Inovasi
01 October 2010
Lele Makan Daun dari Gunung Kidul

Penambahan pakan daun pada pembesaran lele bisa menekan biaya pakan sampai 50%

Sugiyatno, katanya memperkenalkan diri. Pria paruh baya itu merupakan  pembudidaya lele asal Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul Jogjakarta. ?Kami ini hanya pembudidaya kecil-kecilan, skala rumah tangga,? tuturnya kepada TROBOS belum lama ini di Gunung Kidul.
Sejak 2008, kata Yatno begitu biasa disapa, di desanya telah tumbuh 14 kelompok pembudidaya lele baru, dengan anggota mencapai 300 kepala keluarga. Mereka pun membentuk  Kelompok Pembudidaya Ikan, dan menobatkan Yatno sebagai ketua. ?Luas kolam mereka rata-rata 3 x 5 m2, dengan kepadatan 50 ekor/m2. Kalau saya sendiri bisa 200 ekor/m2.. Produksinya kecil, baru 1 ? 2 kuintal per minggu,? kata Kepala Desa Pampang ini.
Budidaya yang dilakukannya memang sarat perjuangan karena ia tinggal di daerah kering dan kesulitan air. ?Kami menampung air hujan di kolam, dan terpaksa menggunakan pasokan air berbayar yang dikelola oleh desa,?ungkapnya.
Air yang ditampung selama penghujan, biasanya bertahan untuk 2 periode pemeliharaan. Sedangkan selama musim kemarau, ia mesti membeli air untuk kolamnya Rp 15.000/3 jam aliran (setara 10 m3) untuk untuk tiap petak kolamnya. Setiap 2 minggu, seiring bertambahnya umur lele, ia mesti menambah untuk 4 petak kolamnya.

Makan Daun
Menurut Yatno, menghadapi keterbatasan itu tak membuatnya menyerah. Ia memutar akal untuk bertahan. ?Air di tempat kami sudah menjadi faktor biaya. Maka kami harus bisa menekan biaya pakan, yang mencapai 60% dari total biaya produksi,? kata pria yang merintis  budidaya lele sejak 2007 ini.
Akhir 2009 lalu, Yatno berpikir untuk memberikan dedaunan berprotein kasar (PK) tinggi yang banyak tumbuh di pekarangannya, seperti daun lamtoro (PK 36,5%) dan daun turi (PK 27,6%). Namun pada perkembangannya, daun gliricidia, daun pepaya, bayam, kangkung dan daun ketela pun diberikan pada lele. Penambahan pakan daun ini bisa menekan biaya pakan 50%. ?Bahkan bisa lebih,? tegas pemilik 20 ribu ekor lele ini.
Dari pengamatan TROBOS, lele di kolam samping rumah Yatno memang betul-betul mau memakan dedaunan itu. Dengan rakus lele berumur 1 bulan itu menghabiskan daun lamtoro dan daun turi hingga hanya menyisakan rantingnya saja.  ?Lho, terbukti kan. Lele itu rakus sekali makan daun,? kata yatno bangga. Hanya saja, saat diberi daun pepaya lele terlihat turun kerakusannya. Tapi daun pepaya wajib diberikan setiap hari untuk membantu lele mencerna dedaunan itu.

Pola Pemberian
Pada lele berumur lebih dari 2 minggu (atau umur 16 hari) dari tebar, pakan daun-daunan diberikan siang hari, sebanyak-banyaknya. Daun-daunan itu tidak dilepas dari tangkai dan ranting?rantingnya. ?Lele juga bisa memilih. Daun yang berprotein tinggi seperti lamtoro dan turi akan lebih cepat habis. Dalam sekejap tinggal tangkai dan rantingya saja,? terang Yatno sembari memasukkan daun turi ke kolam. Setelah habis, ranting segera diangkat supaya tidak membusuk di kolam.
Menurut Yatno, pakan pellet tetap diberikan kepada lele, meski takarannya tidak banyak. ?Tergantung tujuan pemberian pakan daun ini, sekadar mengurangi biaya pakan pellet, atau memang mau menggantikan sebagian besar pelet. Kalau saya sendiri, sangat sedikit memberikan pelet,? paparnya.
Dalam sehari, setiap 6.000 ekor lele hanya diberi pellet 4 kg. Pelet diberikan pagi hari (jam 8.00 ? 9.00) sebanyak 1 kg, sekadar untuk mengganti energi untuk bergerak. ?Kalau terlalu pagi, lele belum mau makan,?tegasnya. Pemberian pakan pelet diulangi pada malam hari (jam 10.00 malam) sebanyak 3 kg untuk memberikan tambahan energi menghadapi suhu lingkungan yang mulai turun.
Selain itu, lele memang aktif bergerak mencari makan di malam hari. Maka malam hari lele harus diberi pakan supaya perutnya terisi sehingga tidak banyak bergerak, untuk mengurangi energi terbuang sehingga tidak menjadi daging. ?Manfaat lainnya, sambil memberi pakan kita bisa mengamati kondisi lele secara tepat,? tutur Yatno.
Menurut Yatno, lele yang diberi pakan daun memang cenderung kecil ukurannya dibanding lele yang diberi pakan pellet. ?Tapi dagingnya padat, sehingga kalau ditimbang berat juga,? katanya. Ia pun berharap lele makan daun ini bisa digolongkan menjadi lele organik, sehingga bisa dijual dengan banderol lebih tinggi daripada harga pasar lele pada umumnya.

Dibiasakan
Selama 2 minggu setelah tebar, lele hanya diberi pakan pellet. Maksudnya, untuk mengejar pertumbuhan sel-selnya secara optimal dan untuk menyesuaikan dengan pola pemeliharan sebelumnya. ?Selain itu ukuran mulutnya pun belum memungkinkan untuk memakan daun. Jangankan daun, pellet yang diberikan pun pellet starter yang butirannya kecil,?terang Yatno.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Oktober 2010