Kolom
01 July 2010
Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec.: Kewirausahaan Kunci Daya Saing Peternakan

Oleh : Dr. Ir.  Arief Daryanto, M.Ec.
Direktur Program Pascasarjana Manajamen dan Bisnis IPB (MB-IPB) dan
Sekretaris Jenderal Himpunan Alumni IPB (HA-IPB)

Kondisi peternakan di Indonesia belum sepenuhnya mencapai tahapan keunggulan kompetitif atau dalam kondisi competitive disadvantage. Indonesia termasuk negara yang tergolong net importer, di mana nilai impor peternakan masih lebih besar dari pada nilai ekspornya.
Beberapa permasalahan pokok yang dihadapi Indonesia dalam meningkatkan daya saing  industri peternakan antara lain belum terciptanya efisiensi teknis dan ekonomis usaha pada sistem dan usaha agribisnis peternakan dan belum adanya penataan Kawasan Industri Peternakan (Kinak) yang terencana dalam jangka menengah panjang.
Kondisi itu menjadikan industri peternakan senantiasa terdesak keluar bagi pengembangan (perkotaaan, industri, dan perumahan atau pemukiman), permasalan lainnya yaitu kondisi infrastruktur yang buruk (jalan, air bersih, energi dan listrik, RPA/RPH standar, serta belum berkembangnya sistem transportasi rantai dingin).
Dari sisi iklim bisnis walaupun kondisinya membaik tetapi belum kondusif bagi masuknya investor. Lalu masih rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), terutama dari aspek kandungan kewirausahaan para pelakunya.
Ada juga masalah lemahnya eksistensi dan konsolidasi kelembagaan di tingkat peternak. Baik dari aspek kenggotaan, manajemen, permodalan, serta koordinasi. Terakhir adalah kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang belum kondusif dalam mendukung agribisnis peternakan.
Peningkatan daya saing peternakan di Indonesia ke depan harus bertumpu pada tiga kata kunci, yaitu better (lebih baik), faster (lebih cepat), dan cheaper (lebih murah). Untuk meningkatkan daya saing inilah, aspek kewirausahaan memiliki peranan yang strategis.

Kewirausahaan
Kewirausahaan (entrepreneurship) adalah kemampuan untuk menciptakan dan menyediakan produk yang bernilai tambah (value added) dengan menerapkan cara kerja yang efisien. Tentunya melalui keberanian mengambil resiko, kreativitas dan inovasi serta kemampuan manajemen untuk mencari dan membaca peluang. 
Kewirausahaan menuntut semangat yang pantang menyerah, berani mengambil resiko, kreatif, dan inovatif untuk dapat memenangkan persaingan usaha. Porter (1980) menyebutkan bahwa kewirausahaan merupakan jantung keunggulan daya saing nasional.
Bahkan Profesor Zoltan J. Acs, Direktur Pusat Kewirausahaan dan Kebijakan Publik (the Center for Entrepreneurship and Public Policy), George Mason University AS mengatakan bahwa kewirausahaan saat ini menjadi pusat jawaban terhadap berbagai persoalan mengenai kebijakan. Persoalan itu terkait dengan ilmu dan teknologi, keberlanjutan, kemiskinan, SDM, penyerapan tenaga kerja, serta keunggulan kompetitif regional (wilayah).
David McClelland, seorang ilmuwan dari Amerika Serikat (AS), dari hasil studi yang dilakukan banyak negara menyatakan, suatu negara dapat dikatakan makmur apabila minimal memiliki jumlah entrepreneur atau wirausaha sebanyak dua persen dari jumlah populasi penduduknya. Kewirausahaan memiliki peranan yang strategis dalam menciptakan pelaku bisnis dan perusahaan yang baru.
Kewirausahaan juga memainkan peranan penting dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Global Entrepreneurship Monitor (GEM), yang mempelajari dampak kegiatan kewirausahaan pada pertumbuhan ekonomi di 132 negara, menemukan bukti bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara tingkat kegiatan kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi.
Laporan GEM menyadari bahwa kehadiran wirausaha mampu membuat perekonomian negara akan semakin sejahtera dan kuat. Hal ini karena seorang wirausaha unggul dalam kualitas mengorganisir sumber daya yang diperlukan untuk menciptakan nilai tambah.
Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, serta menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien. Termasuk dengan cara memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, serta menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen. Dapat dikatakan bahwa kewirausahaan merupakan identitas masyarakat modern.
Dalam laporan GEM disebutkan juga bahwa kewirausahaan pada dasarnya dapat dikelompokkan jadi 2. Kelompot tersebut meliputi kewirausahaan atas dasar merespon peluang (opportunity entrepreneurship) dan kewirausahaan yang didasarkan atas kebutuhan untuk hidup (necessity entrepreneurship).
Berdasarkan survei yang dimuat dalam laporan (GEM) pada 2006, diperoleh data bahwa jumlah wirausaha di Indonesia adalah sebesar 19,3 % dari jumlah total penduduk dewasa. Jumlah yang cukup besar tetapi sebagian besar wirausaha kita adalah mereka yang tergolong sebagai kelompok necessity entrepreneurship.
Hal ini karena sebagian besar usaha mereka (termasuk dalam bidang peternakan) adalah usaha yang dikelola secara asal-asalan, sekedar bisa bertahan hidup dan informal sifatnya. Masih dalam laporan GEM, sebagai akibatnya, Indonesia diposisikan sebagai negara dengan kondisi jumlah wirausaha yang besar namun dengan pendapatan per kapita yang tergolong kecil.

