan ? ikatan 1,6- beta glukosidik adalah dengan fermentasi dan pemanasan. Fermentasi memerlukan waktu lebih lama dan tempat khusus, sementara dengan pemanasan, peternak perlu mengeluarkan biaya bahan bakar.
Menurut penelitian, pemanasan mampu meningkatkan nilai kecernaan kleci hingga mencapai 90%, meningkat 25 ? 30 % dibanding jika diberikan apa adanya. Selain itu laju pencernaan pakan menjadi 4 jam, 2 jam lebih cepat dari umumnya. Hal ini disebabkan karena pakan lebih mudah dicerna. Dengan demikian sapi bisa makan dengan porsi lebih banyak dalam sehari.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Juli 2008