Inovasi
01 January 2010
Mendongkrak Kecernaan Singkong

Oleh: Cecep Hidayat*
Peneliti di Balai Penelitian Ternak, Departemen Pertanian

Wacana penggunaan singkong atau cassava menjadi bahan baku sumber energi dalam pakan unggas kerap mencuat, meski sifatnya timbul tenggelam. Nilai lebih komoditas ini sebagai alternatif pengganti jagung, karena jumlahnya yang oleh sebagian pihak dinilai cukup berlimpah. Data BPS 2008 menyebutkan, produksi Indonesia akan umbi yang dikenal juga dengan nama ketela pohon ini tiap tahunnya meningkat terus, dan saat ini mencapai angka 20,8 juta ton per tahun. Dengan angka tersebut, Indonesia pantas dinobatkan sebagai negara penghasil cassava terbesar dunia.
Pemanfaatan singkong paling populer di negeri ini adalah untuk bahan baku industri tepung tapioka. Dan limbahnya, berupa kulit singkong dan onggok (ampas) sampai hari ini belum dimanfaatkan dengan baik. Tak jarang, limbah ini dituding sebagai polutan bagi lingkungan sekitar pabrik industri berbasis singkong. Limbah kulit menempati kisaran 16% dari total bobot singkong, sementara apabila diolah menjadi tepung tapioka, akan didapat limbah onggok sekitar 11,4% dari berat ubi kayu, nama lain dari singkong. Pemanfaataan limbah ini sebagai pakan ayam, cukup lama menjadi topik hangat penelitian.
Selama ini, persoalan pemanfaatan kulit singkong dan onggok sebagai bahan baku pakan unggas adalah  rendahnya kandungan protein (4,8% untuk kulit dan 2,2% untuk onggok), tingginya serat kasar (21,2% untuk kulit dan 31,6% untuk onggok), serta terdapatnya zat antinutrisi HCN (asam sianida). Bagi ternak ayam, serat kasar yang tinggi akan menjadi masalah bagi sistem pencernaannya. Hasil penelitian menunjukkan, keberadaan serat kasar yang tinggi dalam ransum memberikan dampak negatif terhadap performa produksi. Begitu pula dengan HCN yang bersifat racun bagi ternak yang mengkonsumsinya.
Tetapi masalah tersebut bukan berarti tak dapat ditanggulangi. Saat ini sudah ada beberapa teknologi yang mampu menjawab permasalahan itu. Salah satunya adalah teknologi fermentasi. Penelitian telah membuktikan, proses fermentasi dengan Aspergillus niger dapat meningkatkan kandungan protein kulit singkong dan onggok, serta menurunkan kandungan serat kasar, dan menurunkan/menghilangkan HCN.

Teknik Fermentasi
Secara teknis, proses fermentasi untuk onggok adalah dengan menambahkan campuran mineral yang terdiri atas urea, MgSO4, ZA ((NH4)2SO4), KCL, NaH2PO4 dan FeSO4, dan serbuk spora sebanyak 1 sendok makan (6-8 g) dalam tiap kg onggok. Plus penambahan air panas, untuk memperoleh kadar air akhir sebesar 60%. Adonan kemudian difermentasikan dalam baki-baki plastik, dan setelah 3-4 hari, setelah permukaan ditumbuhi miselium adonan pun bisa dipanen, dikeringkan dan digiling.
Sementara untuk kulit singkong, diawali dengan mencucinya sampai bersih dari kotoran yang menempel, dan dikeringkan sampai kering, kemudian digiling menjadi bentuk butiran kecil. Kulit singkong giling selanjutnya dicampur air bersih dengan perbandingan 1,2 : 1 kemudian dikukus. Pengukusan dilakukan selama 30 menit, dihitung mulai saat uap air keluar dari permukaan atas kulit singkong yang dikukus. Setelah terjadi gelatinisasi dan matang, diangkat lalu didinginkan. Substrat yang telah dingin lalu diberi urea dan garam mineral dengan perbandingan: satu kg kulit singkong matang ditambah 31,25 g (NH4)2SO4; 16,7 g urea; 7,19 g NaPO4.2H2O; 2,08 g MgSO4; 0,63 KCl; 0,31 g ferrosulphat dan 0,28 g CaCl2. Setelah urea dan mineral bercampur merata, spora jamur Aspergillus niger  diinokulasikan pada substrat sebanyak 1 g dengan konsentrasi spora 1012/g. Substrat berspora tersebut kemudian diletakkan dalam wadah persegiempat dari plastik yang berlubang terutama pada bagian dasarnya untuk membuang uap air yang terbentuk selama fermentasi. Fermentasi dilakukan pada ruangan bersuhu 32-330C dengan kelembaban 90% selama 3-4 hari, hingga miselium dari jamur A. niger menyebar merata dan berwarna putih. Produk ini kemudian dipotong-potong dan dikeringkan, lalu digiling sehingga hasil akhirnya berupa tepung.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Januari 2010