Kolom & Opini
01 June 2012
Ketut Sugama : Menakar Revitalisasi Tambak Udang Pantura

Oleh: Ketut Sugama
Peneliti Pusat Riset Perikanan Budidaya
Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan

Revitalisasi tambak di Pantura (Pantai Utara Jawa) dalam mendukung industri perudangan nasional telah dicanangkan oleh KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) dengan target produksi 2014 sekitar 214.120 ton dari luasan tambak 135.213 ha. Banyak pemangku kepentingan (stakeholher) pertambakan udangyang menanyakan kenapa harus Pantura dan banyak pula yang meragukan tercapainya target yang telah dicanangkan tersebut.

Program ini akan berhasil sesuai rencana apabila semua pemangku kepentingan mendukung dan bekerjasama dalam setiap segmen kegiatan. Telah dijelaskan pula alasan dan tujuan penentuan Pantura sebagai awal dari pengembangan udang nasional yaitu pertama, sepanjang pantai Pantura ada sekitar 320.000 Ha tambak baik tradisional, semi intensif, dan intensif serta tambak bandeng yang mangkrak Tantangan Revitalisasi

Melalui program strategis ini yang telah disusun dengan cermat diharapkan target akan terealisasi apabila semua berjalan sesuai rencana. Namun demikian ada beberapa permasalahan operasional yang dapat menghambat dan perlu ditindaklanjuti. Permasalahan tersebut diantaranya komitmen dan dukungan pemerintah daerah (kabupaten/kota) yang disertakan dalam program ini.

Pemerintah daerah harus menyadari betul bahwa program ini bukanlah program pemerintah pusat tetapi merupakan program bersama pusat dan daerah. Pemerintah pusat melalui Ditjen (Direktorat Jenderal )Perikanan Budidaya KKP hanya membantu penyediaan sarana dan prasarana yag diperlukan untuk kegiatan budidaya yang tidak bisa disediakan daerah.

Masalah daya dukung Pertambakan Pantura menurut studi 2001 (komunikasi Pribadi dengan Dr. Bambang Widigdo), bahwa daya dukung Pantura untuk tambak udang yang lumintu (berkelanjutan) hanya sekitar 46.000 ha dengan ajuran produksi produksi berkisar antara 7 - 10 ton/tahun. Kemungkinan pada 2012 daya dukung sudah menurun dikarenakan adanya dampak dari perubahan lingkungan akibat dari limbah kegiatan penduduk dan industri. Ini harus menjadi pertimbangan dalam perluasan revitalisasi.

Untuk mengatasi masalah ini perlu dilakukan survei lapangan dan tentukan kawasan yang secara teknis memungkinkan untuk dikembangkan dengan biaya minimal. Kawasan yang telah ditentukan dilakukan uji-kaji penerapan teknologi yang tepat di masing-masing kawasan. Kondisi tambak baik sumber pasok air, tekstur dan kesuburan tanah, biasanya berbeda di masing-masing kawasan, sehingga dibutuhkan modifikasi teknologi di setiap kawasan.

Sentuhan Teknologi
Petembak udang vannamei intensif di daerah Subang Jawa Barat yang sudah beroperasi sejak 2004 dengan produksi antara 20 - 37 ton/ha/musim tanam, telah menerapkan sejumlah standar operasional dan modofokasi teknologi. Standar tersebut antara lain penerapan biosekuriti yang ketat dan sistem tertutup (close system) dengan pergantian air sedikit sebanyak yang menguap sebagai dampak dari evaporasi.

Lalu ada juga standar aerasi yang cukup dengan kincir dan supercharge agar oksigen terlarut tidak kurang dari 5 ppm, dan pemakaian probiotik sebagai bakteri pengurai sisa pakan dan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri pathogen. Tidak kalah pentingnya penebaran benur (benih udang) yang bebas penyakit (Spesifik Pathogen Free/SPF) dan berkualitas baik yang diproduksi dari hatchery (pembibitan) yang telah mendapat sertifikat Cara Perbenihan Ikan yang Baik (CPIB).

Petambak di Subang juga melakukan perbaikan daya dukung lahan dengan melakukan penyiponan tambak saat budidaya berlangsung dan dasar tambak di tutup dengan plasik Hight Density Polyethilen (HDPE), plastik mulsa, terpal, atau tambak disemen/dibeton. Pola intensif dengan kepadatan tinggi (tebar awal 200 ekor/m2), sebaiknnya pemanenan dilakukan secara parsial (bertahap) berdasarkan daya dukung lahan. Udang ukuran size (ukuran) 150 ekor/kg hasil panen partial umur 50 hari berharga Rp 27 - 30 ribu, sedangkan size 70 – 60 ekor/kg berharga Rp 42- 45 ribu setelah dipelihara 100 - 110 hari.

Penerapan teknologi tersebut diperlukan penyuluh yang handal dan berpengalaman dalam budidaya udang tambak dengan teknolgi terbarukan. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa budidaya udang selalu berhasil apabila teknisi berpengalaman dan memiliki motivasi kuat serta kecintaan dalam budidaya udang . Selama ini penyuluh/pendamping teknologi yang paling handal adalah teknisi dari pabrik pakan yang secara berkala mengunjungi dan memberi pencerahan teknologi kepada petambak binaannya.

Waspada Penyakit
Benur baik mutu dan jumlahnya juga menjadi penentu dalam keberhasilan budidaya udang. Benur hasil hatchery sebelum ditebar di tambak harus betul-betul bebas paling tidak 6 virus yaitu WSSV, TSV, IHHNV, IMNV, Laem-Singh virus, serta telah dilaporkan juga akhir-akhir ini di dua negara Asia telah terjadi early mass mortality (kematian mendadak dalam jumlah banyak) pada udang budidaya yang penyebab patogennya belum diketahui (virus atau bakteri).

Untuk menghindari masuknya virus baru, sebaiknya kita harus mengurangi impor induk dan mulai memproduksi indukan sendiri dalam negeri. Balai Budidaya Pantai Situbondo dan Broostock Center dan Multiplication Center Ditjen Budidaya sudah pernah melepas induk udang vannamei unggul hasil seleksi yang diberi nama Vaname Nusantara-1 (VN-1).

Pada awalnya performa induk VN-1 sangat baik dan diminati petambak, namun dalam perjalanannya banyak keluhan oleh pengguna bahwa hasil anakan VN-1 banyak yang blantik (ukuran tidak seragam), sehingga kurang diminati petambak. Saat ini pakar Jejaring pemuliaan udang vannamei Ditjen Budidaya KKP, Balitbang KP (Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan), BPPT (Badan Pengkajian dan Pnerapan Teknologi), dan swasta, kembali mengevaluasi penyebab blantik dan coba memperbaiki kembali indukan udang vanname secara genetik. Pihak swasta yang berlokasi di Lombok (Global Gen) juga memproduksi induk unggul dan SPF untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Dukungan Perbankan
Keberhasilan dari program revitalisasi tambak Pantura sangat ditentukan oleh ketersediaan dana baik untuk perbaikan infrastruktur saluran dan modan kerja. Perbaikan saluran yang dibantu oleh Kementerian Pekerjaan Umum sedang dan akan dikerjakan. Sedangkan untuk modal operasional kita sangat berharap pinjaman KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang dijanjikan oleh Bank BRI, Bukopin, dan Mandiri menjadi kenyataan, kalau tidak program ini akan terhambat. Selain itu skema bantuan PUMP (Pengembangan Usaha Mina Pedesaan) juga perlu diarahkan untuk mendukung revitalisasi tambak ini.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012