Dr Ir Arief Daryanto MEc : Revitalisasi Industri Susu di Indonesia
Oleh: Dr Ir Arief Daryanto MEc
Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis
Institut Pertanian Bogor
Dalam perdagangan internasional produk susu, Indonesia berada pada posisi sebagai net-consumer (konsumen).Sayangnya, Industri Pengolahan Susu (IPS) sangat tergantung bahan baku dari impor yang mencapai lebih dari 75 %.
Dalam perdagangan internasional produk susu, saat ini Indonesia berada pada posisi sebagai net-consumer (konsumen). Masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi susu kental manis dan susu bubuk. Industri pengolahan susu nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku susu dalam bentuk susu bubuk dan susu kental manis.
Sayangnya, selama ini Industri Pengolahan Susu (IPS) masih sangat tergantung dengan bahan baku dari impor yang mencapai lebih dari 75 %. Jika kondisi tersebut tidak dibenahi dengan membangun sebuah sistem agribisnis persusuan nasional yang kuat, Indonesia akan terus menjadi negara pengimpor susu sapi.
Revolusi Putih
India merupakan contoh sukses negara yang berhasil melakukan revitalisasi peternakan susu melalui Revolusi Putih (RP). RP merupakan gerakan yang terencana dan sistematis untuk mengakselearasi pertumbuhan produksi susu. Sebelum program itu dilaksanakan, India merupakan negara pengimpor susu dalam jumlah yang sangat besar. Gerakan ini mulai dilaksanakan di India pada 1971 dan negara ini berhasil mencapai swasembada susu sejak 1998 - 1999.
Dalam meningkatkan produksi susu nasional agar “level of milk self-sufficiency” kita meningkat, kita bisa belajar dari program RP yang dilaksanakan oleh pemerintah India tersebut. Beberapa kekuatan pendorong yang melandasi dicanangkannya program RP antara lain: (a) prospek pasar komoditas dan produk susu semakin membaik seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat, (b) harga pasar komoditas/ produk susu terus meningkat dan memiliki nilai tambah yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman pangan, dan (c) dengan semakin tingginya konsumsi susu, maka anak-anak semakin sehat dan pintar, peternak juga akan memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan RP di India adalah adanya grand design dan action plan yang sangat rinci dan konsisten. Gerakan ini merupakan implementasi strategi kebijakan pengganti impor (import substitution strategy). Pertumbuhan yang sangat pesat dalam produksi susu di India antara lain disebabkan oleh beberapa faktor adanya intervensi yang sangat ekstensif dari pemerintah dan adanya permintaan yang meningkat yang disebabkan pertumbuhan populasi, peningkatan pendapatan, urbanisasi, serta perubahan selera makan dan gaya hidup.
Strategi Pengembangan
Kebijakan dalam upaya substitusi impor susu di Indonesia yang dapat diterapkan antara lain adalah (1) Pemerintah perlu memberikan dukungan nyata untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil ternak (susu) kepada para peternak, (2) Perlu dibentuk wadah kemitraan yang jujur dan memperhatikan kepentingan bersama antara peternak, koperasi susu dan industri pengolahan susu sehingga pengembangan agribisnis berbasis peternakan dapat berjalan dengan baik, dan (3) Koperasi susu perlu didorong dan difasilitasi agar dapat melakukan pengolahan sederhana susu segar, antara lain yakni pasteurisasi dan pengemasan susu segar, pengolahan menjadi yogurt, keju, dan sebagainya. Lalu (4) Pemerintah Pusat maupun Daerah seyogianya mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mampu memperkuat posisi tawar peternak sapi perah khususnya dan pengembangan agribisnis berbasis peternakan umumnya, serta (5) Pemerintah Pusat dan Daerah seyogyanya membiayai pelaksanaan program minum susu untuk anak-anak di sekolah.
Selengkapnya baca majalah Trobos edisi Februari 2012









