Inovasi
01 April 2011
Pendeteksi Aflatoksin Made in Indonesia

Bisa mengektraksi 40 sampel sederhana sekaligus. Analisanya lebih cepat 15 menit dan hasilnya lebih sensitif serta spesifik daripada alat serupa buatan luar negeri

Di kalangan produsen pakan ternak, siapa yang tak kenal aflatoksin. Senyawa beracun yang berasal dari fungi/jamur (jenis kapang) ini nyaris selalu menjadi biang kerok kerusakan pakan baik fisik maupun kimiawi. Dan yang mengerikan, aflatoksin dikenal mematikan bagi manusia dan hewan!
Kadar aflatoksin yang tinggi dalam pakan akan berbuntut gangguan keracunan pada ternak. Tak hanya itu, efek berbahaya juga masih berlanjut bagi manusia yang mengkonsumsi produk ternak(daging, hati, dan susu) yang mengandung residu aflatoksin.
Celakanya, di daerah tropis seperti Indonesia, aflatoksin sangat mudah muncul.  Sebab daerah tropis merupakan rumah yang paling nyaman bagi tumbuh kembangnya kapang. Aflatoksin antara lain bisa ditemukan pada biji kacang-kacangan (kacang tanah, kedelai, dan bunga matahari), rempah-rempah (seperti ketumbar, jahe, lada, serta kunyit) dan serealia (seperti gandum, padi, sorgum dan jagung).

Kit ELISA Aflatoksin
Kadar aflatoksin dalam pakan untuk ternak berdasarkan standar dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan maksimal 50 ppb (part per bilion). Dan untuk mengetahui kandungan aflatoksin dalam pakan, sebagian besar perusahaan pakan di Indonesia sudah banyak yang mengunakan seperangkat teknologi pendeteksi yang dikenal dengan Kit ELISA. Sayangnya, penyediaan alat yang berfungsi untuk mengetahui tingkat kontaminasi ini masih mengandalkan produk impor yang harganya mahal.
Dari kondisi terakhir ini maka Balai Besar Penelitian Veteriner (Balitvet) yang digawangi oleh Sri Rachmawati kemudian mengkreasikan Kit ELISA Aflatoksin dengan kualitas yang sama dengan produk impor tadi. Menurut Sri,  alat ini digunakan  untuk menganalisis kandungan senyawa yang paling toksik yaitu aflatoksin B1  pada sampel pakan, jagung, dan kacang-kacangan lainnya dengan cepat.
Pengembangan teknis deteksi cepat aflatoksin B1 (AFB1) dilakukan secara Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dengan format ELISA kompetitif langsung. Yaitu ditandai dengan penggunaan antibodi poliklonal yang diproduksi kelinci yang telah diimunisasi dengan antigen aflatoksin protein konjugat. “Kemudian antibodi yang diperoleh tersebut memberikan respon spesifik terhadap AFB1,” jelas Sri.
Penggunaan antibodi dari kelinci dikarenakan serum yang dihasilkan poliklonal antibodi banyak dihasilkan dalam tubuh kelinci. “Kelinci juga mudah diperoleh,” tambahnya. Selain itu, poliklonal antibodi yang diproduksi dari kelinci memiliki  respon antibodi spesifik terhadap AFB1 (100 %), terjadi sedikit reaksi silang (cross reactivity) dengan jenis aflatoksin G2 dan B2 sedangkan  reaksi silang dengan aflatoksin G1 tidak begitu nyata. Batasan deteksi AFB1 bisa sampai serendah   0, 3 ppb (0, 3 ng/gr) dalam sampel jagung, pakan dan kacang tanah dan 0,18 ppb untuk produk ternak.
Menurut Sri, Kit ELISA yang ia rancang juga lebih ekonomis.  “Harganya relatif lebih murah 1/3 dari komersial yang rata-rata Rp 8 juta,” ujarnya. Terlebih menurut Sri, Kit ELISA tersebut bisa disimpan selama 2 bulan pada suhu 4oC. Meski alatnya bukan produk baru, namun Sri berharap alat tersebut bisa bermanfaat bagi produsen pakan dan mampu menyelesaikan permasalahan yang terkait toksiksitas.
 

Artikel selengkapnya baca majalah Trobos edisi April 2011