Lebih Akrab Dengan...
01 January 2009
Bambang Krista: Diselamatkan Ayam Kampung

Frustasi didera kebangkrutan usaha broiler, ia beralih ke ayam kampung yang ternyata menyelamatkan masa depannya

Sapa gething, bakal nyanding. Jika terlalu membenci sesuatu, kelak justru akan didekatkan. Kurang lebih inilah yang terjadi pada Bambang Krista. Ketika menimba ilmu peternakan di Universitas Diponegoro lebih dua dasawarasa silam, dia paling anti dengan mata kuliah perunggasan. Bolos kuliah pun tak segan-segan dilakukannya demi menghindari perkuliahan soal ayam. Siapa sangka, ia kini malah bertopang hidup pada unggas, makhluk yang dulu tak disukainya.

Lelaki 45 tahun asal Solo yang pernah puluhan tahun malang melintang menjadi peternak  broiler itu sekarang mantap memutuskan fokus di komoditas ayam kampung. Seorang rekan peternak anggota Gopan (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional) mengatakan, ?Sejak saya masih jadi TS (sebutan untuk tenaga pemasaran perusahaan obat/pakan ternak) dan belum punya ayam sama sekali dia ini sudah kerjaannya di budidaya broiler, dulunya.?

Kini belum genap setahun Bambang mengembangkan ayam kampung petelur, gurihnya bisnis tersebut telah dia rasakan. Populasi induk ayam kampung di kandangnya mencapai 4000 ekor dengan produksi telur mencapai 1500 butir perhari, plus 300 pejantan dan anakan umur 1 ? 7 hari tak kurang dari 2000 ekor. Sementara broiler-nya kini tersisa tak lebih dari 15 ribu ekor. ?Akan lebih fokus di ayam kampung, tapi karena masih belajar, broiler meski sedikit masih jalan,? Bambang menjelaskan pilihan. Kini ia memiliki 8 unit mesin tetas dengan periode pull chick tiap Senin dan Kamis. ?Produksi rata-rata 1000 DOC per minggu,? sebutnya. Selain memasarkan telur, Bambang juga menjual anakan. ?Rencananya, kelak jual pullet (calon petelur-red) juga,? tambahnya.

Bertandang ke kandangnya di Burangkeng, Setu Bekasi serasa piknik ke sebuah villa di tengah hutan. Lahan seluas tak kurang 2 hektar yang dibelinya rentang 2001 ? 2005 dimanfaatkannya membangun sebuah pondokan yang dikelilingi kandang ayam kampung, kandang broiler, kandang domba, kolam lele, serta budidaya tanaman hias dan hortikultura. Itu pun baru 50% digunakannya, selebihnya masih ditumbuhi pepohonan besar.

 

Pengalaman di Broiler

Pria yang juga wakil ketua Asosiasi Tanaman Hias untuk wilayah Bekasi ini mengaku mengenal dekat ayam justru setelah lulus kuliah. Di masa-masa awal perkenalannya dengan ayam, Bambang langsung kepincut untuk melakukan usaha budidaya broiler. Salah satu alasannya karena perputaran uang di bisnis ini tergolong cepat, hanya sekitar 25 ? 40 hari. Bahkan kalau sedang mujur mendapatkan harga jual tinggi, laba besar dipastikan akan tergenggam. Bisnis broiler pun sempat mendatangkan kemakmuran dalam kehidupan Bambang.

Memulai terjun di bisnis perunggasan pada 1989, Bambang bekerja di PT Subur, sebuah perusahaan pembibitan. Di tempat itu, suami Upi Yuliarsih ini menemukan fakta bahwa bisnis unggas ternyata menggiurkan dan sangat menarik. Setahun kemudian ia berani memutuskan keluar dan mantap untuk beternak ayam ras broiler secara mandiri. Populasi awalnya 2000 ekor, dan berkembang pesat hingga mencapai ratusan ribu ekor. Tapi beberapa tahun berikutnya, usaha broiler Bambang kena imbas krismon dan bang krut. Dia mengaku sempat frustasi, dan pada 1998 dia banting setir memilih berdagang sembako.

Meski sudah tidak beternak ayam, bukan berarti Bambang lepas hubungan dengan unggas. Kala itu banyak rekanan yang menawarinya untuk kembali ke perusahaan perunggasan. Akhirnya pada 1999, ayah dari Glaudia Yuliakrista, Fauziah Yuliana, dan Faizal Prabowo ini ikut bergabung dengan PT Leong Hap Ayam 1, perusahaan pembibitan grup Malindo. Sembari ia kembali mengisi kandang broiler-nya secara mandiri dengan populasi 40 ribu ekor. Rentang waktu itu, ia sempat keluar dari Leong dan gabung ke PT Lestari Agribisnis Indonesia (LAI), sebuah peternakan layer. Sementara itu, bisnisnya broiler berkembang sampai 100 ribu ekor. Tetapi lagi-lagi, pada 2003 bisnis Bambang hancur dihantam krisis. Dan akhirnya dia memutuskan untuk menyewakan kandangnya dan hanya memiliki ternak ayam broiler dengan populasi 15 ribu ekor, yang masih bertahan sampai kini.

Usaha ternak broiler memang menyimpan risiko yang besar. Dan itu dirasakan betul oleh Bambang. Populasi broiler-nya yang pernah mencapai 300 ribu ekor harus gulung tikar, buntung beserta seluruh modalnya. ?Ketujuh mobil saya ludes,? katanya pahit menceritakan kerugian terbesar yang dia alami.

Bambang tak menutup mata bahwa bisnis ini rentan. ?Fluktuasi kondisi dan harga broiler sangat tinggi,? kata Bambang menilai. Fakta itu membuat dirinya kerap dihingggapi rasa was-was akan keberlangsungan usahanya. ?Saya capek dengan bisnis broiler yang tak menentu,? keluhnya.

 

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Januari 2009