Inovasi
01 July 2007
Laserpunktur: Biostimulasi Produktivitas Ternak

Teknologi tembak laser pada titik-titik punktur terbukti mampu meningkatkan pertambahan berat badan dan memicu gertak birahi.

Peningkatan produktivitas ternak sampai saat ini masih jadi masalah besar dalam usaha peternakan. Beragam cara pun ditempuh agar produktivitas ternak maksimal. Diantaranya melalui perbaikan manajemen dan kualitas pakan atau dengan memanfaatkan teknologi. Satu cara yang cukup cerdik dengan mengadaptasi teknologi penembakan laser atau disebut laserpunktur.
Teknik tembak laser menurut R Tatang S Adikara, Dosen Kepala PJMK Akupunktur Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan ? Universitas Airlangga (Unair) memang dapat dimanfaatkan untuk proses manipulasi biologis pada ternak. ?Misalnya untuk meningkatkan pertambahan bobot dan kemampuan reproduksi dengan cara pelaseran pada titik-titik rangsang atau reseptor yang tersebar pada permukaan tubuh,? jelasnya kepada TROBOS beberapa waktu lalu.
Dijelaskan, secara ilmiah reseptor terbukti mempunyai hubungan dengan organ di dalam tubuh. Bila reseptor diberi rangsangan (stimulasi), maka efeknya akan dilanjutkan ke dalam tubuh hingga mencapai organ target. Untuk pertumbuhan ternak,  organ targetnya adalah paru-paru, jantung dan alat-alat percernaan. Sedangkan organ target terkait reproduksi adalah organ reproduksi, yakni ovarium, uterus, dan saluran telur (oviduk).
Stimulasi penembakan pada titik-titik reseptor tubuh bertujuan memberikan rangsangan pada organ target agar bekerja lebih optimal dan efisien. ?Stimulasi dapat disesuaikan dengan tujuannya,? imbuh Adikara.
Dia mencontokan, untuk peningkatan pertumbuhan, rangsangan bisa dilakukan pada 3 titik punktur. Pertama, paru-paru dengan tujuan meningkatkan kapasitas oksigen dalam sel tubuh sehingga respirasi seluler dan metabolisme menjadi lebih optimal. Titik kedua jantung, berhubungan dengan peningkatan kapasitas aliran darah dan peredaran makanan dalam sel. Ketiga, rangsangan pada titik pencernaan untuk meningkatan kinerja lambung dalam mencerna dan mengabsorbsi pakan. Ini terbukti dengan tidak ditemukannya bentukan jerami atau pakan dalam kotoran serta berkurangnya abu kotoran pada hewan perlakuan.
Laserpunktur yang merupakan hasil riset dari Pusat Penelitian Bioenergi Unair sebenarnya sudah lama dikembangkan di Jawa Timur. Sejak diresmikan pada 1993 oleh Menristek Habibie, lembaga tersebut memfokuskan riset ilmiah pada titik akupunktur sebagai reseptor biologi. Yang salah satu fungsinya untuk meningkatkan produktivitas ternak. Teknologi ini kemudian dikembangkan dengan metode penembakan laser. Uji coba tembak laser pertama dilakukan pada sapi potong di desa Kapadangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur pada 1994.

Memacu Pertumbuhan
Guna menaikkan pertambahan bobot badan harian sapi, laser ditembakkan pada titik- titik pertumbuhan kiri dan kanan. Tiap titik reseptor menerima pelaseran selama 10 detik. Penembakan laser dilakukan selama 3 bulan masa penggemukan dengan interval 7 hari.
Sementara untuk mendapatkan peningkatkan berat badan optimal, laserpunktur dilakukan secara teratur dan diikuti pemberian pakan yang baik. Lebih bagus lagi jika dipadukan dengan pemberian probiotik. Sapi-sapi yang digemukkan dengan laserpunktur juga harus diperiksa kesehatannya. Jika sakit harus diobati dulu sampai  sembuh. Bila diperlukan diterapi obat cacing. Serta sebaiknya sapi yang tidak cacat dan telah dewasa alias telah tanggal giginya.
Uji lapang laserpunktur menurut Adikara terbukti mampu menaikkan bobot badan sapi hingga mencapai 1,1-1,8kg/hari tergantung jenis sapinya. Sapi lokal jenis peranakan ongole diperoleh pertambahan berat badan (PBB) 1,0 kg/hari. Peranakan sapi bali PBBnya mencapai 1,2 kg/hari. Peranakan sapi madura bisa mencapai 1,4 kg/hari. Sedangkan pada sapi-sapi unggul hasil kawin suntik (IB) sepeti Limousine, Simmental, Brahman dan Angus, kenaikan berat badan mencapai 1,5-1,8 kg/hari.
Dalam satu periode penggemukan sapi selama 3 bulan untuk peranakan sapi lokal sedikitnya diperoleh PBB 100 kg. Sementara untuk sapi unggul hasil IB bisa mencapai 150-180 kg.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Juli 2007