Kolom & Opini
01 May 2009
Arief Daryanto : Kemitraan dalam Manajemen Rantai Nilai Bisnis Peternakan

Oleh: Dr. Ir. Arief Daryanto, Mec.
Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB

Peningkatan nilai tambah (velue added) dalam bidang peternakan masih sering dinilai belum dapat memberikan pertumbuhan yang inklusif. Pertumbuhan inklusif merupakan pertumbuhan yang tidak hanya menguntungkan para peternak atau pelaku usaha di bidang peternakan berskala besar, tetapi juga meningkatkan peran serta para peternak atau pelaku usaha berskala kecil. Strategi pembangunan peternakan yang bertujuan menciptakan pertumbuhan yang inklusif dapat dilakukan dengan jalan menerapkan model pertumbuhan yang disertai dengan pemerataan (growth with equity) atau pertumbuhan yang berkualitas (quality economic growth). 
Dampak pertumbuhan dalam bisnis peternakan terhadap peternak berskala kecil bergantung pada bagimana para peternak di perdesaan berperan serta dalam pasar peternakan yang bernilai tinggi (high-value commodity) ini, baik secara langsung sebagai produsen atau melalui pasar tenaga kerja. Upaya mendorong peran serta para peternak berskala kecil tersebut membutuhkan infrastruktur pasar, peningkatan kemampuan teknis peternak, instrumen manajemen risiko dan tindakan kolektif melalui berbagai organisasi produsen.

Kemitraan Usaha Dalam Manajemen Rantai Nilai
Pengembangan bisnis dalam industri peternakan dari hulu sampai ke hilir dalam kenyataannya lebih banyak digerakkan oleh sektor swasta dan pasar. Sebagai implikasinya di bagian hilir, peranan supermarket yang mengandalkan manajemen rantai pasokan (supply chain management) yang baik merupakan suatu keniscayaan. Kualitas dan standar yang ditetapkan sering kali mempersulit para peternak berskala kecil bertindak sendiri-sendiri untuk mengambil bagian di pasar ini, sehingga perlu pertanian kontrak (contract farming) dan tindakan kolektif dari berbagai organisasi produsen yang ada. Di samping itu, kinerja pasar peternakan sering kali terganggu oleh infrastruktur yang buruk, jasa pendukung yang tidak memadai, dan kelembagaan yang lemah sehingga meningkatkan biaya transaksi dan volatilitas harga.
Kemitraan usaha dalam manajemen rantai nilai menjadi sesuatu yang penting dilakukan untuk kesinambungan usaha, meningkatkan sumberdaya kelompok mitra, dan peningkatan skala usaha, dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan kelompok mitra secara mandiri. Dengan adanya kemitraan usaha berarti menggambarkan kesepakatan satu pelaku untuk melakukan tindakan yang memiliki nilai ekonomi kepada pihak lain. Hal ini akan mengurangi terjadinya pelanggaran-pelanggaran dalam sistem manajemen, bahkan mampu meningkatkan koordinasi antar level. Karena itu, kemitraan usaha dapat terjalin secara baik bila terdapat saling ketergantungan yang saling menguntungkan. Adanya kemitraan usaha dalam kegiatan on-farm (contract farming) dapat membangun spesialisasi kerja yang akan meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya transaksi yang akan meningkatkan efisiensi usaha, pembagian risiko (sharing risk), adanya jaminan pemasaran hasil dan mendekatkan akses terhadap program-program pemerintah.
Jika dilihat dari pihak perusahaan mitra, terdapat beberapa manfaat dengan adanya sistem contract farming dengan peternak mitra. Manfaat yang paling penting bagi perusahaan antara lain, adalah: (1) Mudah mendapatkan tenaga kerja (buruh); (2) Mengurangi biaya untuk investasi; (3) Mudah memasarkan sarana produksi peternakan; (4) Mudah mendapatkan hasil ternak (daging, telur, dan susu); (5) Perusahaan memiliki kendali terhadap kuantitas, kualitas, waktu penyaluran (delivery) dan kontinyuitas pasokan produk hasil ternak untuk berbagai tujuan atau segmen pasar. Kemitraan usaha pun mampu memberikan manfaat dalam konteks risiko yang lebih rendah dan harapan yang lebih baik dari sisi penerimaan (pendapatan).
Kontrak antara peternak dengan perusahaan industri pengolahan akan mendorong peternak ke tingkat produktivitas dan kualitas yang lebih baik, karena peternak diharuskan menerapkan standar teknik budidaya serta penanganan pascapanen tertentu. Selain itu, peningkatan produktivitas melalui kemitraan usaha dilakukan dengan menerapkan bimbingan teknis dan manajemen serta penataan lingkungan, sehingga mortalitas berkurang dan feed conversion yang ideal dapat dicapai. Adanya kemitraan usaha berarti mampu memperluas tujuan pasar (pasar tradisional maupun pasar modern) dan dapat memperdalam industri pengolahan hasil dengan berbagai produk asal ternak (daging, telur dan susu), serta mampu menjamin pemasaran dan kepastian harga, terutama pada sistem kontrak harga.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Mei 2009