Inovasi
01 August 2009
Cerdik dengan Kawin Suntik

Hari jelang sore, ketika seekor ayam jago tenang dalam gendongan seorang operator. Tak sampai satu menit, setelah mendapat sedikit belaian, dari kloaka (anus) si ayam keluar semen yang segera dengan sigap oleh operator lain ditampung dalam botol mungil. Tindakan operator pun segera beralih pada seekor ayam betina, penghasil telur tetas. Cairan mengandung sperma yang ditampung tadi langsung disuntikkan melalui kloaka ayam betina. Selesai. Sederhana tampaknya, proses kawin suntik (inseminasi buatan/IB) setiap hari dilakukan pada ayam-ayam penghasil telur tetas milik Bambang Krista, peternak ayam kampung asal Bekasi.
Sore hari dipilih Bambang dengan alasan waktu tersebut para petelur sudah bertelur sehingga sperma yang dimasukkan ke saluran reproduksi dan menuju (membuahi) ovum tidak terhadang telur. Alhasil tingkat keberhasilan IB tinggi, yang diukur dari fertilitas. ?Kejadian telur infertil (tidak terbuahi-red) hanya 5 ? 6 %,? ujar Bambang. Angka ini ia dapat melalui candling (peneropongan) di umur 18 hari saat penetasan. Telur dengan embrio tumbuh di dalamnya berarti fertil, sementara yang kosong artinya infertil. Ia sempat menyebut angka infertilitas pada kawin alami 14 ? 15 % masih umum.

Masih Jarang Meski Tidak Baru
Sejak tahun lalu memutuskan beralih jalur dari bisnis broiler ke ayam kampung petelur, Bambang mengaku memanfaatkan kawin suntik untuk percepatan populasinya. Sementara umumnya, peternak produsen DOC (ayam umur sehari) ayam kampung masih mengandalkan kawin alami. ?Bahkan ayam ras juga jarang yang menerapkan,? tambah pria selain pernah beternak broiler juga lama bekerja di produsen DOC (pembibitan ayam). Meskipun ia mengakui IB bukanlah teknologi yang baru. ?Tapi aplikasi masih minim. Mungkin kebanyakan masih meragukan keberhasilannya,? ujarnya lagi. Bambang juga mengakui, ilmu IB diperolehnya sewaktu bekerja di perusahaan pembibitan tersebut.
Dari angka awal 400 petelur dengan 10 pejantan, dalam setahun kini populasinya mencapai 8000 dengan 400 jantan. Tapi tak semuanya hasil produksi sendiri, sebagian penambahan diperoleh dengan membeli. Dari  6000-an petelur yang masa produksi, 500 ekor terpilih sebagai penghasil telur tetas, yang mendapat perlakuan IB. Sementara sisanya penghasil telur konsumsi yang tidak membutuhkan pembuahan sperma.
Dari 500 betina tersebut, dengan asumsi tingkat produksi 60% maka tiap minggunya ia punya 2100 butir telur tetas. Dijelaskannya, 500 butir diantaranya dimasukkan mesin penetas untuk replacement (regenerasi) petelur afkir. Selain itu apabila ada permintaan DOC, maka jumlah yang ditetaskan ditambah sesuai pesanan. Sisanya, dijualnya dalam bentuk telur tetas atau yang biasa dikenal secara luas dengan HE (hatching egg). Ia menambahkan informasi, HE dilepas dengan harga Rp 1750/butir, sementara DOC Rp 3500 ? 4000 per ekor.
Ia pun tengah bersiap memproduksi DOC dan HE untuk ayam pedaging. ?Mau merambah kesana karena permintaan sangat besar,? ia mengemukakan alasan. Target produksi dipatok 5000 ekor/minggu. Dan untuk itu ia sudah memesan alat tetas baru otomatis kapasitas 5000 telur. Selama ini pihaknya mengoperasikan 7 alat tetas manual, masing-masing kapasitas 500.

Efisiensi alias Menghemat
Bambang menegaskan, penerapan metode IB tidak lain bertujuan efisiensi. Beberapa keunggulan disebutnya sebagai alasan memilih IB. Tidak diperlukan pejantan berstamina tinggi untuk mampu mengawini banyak betina. Bambang menyebut, semen tiap 1 pejantan dapat membuahi (mengawini) 30 sampai 40 betina. Pasalnya, semen yang dikoleksi biasa sekitar 5 ml kemudian diencerkan menggunakan garam fisiologis (NaCl fis) dengan perbandingan 1: 10. Sehingga diperoleh larutan kurang lebih 50 ml. ?Cukup untuk setidaknya 30 ekor,? sebut Bambang. Sementara secara alami, rasio dalam kandang koloni biasanya 1 pejantan untuk 6 betina.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Agustus 2009