Mini Fokus
01 September 2007
Antilin: Cara Praktis Deteksi Formalin

Terkendala mahalnya alat uji serupa dari luar negeri, maka dibuatlah alat uji formalin yang lebih praktis dan ekonomis

Ade terbujur lemas di atas dipan kayu. Bolak-balik dia mengusap perutnya. Sesekali tanganya mengambil botol minyak angin dan mengoleskannya di perut dengan harapan rasa mulas bisa berkurang. Seharian ini pedagang sayur di Pasar Minggu itu sudah muntah 5 kali diselingi dengan berak darah setelah sebelumnya menyantap cumi asin, makanan kegemarannya. Tubuhnya pun menjadi lemas. Tetapi Ade tak bisa langsung memulihkan tenaga dengan makanan. Kerongkongannya susah menelan makanan.
Dokter mendiagnosa Ade keracunan formalin, bahan kimia yang biasa digunakan untuk mengawetkan jenazah. Meski mengalami sakit cukup parah tapi Ade masih dianggap beruntung karena hanya mengalami gejala ringan keracunan formalin. Pada kasus keracunan formalin dalam dosis tinggi akan menyebabkan kejang-kejang, kencing darah atau muntah darah bahkan bisa menyebabkan kematian.
Formalin, kendati penggunaan dalam makanan sebenarnya telah dilarang oleh pemerintah, tetapi masih saja ada produsen nakal yang menggunakannya sebagai pengawet makanan termasuk produk perikanan. Kasus ini pun belakangan mencuat kembali terkait dengan laporan BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) tentang keberadaan formalin dalam beberapa produk makanan dan kosmetik asal China.
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) melaporkan, tingkat penggunaannya pada produk perikanan masih tinggi (lihat grafik). Penggunaan formalin ini bahkan telah mengalami pergeseran. Yaitu dari produk segar ke produk olahan, terutama bagi produk yang mempunyai nilai jual tinggi seperti jambal, ikan asin berdaging tebal dan produk cumi asin. Penggunaan formalin dalam produk olahan ini dimaksudkan agar produk dapat dijual dalam keadaan setengah kering tanpa ada pembusukan. Dengan cara ini, pengolah akan tetap untung dan terhindar dari risiko berkurangnya susut bobot karena pengeringan.

Tak Terdeteksi
Dari kondisi terakhir, maka DKP cq. Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan telah membuat inovasi berupa alat uji (test kit) residu formalin secara kualitatif yang dikenal sebagai antilin. Adalah Endang.
Endang Sri Heruwati, motor utama dalam riset test kit tersebut mengungkapkan, ikan atau makanan lain yang mengandung formalin tak dapat dideteksi secara fisik. ?Formalin pada ikan atau makanan tak bisa dideteksi,? ujar Endang saat ditemui di kantornya. Formalin, imbuhnya, tidak menyebabkan perubahan rupa, bau, warna ataupun rasa. Karena itu dibutuhkan alat penguji.
Pengujian formalin bisa secara kuantitatif maupun kualitatif. Untuk uji kuantitatif hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan peralatan khusus. Sementara uji kualitatif bisa dilakukan di lapangan dengan metode sederhana. Uji secara kualitatif inilah yang kini tengah diusahakan Endang dan kawan-kawan.
Meski demikian, Endang mengaku pihaknya bukan yang pertama menemukan alat uji formalin. Test kit tersebut sebenarnya telah ada di pasaran, tetapi karena produk impor harganya mahal. Berkisar Rp 1,2 juta sampai Rp 1,3 juta untuk 100 sampel.
Endang menyebutkan, mahalnya produk tersebut karena tujuannya untuk riset, bukan untuk aplikasi di lapangan.  Nilai lebih test kit ini, antaralain tingkat kepekaannya tinggi, yaitu mencapai 0,1 ppm. Selain itu karena berupa serbuk maka daya simpannya bisa bertahun-tahun.
Cara penggunaannya, sampel yang akan diuji dihancurkan, kemudian ditambah dengan air hangat dan diaduk sampai rata (homogen). Kemudian ditambahkan dua macam serbuk dari test kit ini dan dikocok. Keberadaan formalin bisa dilihat dari perubahan warna yang muncul. ?Produk dari luar negeri itu sebenarnya bagus, cuma kita tidak mampu kalau harus membeli semahal itu, apalagi nelayan,? kata Endang.

Antilin Buatan dalam Negeri
Berangkat dari realitas tersebut, Endang dan kawan-kawan membuat produk sejenis dengan harga lebih terjangkau. Test kit ini terdiri atas larutan asam mineral dan larutan campuran pewarna antara pewarna parosanilin dengan sulfit yang dilengkapi dengan dua tabung reaksi dan satu spuit untuk mengambil larutan sampel.
Cara pemakaiannya hampir sama, sampel dihancurkan, ditambah  air hangat dan diaduk sampai homogen. Larutan sampel kemudian dimasukkan dalam dua tabung reaksi. Ke dalam satu tabung ditambahkan asam mineral, kemudian ditambah lagi campuran pewarna dengan sulfit. Sedangkan satu tabung sampel lain tidak ditambah apapun, sebagai kontrol.
Antilin buatan dalam negeri ini harganya Rp 180 ribu untuk 50 sampel. Spesifikasinya  berupa larutan dengan tingkat kepekaan lebih rendah, yaitu 2 ppm, serta daya tahannya mencapai 3 bulan pada suhu 0 sampai 50C (di dalam kulkas).

Selengpkapnya baca Majalah TROBOS edisi September 2007