Mesin Pemingsan Udang dan Ikan
Dapat meningkatkan kelangsungan hidup udang dan ikan selama transportasi
Tahukah Anda bahwa kenikmatan udang yang masih segar memiliki sensasirasa yang berbeda dibandingkan udang yang sudah matilama. Untuk mendapatkan udang segar membutuhkan langkah penanganan tertentu terutama saat pemanenan. Cara pemanenan dan transportasi udang ke pabrik pengolahan maupun pasar sangat menentukan kualitas udang yang dijajakan.
Permasalah yang kerap terjadi bagi para pembudidaya dan pedagang udangyaitu saat memindahkan udang siap panen (transportasi). Jika banyak udang yang mati saat dipindahkan maupun dalam perjalanan maka keuntungan yang didapatkan akan berkurang. Hal ini karena harga jual udang yang mati lebihrendah ketimbang udang hidup.
Soal kematian udang saat transportasi dilihat Dr Sam Herodian sebagai peluanguntuk mengembangkan alat pemingsan udang. “Ide awalnya adalah bagaimana bisamentransportasikan udang dalam keadaan hidup dan tanpa menggunakan air,” ungkap Dekan Fakultas Teknik Pertanian, Institut Pertanian Bogor(IPB)ini kepadaTrobos Aqua.
Menurut Sam, media transportasi dengan menggunakan air akan menambah bobot dari kemasan, yang berarti akan menambah biaya pengiriman. Tambahan biaya tersebut sudah tidak diperlukan lagi karena alat ini mampu memingsankan udang selama 24 – 48 jam tanpa media air.
Ia menjelaskan, dengan menggunakan mesin pemingsan ini, tingkat kelangsungan hidup udang selama transportasi bisa lebih tinggi bahkan sampai 100 persenketimbang cara transportasi biasanya. Kualitas udang yang didapatkan pun jauh lebih tinggi, sehingga bisa memperoleh harga jual yang tinggi.
Cara Kerja
Dalam mengembangkan mesin pemingsan udangdan ikan ini, Sam dibantu oleh para dosen-dosen dari Fakultas Perikanan dan Ilmu KelautanIPB untuk menguji fisiologi, karakter,serta ketahanan dari udang. Iamembuat alat ini dengan dimensi yang lebih kecil, sehingga lebih handy(mudah digunakan). Sebagai kendaraan transportasinya diperlukan truk dengan kontainer yang suhunya bisa diatur. Untuk udangdibutuhkan suhu batas pingsan sebesar15,5 derajat celsius.
Metode atau cara kerjaalat ini terdiri dari berbagai tahapan. Tahap pertama, udang tidak diberi makan selama 12 jam. Udang tersebut ditampung dalam bak yang disesuaikan keasaman, kadar garam, dan suhu normal dengan habitat udang. Selanjutnya, udang dipindahkan ke bak pemingsan yangdiisi air, dipasang aerator, dan terhubung ke mesin pemingsan. Alat pemingsan ini menggunakan komponen water chiller(pendingin air) yang diatur secara elektrik.
Tahap berikutnya, suhu diturunkan secara perlahan dan bertahap hingga mencapai 15,5 derajat celsius. Penurunan suhu 5 derajat celsius secara bertahap tiap jam menjadi kunci dari kesuksesan mesin pemingsan ini. Dibutuhkan waktu sekitar satu sampai delapan jam hingga udang benar-benar pingsan. Setelah udang pingsan, udang dibiarkan selama 10 – 20 menit.
Udang yang sudah pingsan bisa diangkat untuk dimasukkan kotak pengemas. Selain udang, di dalam kotak diisi oleh gergaji basah atau busa basah. Sebaiknya, kotak pengemasan menggunakan gabus untuk mendapatkan bobot yang ringan dan menjaga kestabilan suhu. Kotak pengemasan yang berisi udang, dimasukkan ke dalam truk kontainer yang sudah diatur suhunya.
Untuk pengiriman dengan jarak yang jauh, misalnya ke beda negara, diperlukan pesawat dengan ruang yang dapat diatur suhunya. Sebagai penerima, harus mempersiapkan juga kontainer yang suhunya sama dengan suhu kontainer sewaktu berangkat. Pengaturan suhu dalam berbagai tempat ini dikarenakan untuk menghindari kematian udang.
Untuk membangunkan kembali udang yang pingsan, hanya diperlukan bak yang berisi air. Udang dimasukkan ke bak tersebut secara perlahan-lahan dan satu persatu. Setelah itu, udang akan sadar kembali dan terlihat segar. Dari hasil penelitian, didapatkan tingkat kelangsungan hidup udang mencapai 100 persen bila dalam kondisi sempurna.
Dilihat dari lamanya waktu simpan, tingkat kelangsungan hidup udang berbeda-beda. Untuk jangka waktu 18 jam, udang yang bertahan hidup sekitar 91,7 persen. Tingkat kelangsungan hidup udang hanya 72,9 persen bila disimpan selama 24 jam. Semakin lamanya waktu, penyimpanan mengurangi tingkat kelangsungan hidup.
Sam mengingatkan, supaya optimal penggunakan mesin ini harus dipadukan dengan sistem transportasi yang sesuai prosedur. “Alat ini tidak akan optimal hasilnya jika tidak menggunakan kontainer saat berangkat dan sampai tujuan yang bisa diatur suhunya,” kata Sam. Ia menambahkan, artinya pengusaha tidak hanya perlu menyediakan alatnya saja tapi juga kontainernya, hal ini masih dianggap memberatkan oleh sebagian pengusaha.
Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012









