Inovasi
01 January 2011
Inkubator Susu Fermentasi Skala Kecil

Hanya dengan Rp 63.244 per hari bisa dihasilkan 16 liter yoghurt

Kotak dari kayu triplek itu hanya sebesar kulkas kecil. Tapi siapa sangka dari kotak berukuran 80 x 50 cm tersebut bisa dihasilkan yoghurt, minuman hasil fermentasi susu yang baik untuk kesehatan. Perancangan alat tersebut berawal dari hobi Edy Kemenady yang gemar mengkonsumsi minuman probiotik.
Edy yang merupakan Directur Research and Development Danone, kemudian berinisiatif mencoba mengkonsep alat pembuat yoghurt di rumahnya  dengan perangkat sederhana. Saat itu dia masih tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana Program Studi Magister Profesional Industri Kecil Menengah (PS MPI) Institut Pertanian Bogor (IPB).
Selanjutnya, bersama-sama dengan Prof. Dr. Ir. Musa Hubeis, MS, Dipl.Ing DEA dan Prof Dr.Ir. Fransiska R Zakaria, Msc yang merupakan peneliti IPB, Edy mengembangkan inovasi alat penghasil yoghurt tersebut agar lebih aplikatif. Inovasi ini kemudian diberi nama Inkubator Minuman Susu Fermentasi untuk Skala Industri Kecil.
Dijelaskan Musa yang menjabat sebagai Ketua Pascasarjana Program Studi Industri Kecil Menengah IPB, alat itu  merupakan hasil penelitian yang memang dikhususkan untuk pembuatan yoghurt skala industri kecil. Dengan harga Rp 3 juta untuk inkubator manual dan Rp 10 juta untuk inkubator semi otomatis, alat ini cukup terjangkau bagi para pengusaha kecil. Dengan kata lain, penggunaan alat ini akan membantu pengembangan industri kecil susu fermentasi yang kerap terkendala dana. 
Musa menyebutkan, penelitian ini merupakan pengembangan usaha ekonomi produktif berbasis komunitas, baik untuk perorangan maupun kelompok dengan bahan baku lokal  (susu segar) dalam meningkatkan pendapatan keluarga. “Alat produksi yoghurt tepat guna dibuat ringkas dan murah tetapi tetap menjaga  keamanan pangan,” tambahnya.

Pilihan Inkubator
Inkubator manual dan semi otomatis adalah dua pilihan alternatif yang diciptakan Edy, Musa, dan Fransiska. Dijelaskan Musa, inkubator semi otomatis  terbuat dari konstruksi kayu  yang di dalamnya dilapisi dengan kertas alumunium foil.  “Kertas ini fungsinya sebagai penyimpan panas dan diusahakan suhu di dalam inkubator berada pada kisaran 50oC,” tegasnya. Untuk menstabilkan suhu dalam ruangan, terpasang alat thermostat di bagian sisi kotak.
Harris Budilaksono, staf promosi Program Studi MPI IPB menerangkan cara kerja thermostat tersebut. Jika thermostat menunjukkan tombol hijau, berarti suhu masih di bawah 50oC. Tetapi jika sudah merah maka tandanya suhu dalam kotak sudah pas. Lebih lanjut ia mengingatkan untuk mengatur sirkulasi udara di dalam kotak agar tidak terlalu panas, ini diantisipasikan dengan memasang kipas dan lubang udara.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Januari 2011