Luar Garis
01 June 2007
Ubah Mind-set, Berkah?

TIDAK sedikit yang berpakaian sipil berdecak seraya menunduk takzim. Ada juga yang rada terbengong ketika prosesi pemakaman tokoh perunggasan Indonesia itu dilaksanakan secara upacara militer penuh di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Rabu 23 Mei 2007. Tampak puluhan pelayat berbintang dalam seragam militer PDU. Dan sangkakala penghormatan terakhir pun meratap mengiringi jenazah yang perlahan turun ke liang lahat. ?Selamat jalan Laksamana, selamat jalan Mas Herlambang,? gumam lirih seorang perwira tinggi berbintang tiga sambil menabur bunga duka.
 Di masa hidupnya postur tubuh Sri Mulyono Herlambang layak disebut atletis. Tinggi badan di atas 170 cm. Berdada bidang, dan rahang bersegi yang membuat wajahnya tampil kokoh, apalagi matanya yang tajam menyorot, mengisyaratkan sosok berkepribadian kuat, berprinsip, gigih, jujur, dan bukan penjilat. Kumisnya rapi tercukur bak Antereja. (kakak Gatotkaca), membuat wajah itu militan. Hanya senyumnya yang sesekali menyungging yang membuat peternak itu selalu tampil akrab kebapakan.
 Di dasawarasa 60-an dia adalah salah satu ksatria dirgantara kebanggan Nusantara. Dan tentu saja, Bung Karno. Di era itu dia termasuk penerbang pesawat tempur AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) di sampinng Leo Watimena, Rusmin Nuryadin, dan Omar Dhani. Dia juga lah Men.Pangau terakhir (Menteri Panglima Angkatan Udara-sekarang KSAU) benuman Bung Karno yang kemudian dihujat sebagai rezim Orde Lama. MenPangau sebelum dia adalah Omar Dhani, dan Men.Pangau sesudahnya adalah Rusmin Nuryadin.
 Waktu itu, mata dunia menyaksikan dan mengakui, AURI yang bagian dari ABRI, adalah angkatan perang terkuat ketiga di Asia di samping RRC dari India. Bukan hanya lantaran AURI waktu itu sudah menerbangkan dan mengoperasikan MiG-17 atau bahkan MiG-21 (buatan Uni Soviet, tercanggih di dunia), melainkan karena ABRI dikenal sudah memiliki pengalaman tangguh di berbagai medan tempur.

TIDAK banyak purnawirawan TNI, apalagi yang sebelumnya berposisi pati, melepaskan identitas luar-dalamnya sebagai komponen militer. Dasar kedisiplinan dan visi umumnya sudah mendarahdaging sampai ke sumsum. Faktor harga diri, faktor kultur komando dan espris du corps, tak gampang dijinakkan dari para ?laki-laki yang terlatih untuk mati? itu.
 Tetapi tidak bagi seorang Sri Mulyono Herlambang. Sejak ia dicopot sebagai MenPangau yang diangkat oleh Bung Karno menggantikan Laksamana Madya AURI Omar Dhani di ujung kekuasaan ?Orde Lama?, Herlambang sanggup menjinakkan semangat tempurnya menjadi figur yang ?sumarah hing ngarsaning Gusti? sebagaimana diakuinya kepada seorang wartawan di tubir terakhir kariernya sebagi penerbang pesawat tempur.
 Dia sempat tersedak oleh perlakuan tak adil dari pemegang Supersemar. Baru 3 bulan memangku jabatan MenPangau sejak Desember 1965, tiba-tiba disergap dalam perjalanan dinasnya ke Bandung sekaligus dikurung di rumah tahanan militer. Sebagai panglima yang diangkat oleh Bung Karno, mahfum lah dia bagaimana membaca tingkah polah politik. Dengan penuh perenungan maka ia pun mengundurkan diri dari ketinggian itu.
 Dua tahun setelah kegetiran itu, mencekaunya, Herlambang pun menemukan dunianya yang baru, yang sangat kontras dengan kultur kemiliterannya. Bermula dari diskusi sehari yang dihadiri oleh para ahli budidaya ayam ras, dan terdalami oleh buku-buku yang dilalap dalam kesendiriannya, Sri yang satu ini mengubah mind set-nya yang ia istilahkan sebagi satu phase mental switch.
 Bagi Sri Mulyono Herlambang 8 Agustus 1967 adalah titik balik bersejarah dalam hidupnya. Dari mengepakkan sayap demi maut dan kejayaan di medan laga, menjadi menimang dengan kasih sayang demi kemanusiaan, kesejahteraan, kesehatan, dan kecerdasan bangsa. Hari itu, begitu Sri menulis dalam bukunya, untuk pertama kalinya ia menyentuh halusnya bulu seekor kuthuk (DOC) dari 19 lainnya yang ia beli di satu warung pakan.
 Masyarakat peternakan, khususnya perunggasan, tentu saja mencatat Laksamana Muda  purnawirawan (sekarang istilahnya Marsekal Muda) ini bukan sebagai pilot pesawat tempur MiG-17, melainkan mengenangnya sebagai pendiri dan sekaligus ketua 2 periode PPUI (Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia). Dan dengan PPUI itu, Herlambang gigih bertempur melawan impor daging ayam dan telur.
 Apapun dan betapapun, kehadiran dan perjuangan seorang pilot pesawat tempur di dunia peternakan dan peternakan ayam ras sesungguhnya  lah elok. Mungkin setara eloknya dengan petikan kabar lama tentang ?Pesawat MiG-29 ditukarbelikan dengan broiler? (Thailand). Yang jelas ihwal  Sri Mulyono Herlambang dengan ayam rasnya itu mengingatkan kita kepada pentingnya keberanian mengubah mind set. Mental Swicth!, demi perjuangan ke arah kemaslahatan bangsa ini. Tanpa keberanian mengubah mnd set, omong kosong saja lah yang bangsa ini peroleh.
 Innalillahi wa inna ilaihi roji?un... Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa?fuanhu... Selamat jalan Marsekal Herlambang.