Pakan Apung ala BBPBAP Jepara
Dapat diaplikasikan dalam skala rumah tangga, sehingga para pembudidaya secara sendiri atau berkelompok dapat memproduksi
Produksi pakan apung (pellet) buatan untuk ikan dengan menggunakan alat sederhana sangat mungkin dilakukan. Aplikasinya telah dibuktikan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara. Erik Sutikno, salah seorang peneliti di BBPBAP Jepara mengklaim, pihaknya mampu menghasilkan pakan apung yang setelah mengikuti uji laboratorium dinyatakan memiliki kandungan protein 30%, dapat mengapung selama 30-45 menit, dengan ketahanan dalam air 90% per jam.
Sebelum pembuatan pellet, bahan baku pakan difermentasi dengan menggunakan jamur Aspergillus niger. Fermentasi menyebabkan udara terperangkap dalam adonan dan membuat pellet mampu mengapung.
Bahan Baku dan Formulasi
secara umum, bahan baku dibedakan menjadi 2 kelompok besar, nabati yang asal tumbuhan dan hewani yang berasal dari hewan. Bahan pakan nabati sebagian besar merupakan sumber energi yang baik, serta sumber vitamin. Sementara bahan hewani umumnya menjadi sumber protein. “Sekitar 70 - 75 % bahan baku nabati merupakan biji-bijian dan hasil olahannya, 15 – 25% limbah industri makanan dan selebihnya berupa hijauan,” sebut Erik.
Jagung, dedak halus, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, minyak nabati adalah beberapa jenis bijian yang paling sering digunakan sebagai sumber energi. Sementara untuk hijauan ia menyebut daun azola, daun turi, daun talas memiliki kandungan protein alternatif cukup tinggi sehingga dapat dipilih untuk substitusi sebagian protein hewani (tepung ikan) yang semakin mahal. Sedangkan sumber protein hewani, ia menyebut tepung ikan, tepung darah dan tepung keong mas sebagai alternatif.
Selanjutnya untuk memformulasikan bahan baku menjadi pakan, harus diketahui terlebih dahulu angka kebutuhan energi yang diperlukan untuk aktivitas dan tumbuh jenis ikan yang diinginkan. Di sisi lain memahami pengetahuan tentang gizi, meliputi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air, dan lainnya. Tahapan selanjutnya adalah perhitungan persamaan matematika untuk membuat formulasi pakan, dan setelah itu kadar asam amino formulasi diuji secara laboratoris.
Proses Produksi
Setelah pemahaman bahan baku dan formulasi dikantongi, proses produksi dapat dilaksanakan. Proses ini, sebagaimana dilakukan Erik, meliputi penghalusan, penimbangan, pencampuran, pencetakan, pengeringan,dan pengemasan. Hasil uji menunjukkan daya tahan pakan ini 90% per jam. Sementara ukuran daya apung adalah waktu yang diperlukan pellet dari menyentuh permukaan air sampai tenggelam di dasar. Dan pellet produksi BBPBAP, menurut Erik mampu mengapung 30 - 45 menit.
Selengkapnya baca majalah Trobos edisi September 2011










