Jajang Hermawan Sofyan : Sepanjang Umur Akrab dengan Ayam
Sejak duduk di bangku SD kelas 5 sudah mahir kemudikan mobil bak terbuka mengangkut pakan
Bisnis budidaya broiler (ayam pedaging) itu sangat unik dan perlu seni tersendiri. Komentar ini terucap dari seorang Jajang yang saat ini dipercaya sebagai Ketua Umum Paguyuban Peternak Bandung Raya (PPBR). Masih menurut dia, usaha beternak broiler banyak melatih mental karena jantung sering dibuat berdebar, terutama ketika harga jual broiler di bawah HPP (Harga Pokok Produksi). “Yang tidak terbiasa, akan kaget berhadapan dengan kondisi ini,” kata pemilik ratusan ribu broiler dengan ratusan plasma ini.
Alih-alih surut oleh tantangan tersebut, Jajang terus maju dan mengembangkan bisnisnya. Ini karena ia menyenangi jenis usahanya tersebut. Jajang memiliki filosofi, agar berhasil dalam menekuni usaha harus mengutamakan rasa suka pada usaha tersebut. “Jangan belum-belum melihat profit. Ini nggak bakal berhasil karena yang dilihat hanya uang saja,” ujarnya berpesan.
Mantap di Broiler
Melalui kerja keras serta kegigihan, dan pengalaman yang panjang, usaha kemitraan peternakan broiler Jajang mampu bertahan dan terus berkembang. Populasinya kini mencapai ratusan ribu ekor per siklus yang tersebar di ratusan peternak plasma. Selain itu, ia pun sudah memiliki kandang sendiri yang berlokasi di daerah Cimaung, Pangalengan, dan Haurngombong di Kabupaten Bandung.
Kini usaha broiler menjadi bisnis utama yang digeluti Jajang. Pilihannya pada broiler karena ia telah memetik banyak keuntungan dari bisnisnya tersebut. “Pengembalian investasi dan putaran uang di broiler lebih cepat tidak seperti di layer,” sambung dia. Meski demikian, peternakan layer yang pertama kali dirintisnya tetap ia pertahankan sampai hari ini.
Selain itu, Jajang pun sering dibuat takjub ketika memantau perkembangan broiler dari kecil hingga besar. Pertumbuhannya demikian cepat, sehingga membuatnya terkagum-kagum dengan kemampuan genetik performa broiler.”Karena itu, sebagai peternak mutlak harus mengerti ‘bahasa’ ayam modern ini,” ia mewanti.
Obsesi RPA Higienis
Bisnis peternakan broiler dijalani Jajang, tidak lepas dari komitmennya untuk membangun kepercayaan rekan bisnis. “Saya terus belajar untuk mendapat kepercayaan orang sehingga mereka bisa peduli dan percaya,” tegasnya. Ia pun yakin pada bisnis perunggasan tanah air, dan mantap menjadikan profesi peternak sebagai jalan hidup. Menurut dia, kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam dan telur akan terus meningkat karena merupakan sumber protein hewani yang paling terjangkau.
Satu cita–cita Jajang saat ini adalah ingin mengembangkan RPA (Rumah Potong Ayam) untuk mengamankan dan membina pasar yang sudah ada. Saat ini, ia mulai merintis dengan membina pemotong yang ada di Pasar Banjaran dan Pengalengan. “Saya merekrut pemotong dan menyediakan alat pemotongnya untuk digunakan pedagang yang membeli ayam hidup ke saya,” jelasnya.
Jajang melanjutkan, meskipun masih konvensional tapi arah menuju ke RPA yang memenuhi kaidah higienis sudah mulai dirintis. “Kalau pasar menuntut lebih cepat maka pembuatannya akan dipercepat juga,” terangnya. Ia memastikan, dengan melakukan diversifikasi ke hilir membangun RPA, usaha peternakannya akan lebih efisien.
Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Mei 2012










