Kolom & Opini
20 February 2013
Budi Wijaya : Ambisi Kuasai Pasar Ikan Hias Dunia

Oleh : Budi Widjaja
Ketua Komisi Ikan Hias Indonesia

Ikan hias merupakan salah satu komoditas yang turut memberikan kontribusi terhadap perolehan devisa dari ekspor nonmigas. Berdasarkan data dari United Nation Commodity Trade Statistics Database 2011, nilai ekspor ikan hias Indonesia pada 2010 sebesar US$ 19.776.172 atau sebesar 5,95% dari total nilai ekspor ikan hias di dunia yang mencapai US$ 332.340.091.Indonesia menempati posisi ke lima di bawah Singapura, Jepang, Thailand,dan Republik Ceko.

Saat ini, Singapura adalah negara yang menempati posisi tertinggi sebagai negara pengekspor ikan hias dunia.Ekspor ikan hias dari Singapura  mendominasi sekitar 11 % dari perdagangan dunia, yang tercatat nilainya sekitar US$ 38 juta.

Suatu hal yang sangat dilematis bahwa di satu sisi, Singapura merupakan negara dengan luas geografis dan sumber daya alam yang terbatas, namun mampu menjadi negara eksportir ikan hias terbesar. Di lain sisi, Indonesia, negara yang kaya akan sumber daya alam hanya dapat duduk pada urutan ke lima dalam industri ikan hias dunia.

Mungkin ini hanyalah sebuah mimpi dan ambisi besar, bahwa Indonesia dapat menjadi negara produsen dan eksportir ikan hias terbesar di dunia. Namun, mimpi ini dapat menjadi kenyataan apabila kita benar-benar melakukan beberapa langkah terobosan yang dapat mendukung perkembangan industri ikan hias di tanah air.

Salah satu pangsa pasar ikan hias terbesar saat ini adalah Cina. Dengan jumlah penduduk dan luas negara yang besar adalah salah satu potensi yang seharusnya, Cinamenjadi sasaran ekspor ikan hias Indonesia untuk dapat meningkatkan posisi Indonesia.

Namun hal ini juga memiliki beberapa kendala, pintu masuk ke Cina seringkali dilakukan dengan penyelundupan melalui Hongkong atau Makau. Bahkan dapat dikatakan bahwa mayoritasikan hias Indonesia yang masuk ke Cina saat ini menggunakan jalur tersebut dan dikuasai oleh segelintir pengusaha saja.

Tantangan Bisnis
Bicara prospek ikan hias Indonesia sebenarnya prospek itu sangat besar, karena pangsa pasar tidak hanya di luar negeri tapi di dalam negeri juga masih banyak yang belum digarap. Namun tantangan bisnis ikan hias itu cukup banyak. Contohnya masalah infrastruktur logistik. Pengiriman ikan hias dari wilayah Indonesia timur ke Indonesia barat masih sangat sulit dan mahal.

Penanganannya pun sering kali tidak baik sehingga ikan tingkat kematiannya tinggi sekali. Hal inilah menjadi salah satu penyebab banyak para penggemar ikan hias di luar negeri lebih memilih membelinya dari Singapura.

Masalah perizinan di Indonesia yang tumpang tindih juga harus menjadi sorotan. Contohnya kasusikan  arwana yang berdasarakan peraturan sudah seharusnya kewenangannya diatur oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, aturan CITES(perlindungan satwa yang terancam punah) masih dipegang Kementerian Kehutanan. Masih banyak yang perlu dibenahi sementara pangsa pasar di dunia semakin hari semakin besar.

Bukan Prioritas
Masih banyak yang beranggapan ikan hias sesuatu yang jika mati dibuang saja ke toilet, tidak ada apresiasi yang lebih tinggi. Sebagai contoh kita bicara dengan lembaga penelitian pemerintah. Jika kita ajukan nama ikan hias, maka akan termasuk yang dicoret karena bukan skala prioritas. Sangat disayangkan kurangnya apresiasi dari beberapa pihak tentang ikan hias.

Dalam 3 tahun ini, ada banyak keterbatasan seperti keterbatasan anggaran untuk melakukan pameran dan aturan-aturan masalah ekspor impor. Jika kita perhatikan ekspor impor itu bagian dari promosi bukan budidaya, sementara di budidaya masih ada anggapan memproduksi ikan hias seperti ikan konsumsi. Mereka kurang memahami adanya edit value dalam ikan hias seperti kualitas warna, hal itu yang masih perlu dibenahi.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 15 Februari -14 Maret 2013