Asep Anang : Senang Jadi Praktisi Genetika Ternak
Riset itu ada di bawah naungan industri, bukan riset menguasai industri
Ilmu genetika (genetik) itu unik dan tidak mudah mempelajarinya. Komentar tersebut terlontar dari Asep Anang, Lektor Kepala Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung bidang Ilmu Pemuliaan Ternak. Menurutnya, kalau sesuatu bidang tidak mudah dipelajari atau sulit, maka kemungkinan besar diperlukan oleh banyak orang.
Dan, dia meyakini besar atau kecil jumlah hasil pendapatan seseorang tergantung seberapa besar kemampuan memecahkan tingkat kesulitan. “Kalau kita mengambil yang mudah pasti saingannya banyak, tetapi kalau kita mengambil yang sulit saingannya sedikit,” ujarnya sambil tersenyum.
Asep menceritakan, awalnya terjun kedunia genetik sejak diangkat menjadi Dosen Ilmu Pemuliaan pada 1990-an yang suka atau tidak harus dijalankan. Saatitu dia berpikir tidak mungkin pindah dari Laboratorium Pemuliaan Unpad. “Tetapi sekarang saya menikmati itu,” ujar doktor dengan disertasi tentang pureline (galur murni) Lohmann di Marthin Luther Universitat Jerman ini.
Asep menjelaskan, ilmu genetika ada dua bagian, genetika yang mengarah ke molekular (DNA) yaitu mempelajari gen dan letaknya. Ke dua, yang mengarah ke kuantitatif atau desainnya. “Saya lebih banyak masuk ke desainnya, seperti evaluasinya di breeding (pembibitan),” jelasnya.
Ia menjelaskan, genetik yang mengarah kuantitatif, lebih banyak mempelajari tentang matematika statistik. Karena itu orang yang mempunyai dasar ilmu biologi, sedikit yang mengambil ilmu ini. ”Memang berat dan tidak mudah bagi orang yang punya dasar ilmu biologi harus mempelajari seperti programming dan rumus statistik, tetapi saya berpikir harus belajar agar masuk dunia genetik ini,” ucapnyasemangat.
Akademisi, Peneliti,dan Praktisi
Diutarakan Asep, tenaga ahli ada 3 bagian yaitu, akademisi, peneliti,dan praktisi. Ia katakan, kalau di kampus sebagai akademisi yang outputnya adalah mahasiswa. Lalu,diberi tugas riset sebagai peneliti yang outputnya publikasi. Tetap, tidak dituntut membuat suatu ternak dengan performance bagus. “Sementara, sebagai praktisi outputnya performance ternak yang baik dan lebih sering apa yang saya kerjakan tidak didapatkan sewaktu bangku kuliah,”ujar pria yang juga menjabat sebagai Vice President Divisi Genetic di Charoen Pokphand Group.
Ia menyebutkan,ada perbedaan di antara akademisi, peneliti,dan praktisi. Misalnya, akademisi dan peneliti dalam membuat sesuatu banyak yang diperhitungkan dan berpikirnya rumit. Sedangkan di industri kerjakan dahulu, sambil melihat kelemahannya dan terus diperbaiki secara bertahap. “Jadi tujuan kita jelas yaitu produk unggul, maka riset itu ada di bawah naungan industri, bukan riset menguasai industri,” kata Asep.
Kurang Praktisi Genetik
Terkait kondisi di tanah air antara ketiga profesi tersebut, Asep mengatakan di Indonesia kekurangan praktisi genetik, kalau ahli genetik akademisi dan peneliti punya. Mungkin secara keilmuan bagus, tetapi ketika di industri belum tentu. “Dan pengalaman saya pertama masuk industri, saya mendesain breeding dengan konsep akademisi dan peneliti, tetapi kata orang industri rule of thumb (berdasarkan praktis di lapangan tidak hanya teori),” ungkapnya.
Menurut Asep, praktisi nutrisi sudah banyak, juga lulusan doktor yang bukan akademisi atau peneliti bekerja di perusahaan dengan menggarap nutrisi. Hanya bidang genetik hampir tidak ada. Namun diakuinya semua itu sudah ada porsinya masing-masing antara akademisi, peneliti,dan praktisi.
Asep menilai, tidak adanya praktisi genetik bisa jadi karena belum banyak diperlukan di industri. Lihat saja, belum banyak industri yang menggarap proyek genetik, padahal itu sangat penting. ”Itulah yang tertinggal dan harus diakui bahwa kita hanya bisa mengadopsi teknologi peternakan, tetapi di breeding belum,” jelas pria beristri perempuan Sumedang, Jawa Barat ini.
Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012










