Kolom
01 June 2012
Nurfaizin : Optimalisasi Pasar Ternak Ambarawa

Oleh: Nurfaizin
Mahasiswa Produksi Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian
Universitas Diponegoro, Semarang

Pasar Ternak Ambarawa dibangun oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang disediakan untuk pedagang-pembeli sebagai prasarana pemasaran hewan yang hanya beroperasi pada tanggal pasaran jawa tepatnya pasaran pon. Pasar tersebut merupakan pasar ternak terbesar di Jawa Tengah yang telah dikenal lama beroperasi dan direnovasi kembali pada 2006.

Pedagang yang berdatangan adalah dari Jawa Tengah misalnya daerah sekitar Semarang, Boyolali, Magelang, Surakarta, Temanggung, Wonosobo, dan Banjarnegara. Termasuk pedagang dari luar Jawa Tengah seperti Madiun, Blitar, dan Tuban. Pada awalnya Pasar Ternak Ambarawa merupakan tempat jual beli ternak ruminansia dengan daya sirkulasi ternak sapi/kerbau sebanyak 650-1.000 ekor dan kambing/domba sebanyak 300-400 ekor.

Berdasarkan studilapang, jumlah pedagang tetap yang sekitar 120 orang, dan jumlah pengunjung sekitar 400 – 500 orang serta bisa meningkat sampai sekitar 700 orang jika hari pasaran pon jatuh pada tanggal muda pada kalender nasional. Seiring dengan perkembangannya, pada kenyataannya jenis ternak yang dijumpai semakin beragam seperti ayam, itik, kelinci, marmut, hamster, ular,dan merpati sehingga banyak pengunjung yang berdatangan baik untuk keperluan jual/beli (economic), survey lapangan (education), dan ingin melihat-lihat saja (refreshing), dalam hal ini mempunyai potensi sebagai “Ekoduta Centre”(Pusat EKOnomi, eDUkasi dan wisaTA).

Seiring dengan perkembangan aktivitas pasar ternak Ambarawa tidak diimbangi dengan kesadaran menjaga lingkungan yang baik dari pelaku usaha. Hal tersebut mendatangkan berbagai masalah seperti penataan ternak yang masih semrawut, pengolahan limbah yang kurang baik, sampah dan feses yang berserakan dimana-mana dan air yang menggenang.

Akibatnya hal tersebut membuat pasar ternak menjadi tempat yang semrawut, kotor dan tidak teratur. Bahkan jika lama-kelamaan dibiarkan dapat merusak lingkungan. Hal tersebut tentunya dapat menurunkan pengunjung karena mempunyai pandangan pasar ternak adalah tempat yang jorok dan dapat dengan cepat penularan penyakit ternak karena lingkungan yang kotor dan drainase yang tidak lancar merupakan tempat hidup bibit penyakit.

Selain itu, dengan keadaan yang demikian sebenarnya melanggar animal welfare (kesejahteraan hewan) yang dewasa ini semakin ditegakkan. Animal welfare sebenarnya mempunyai tujuan agar ternak merasa nyaman dan sejahtera sehingga ternak dapat berproduksi maksimal dan sehat karena tidak mudah terserang penyakit sebagai positive impact dari lingkungan yang bersih.

Benahi Pasar
Untuk mengoptimalkan potensi sebagai “Ekoduta Centre” dibutuhkan penyelesaian mengatasi masalah di atas. Dalam hal ini, prinsip 5R (ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin) dirasa mampu menjadi solusi karena pada dasarnya 5 R merupakan sebuah standarisasi sederhana K3 dalam industri.

Jika meninjau lebih dalam ternyata prinsip 5R sangat sederhana dan sangat dimungkinkan untuk diterapkan di bidang peternakan dalam hal ini aktivitas pasar ternak. Caranya dengan menganalisa pendekatan subjek, persamaan antara industri dengan pasar ternak,jumlah orang yang terlibat banyak dengan bermotifkan ekonomi, meninggalkan limbah dari aktivitas tersebut, dan menyangkut keadaan lingkungan sekitar.

Oleh karena itu implikasi prinsip 5R dalam pelaku usaha peternakan di pasar hewan Ambarawa adalah prinsip ringkasadalah memisahkan segala sesuatu yang diperlukan dan menyingkirkan yang tidak diperlukan.Dalam pasar ternak tersebut contoh aplikasinya adalah pemilik ternak segera membersihkan limbah setelah usaha selesai atau tutup.

Prinsip rapi adalah menempatkan ternak sesuai dengan kelompok jenis dan kapasitasnya. Dengan kerapian akan menjadi indah jika dipandang tentunya bisa menjadi daya terik pengunjung pasar ternak Ambarawa. Prinsip resik adalah membersihkan tempat atau lingkungan kerja, dalam hal ini pelaku usaha sadar diri misalnya pedagang membersihkan feses dan sisa pakan yang berasal dari ternaknya.

Prinsip rawat adalah mempertahankan hasil yang telah dicapai. Dalam hal tersebut pelaku usaha dalam pasar ternak menjalankan prinsip 5R tersebut secata kontinuu. Prinsip rajin adalah terciptanya kebiasaan positif pribadi pelaku ekonomi untuk menjaga dan meningkatkan apa yang sudah dicapai. Jika hal tersebut berhasil dilaksanakan, diharapkan dapat menjadi percontohan pasar ternak di Indonesia.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012