Kolom
01 March 2013
Prof drh Widya Asmara PhD : Vaksinasi AI pada Itik, Penting?

Oleh : Prof drh Widya Asmara PhD
- Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Yogyakarta
- Ketua Komisi Obat Hewan (KOH), Kementan RI

Kematian yang massif pada ternak itik di awal wabah AI clade 2.3.2 salah satunya disebabkan karena sebagian besar ternak itik waktu itu dalam tubuhnya belum ada kekebalan sedikitpun terhadap virus AI clade baru tersebut. Meskipun demikian fenomena terbentuknya kekebalan secara alami ini tidak menafikkan pentingnya vaksinasi pada ternak itik.

Dalam usaha mengurangi  keparahan wabah AI pada ternak itik, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam surat edaran tertanggal 3 Januari 2013 menganjurkan vaksinasi pada ternak itik. Sebelum tersedia vaksin AI yang baru maka vaksinasi sementara waktu menggunakan vaksin AI yang sekarang tersedia. 

Disebutkan pula dalam surat edaran, bahwa setelah melalui kajian laboratorik disepakati akan diproduksi vaksin AI dengan masterseed virus AI H5N1 clade 2.3.2 isolat Sukoharjo dengan kode IB. Rapat Komisi Obat Hewan (KOH) tanggal 10 Januari 2013 juga telah menyepakati untuk memberikan rekomendasi bahwa vaksin AI H5N1 clade 2.3.2 diizinkan untuk diproduksi sebagai respon tanggap darurat wabah AI pada itik. Disepakati pula saat ini belum  ada kewajiban bagi produsen vaksin untuk segera memproduksi vaksin AI H5N1 clade baru ini.  Tetapi produsen vaksin baik swasta maupun Pusvetma dapat memperoleh masterseed vaksin virus AI H5N1 clade 2.3.2 inidari lembaga pemerintah yang telah ditunjuk untuk keperluan tersebut. Sedangkan peredaran vaksin AI baru ini tidak harus ditangani oleh pemerintah, tetapi seyogyanya diserahkan pada mekanisme pasar sesuai dengan prinsip supply and demand.

Vaksin yang ada protektif terhadap virus baru?
Apakah vaksin AI yang sekarang tersedia tidak dapat melindungi ternak unggas dari serangan virus AI clade baru? Data yang dikumpulkan oleh para peneliti menunjukkan bahwa secara skala laboratorik vaksin AI H5N1 clade 2.1.3 masih memberikan perlindungan parsial terhadap serangan virus AI H5N1 clade 2.3.2 tersebut. Tetapi keadaan di lapangan kemungkinan dapat memberikan hasil yang berbeda karena dosis tantangan virus akan lebih besar. Karena itu penelitian secara lengkap dan mendalam, yang dilakukan sesuai dengan kaidah  current good laboratory practices (cGLPs) dan current good clinical practices (cGCPs), harus dilanjutkan sampai tuntas.

Dalam teori imunologi disebutkan bahwa vaksin penyakit viral yang ideal harus mengandung antigen yang berasal dari galur virus yang prevalen di lapangan. Tingginya tingkat homologi sifat antigenik galur virus seed vaksin dengan galur virus tantang yang prevalen di lapangan akan berpengaruh pada tingginya tingkat perlindungan yang ditimbulkan. Karena sifat biologik  dari virus influenza yang mudah mengalami mutasi, sehingga sering terbentuk quasi species, maka sangat sulit untuk menyiapkan vaksin dengan masterseed yang 100% homolog epitop antigeniknya dengan semua galur virus influenza yang ada di lapangan. Karena itu kebijakan pemerintah yang mewajibkan industri vaksin AI hanya menggunakan galur virus AI tertentu dalam pembuatan vaksin AI, perlu disikapi dengan lebih bijaksana.

Vaksin AI H5N1 clade 2.3.2 menggantikan vaksin lama?
Sambil menunggu hasil kajian yang lengkap, vaksin AI H5N1 clade 2.3.2 yang baru ini akan memperoleh nomor pendaftaran sementara (DPS). Sampai hari ini penelitian masih berlangsung untuk memastikan apakah vaksin AI H5N1 clade 2.1.3 tidak dapat melindungi terhadap tantangan virus AI H5N1 clade 2.3.2, apabila terbukti tidak melindungi maka produksi vaksin AI baru dapat diteruskan.

Penelitian juga harus dilakukan untuk membuktikan apakah vaksin AI H5N1 clade 2.3.2 selain dapat melindungi tantangan virus AI H5N1 clade 2.3.2 juga dapat melindungi tantangan virus AI H5N1 clade 2.1.3. Apabila terbukti tidak dapat melindungi maka tidak ada landasan ilmiah untuk melarang produksi dan peredaran vaksin AI yang lama tersebut, karena data  menunjukkan bahwa virus AI H5N1 clade 2.1.3 dan clade 2.3.2 berada bersama-sama di lapangan, baik di peternakan itik maupun di peternakan ayam.

Vaksinasi massal pada itik, urgen?
Kematian yang massif pada ternak itik di awal wabah ini (September-Desember 2012) salah satunya disebabkan karena sebagian besar ternak itik waktu itu masih 'naif'. Artinya, dalam tubuhnya belum ada kekebalan sedikitpun terhadap virus AI clade baru tersebut. Makin menyebarnya virus AI clade baru secara tidak langsung juga akan memberi kesempatan ternak itik kontak dengan virus, dan apabila dosis kontak tidak terlalu tinggi akan memberikan kesempatan kepada ternak itik tersebut untuk membangun kekebalan terhadap virus AI. Dengan demikian diharapkan dalam beberapa bulan ke depan kasus kematian itik juga akan mereda.

Meskipun demikian fenomena terbentuknya kekebalan secara alami ini tidak menafikkan pentingnya vaksinasi pada ternak itik. Keberhasilan vaksinasi sebaiknya selalu dipantau (monitoring dan evaluasi pascavaksinasi).

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi Maret 2013