Kolom & Opini
01 November 2012
David Kusmawan : Menuju Pasar Sehat Unggas

Oleh: David Kusmawan
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor

Pasar unggas sehat merupakan salah satu tindakan preventif dalam menanggulangi penyebaran dan terjadinya endemi flu burung. Sebab pasar unggas merupakan salah satu titik kritis tempat penyebaran dan menyebarnya wabah ini.

Beberapa waktu lalu muncul kabar kembalinya virus flu burung/Avian Influenza (AI) di peternakan unggas di Miyazaky Jepang. Berita tersebut juga menyebutkan telah dilakukan pemusnahan ratusan ribu unggas demi menahan meluasnya wabah. Dan dari pengujian awal terbukti bahwa enam dari ayam-ayam itu mati karena subtipe H5 virus flu burung. Bagaimana dengan Indonesia?

Meskipun wabah flu burung di Indonesia menunjukkan penurunan jumlah kasus kematian pada manusia, namun ada baiknya tetap melakukan usaha preventif demi mencegah timbulnya wabah ini lagi.  Salah satu usaha yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah mengimplementasikan dan membangun pasar sehat unggas.

Tekait ini, tim mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor didukung dana dari Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan Nasional telah berhasil menjadi salah satu finalis dalam acara student paper contest and conference (ADIC 2011) di Universitas Kebangsaan Malaysia. Keberhasilan tersebut berkat mengusung karya tulis bertemakan konsep dan pengembangan Pasar Sehat Unggas.

Mengapa harus pasar unggas sehat? Ini merupakan salah satu tindakan preventif dalam menanggulangi penyebaran dan terjadinya endemi flu burung. Sebab pasar merupakan salah satu titik kritis tempat penyebaran dan menyebarnya wabah ini.  Berikut contoh aplikatif dan hal yang harus diperhatikan di dalam mewujudkan pasar Sehat Unggas di Indonesia.

Pertama adalah penentuan lokasi pasar. Lokasi tempat pendirian pasar unggas sehat harus berada di tempat yang lebih rendah dari tempat pemukiman dengan kondisi lahan berdrainase baik, yaitu landai dan bebas banjir. Faktor ke dua yaitu desain arsitektur. Seyogyanya desain dan tata ruang dari sebuah pasar tradisional unggas ini dibuat sedemikian rupa sehingga memenuhi standar kesehatan suatu bangunan. Besar dan luas bangunan pasar sebanding dengan jumlah pedagang yang ada. 

Faktor ke tiga yaitu sarana pembuangan limbah pasar.Pembuangan limbah di dalam komplek pasar harus mempunyai komplek yang cukup serta dibuat dengan desain khusus. Sarana pembuangan limbah ini harus tidak menjadi sumber bau dan/sarang hama seperti tikus. Saluran dibuat dengan sistem terbuka yang dilengkapi dengan penyaring (grill) ataupun saringan biasa sehingga bisa dihindarkan penyumbatan saluran di bawah permukaan tanah.

Faktor ke empat adalah penataan ruang (zoning mixed use).Daerah bersih merupakan areal utama di dalam melakukan kegiatan jual beli. Pada area ini kontaminan seperti sampah, darah, dan cairan limbah harus minimum. Pemisahan daerah penjualan unggas dan non unggas. Daerah kotor seperti penampungan unggas sementara, tempat pembuangan sampah dan limbah unggas.

Faktor ke lima yang harus diperhatikan yaitu sarana pengolah limbah. Sesuai dengan batasan air limbah yang merupakan benda sisa, maka air limbah merupakan benda yang sudah tidak digunakan lagi. Tetapi tidak berarti air limbah tersebut tidak perlu dilakukan pengelolaan. Sebab jika limbah tersebut tidak dikelola secara baik akan bisa menimbulkan gangguan, baik terhadap lingkungan maupun terhadap kehidupan yang ada.

Air limbah sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia mengingat bahwa banyak penyakit yang bisa ditularkan melalui air limbah. Air limbah yang berada di pasar unggas ini ada yang hanya berfungsi sebagai media pembawa saja seperti penyakit kolera, radang usus, hepatitis infektiosa, serta schitosomiasis. Selain sebagai pembawa penyakit di dalam air limbah itu sendiri banyak terdapat bakteri patogen penyebab penyakit seperti virus AI, Vibrio Cholera, Salmonellosis, Shigella Spp, Bacillus Antraxis, Brusellosis, Leptospirosis, Entamuba Histolitika, Schistosomasis.

Faktor ke enam yang perlu mendapat perhatian adalah dukungan fasilitas pasar.Sebagai sarana penunjang terbentuknya pasar sehat unggas ini perlu diperhatikan adanya sarana seperti mushola, pos keamanan (security), tempat pembuangan sampah, kamar mandi, ATM center, pompa hidrant, dan sarana parkir.

Faktor ke tujuh yaitu personal hygiene pedagang. Artinya sebagai suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang guna kesejahteraan fisik dan psikis. Sedangkan  kurang perawatan diri adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya.

Seorang pedagang unggas harus berbadan sehat,menggunakan sarana pelindung diri (PEE), selalu menjaga kebersihan kandang, memelihara kesehatan unggas, memperhatikan sanitasi lingkungan, membersihkan diri setiap selesai kontak dengan unggas, melaporkan kepada petugas jika terdapat unggas yang sakit, melakukan aktivitas bongkar muat unggas di tempat yang telah ditentukan.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi November 2012