Daya Saing Peternakan
Kegiatan penciptaan nilai tambah dari hulu sampai hilir dalam industri peternakan sarat dengan pengetahuan dan teknologi. Mulai dari pra panen, pasca panen (pengolahan produk), sampai pada penjualan produk akhir. Inovasi teknologi dalam bidang peternakan dapat terbentuk melalui upaya-upaya kreatif .
Hal in dimaksud untuk merubah persepsi bahwa bisnis peternakan tidak hanya sekedar berkutat pada kegiatan on-farm, namun juga kegiatan usaha from farm to table business yang membutuhkan jiwa kewirausahaan.  Tugas utama seorang wirausaha menurut Schumpeter adalah melakukan perubahan kreatif (creative destruction).
Dengan sifat perubahan kreatif inilah, seorang wirausaha dapat menjadi pemicu perubahan bisnis dalam bidang peternakan. Merubah kondisi yang tidak berdaya saing menjadi kondisi yang berdaya saing.
Peternakan merupakan basis ekonomi yang berpotensi tinggi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas (growth with equity) yang sejauh ini belum di kembangkan secara optimal. Dengan semangat perubahan kreatif yang dimiliki para wirausaha, mereka mampu membaca peluang sumber-sumber pertumbuhan peternakan dari sisi permintaan dan penawaran.
Sumber-sumber pertumbuhan peternakan ke depan dari sisi permintaan antara lain ditentukan oleh faktor pendapatan, laju pertumbuhan penduduk, perkembangan pusat kota, industri (fenomena urbanisasi), serta perubahan preferensi konsumen. Dari sisi penawaran, produksi, produktivitas dan daya saing komoditas dan produk peternakan sangat terkait erat dengan ketersediaan bahan baku pakan, perubahan tekonologi (genetika, pakan dan transportasi), kapabilitas manajerial peternak dan pelaku ekonomi lain, serta konsolidasi dinamika kelembagaan peternak. Tidak ketinggalan  dukungan kebijakan pemerintah (sistem insentif, regulasi pasar dan kredit, sanitary standards, serta kebijakan ketenagakerjaaan dan lingkungan).
Kemampuan daya saing produk peternakan yang dihasilkan oleh pelaku agribisnis sangat dipengaruhi oleh seberapa besar kandungan semangat kewirausahaan sebagai energi (daya kerja) untuk menghasilkan produk peternakan tersebut. Sebagai ilustrasi, jika mutu kewirausahaan dalam kegiatan usaha ternak rendah (menghasilkan produk ternak berkualitas rendah dan biaya produksi tinggi), maka hampir dapat dipastikan produk akhir peternakan yang dihasilkan tidak atau kurang memiliki daya saing di pasar. Apalagi jika ditujukan untuk segmen pasar tertentu seperti industri pengolahan, super market/hiper market, dan ekspor.
Kewirausahaan dapat dipelajari dari berbagai sudut pandangan (viewpoints). Beberapa studi menunjukkan bahwa karakteristik personal merupakan elemen penting dalam kewirausahaan. Brockhaus dan Horwitz (1986) menekankan pentingnya perspektif lingkungan dalam mempelajari kewirausahaan.
Dalam hal ini, social networks menjadi elemen yang penting bagi keberhasilan wirausaha. Bosma et. al. (2000) yang mempelajari elemen-elemen penting yang mempengaruhi keberhasilan kewirausahaan di Belanda menegaskan bahwa social capital, human capital, financial capital, strategi menghadapi dinamika bisnis, dan penggunaan infrastruktur pengetahuan yang tepat merupakan elemen-elemen penting dalam kewirausahaan.
Satu lagi elemen penting dalam kewirausahaan adalah daya penciptaan inovasi (innovativeness). Innovativeness merupakan salah satu faktor kunci untuk kewirausahaan yang berhasil.
Jelaslah bahwa peran kewirausahaan dalam peningkatan produktivitas dan daya saing suatu kegiatan ekonomi, termasuk kegiatan agribisnis peternakan, sangat penting. Tetapi sayangnya peranan kewirausahaan masih belum banyak dipahami para perancang dan pelaksana pembangunan ekonomi. 
Oleh karena itu, walaupun Indonesia dikaruniai kekayaan sumber daya alam dan biodiversitas, serta mendapat kemudahan dalam mendapat pinjaman modal dari lembaga-lembaga donor (IMF, World Bank, dan lainnya), tetap saja perekonomian nasional kurang kompetitif di tengah pertarungan global.  Tanpa spirit wirausaha dan peran wirausaha akan sulit dibayangkan bahwa agribisnis peternakan dapat berkembang secara cepat seirama dengan dinamika ekonomi pasar global.
Sudah saatnya kita meningkatkan kualitas para wirausaha yang hanya didasarkan atas dasar atas kebutuhan untuk hidup (necessity entrepreneurship) ke arah yang lebih baik. Tidak lain adalah menjadi wirausaha yang lebih pandai membaca dan merespon peluang (opportunity entrepreneurship).