Inovasi
01 July 2009
Keramba Jaring Apung Anti-Lapuk

Dengan menyodorkan nilai lebih daya tahan lama, perawatan mudah dan ramah lingkungan, beberapa perusahaan berlomba mengenalkan bentuk baru KJA (Keramba Jaring Apung), wadah untuk budidaya ikan, baik air tawar maupun air laut. Kalau selama ini pembudidaya ikan terbiasa membuat KJA-nya dari bahan baku bambu dan kayu dan memanfaatkan drum sebagai pelampung, KJA jenis baru ini berbahan baku HDPE (High Density Polyethylene), sejenis plastik.
Menurut Direktur Pengelola PT Batam Usaha Marikultur (BUM), William Hadi Tarjanto, KJA tradisonal berbahan baku kayu dan bambu dari alam tidak ramah lingkungan. Dan penggunaan drum bekas mudah berkarat sehingga daya tahannya tidak bisa lama. ?KJA tradisional umurnya paling lama hanya 3 tahun, setelah itu perlu membuat yang baru,? ujar William kepada TROBOS medio Juni lalu di Jakarta. Belum lagi, tambahnya, apabila kayu lapuk, atau paku dan tali pengikat putus, diperlukan tambahan biaya perawatan dan menghabiskan waktu cukup lama untuk perbaikan. Artinya, sementara dalam masa perbaikan KJA tidak dapat digunakan.
Ikut menyoroti soal kelemahan KJA tradisional,  Presiden Direktur PT Gani Arta Dwitunggal (GAD), Budiprawira. Ia mengatakan, kayu, bambu dan drum dari KJA yang rusak bisa menimbulkan sampah.

Bisa Jadi Jaminan Kredit
Sebaliknya, KJA jenis baru yang ditawarkan keduanya, diklaim memiliki sejumlah keunggulan. Mulai dari daya tahan yang disebut bisa lebih dari 15 tahun, kemudahan perawatan, hingga bisa dijadikan jaminan untuk kredit di bank. Menurut William, tingginya daya tahan KJA modern ini karena menggunakan bahan baku HDPE yang terbukti mampu menahan sinar ultra violet. Selain itu bahan ini juga bebas korosi, pembusukan tidak beracun, anti alkali dan asam, serta bisa didaur ulang. ?Bahan baku HDPE praktis tidak memerlukan biaya perawatan karena tidak bisa lapuk,? katanya setengah berpromosi.
Daya apung dari KJA ini juga terbukti sangat tinggi. William mengklaim untuk satu unit KJA yang terdiri dari 4 lubang (masing-masing lubang berukuran 4 x 4 m) daya apung totalnya mencapai 14 ton. Kerangka KJA yang diproduksi PT BUM berbentuk kotak, berbeda dengan produksi PT GAD yang berbentuk bulat atau pipa. Dengan ukuran yang sama, KJA buatan perusahaan Budi punya daya apung sekitar 4,78 ton. 

Sistem sambungan kerangka KJA antara buatan PT BUM dan PT GAD juga terdapat perbedaan. William mengatakan, pihaknya memilih menggunakan sistem pengelasan pada sambungan kerangka karena daya rekatnya tinggi. Perusahaannya pernah mengembangkan tipe KJA yang banyak menggunakan mur dan baut pada sistem sambungan. Ternyata tidak bertahan lama, banyak pembeli yang mengeluhkan dalam waktu 3 sampai 4 tahun mulai banyak baut dan mur  yang berkarat dan lepas. ?Karena sekarang walau pun mur dan baut yang digunakan bermerk stanless steel (besi anti karat) namun umumnya hanya celupan saja tidak asli,? ujar William.

Berbeda dengan Budiprawira yang percaya dengan sistem penyambungan menggunakan baut dan mur. Ia mengklaim baut dan mur yang digunakan dalam merakit KJA terbuat dari stanless steel tipe 304 yang benar-benar asli dan biasa digunakan untuk membuat kapal laut. ?Selain daya tahan mur dan baut ini dijamin, sistem penyambungan ini lebih praktis, sehingga si pemilik KJA dapat dengan mudah membongkar pasang KJA sesuai kebutuhan tanpa harus mendatangkan teknisi khusus,? kata Budi.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Juli 2009