TROBOS LIVESTOCK : Menarik Rambut dari Tepung
Indonesia melarang masuknya daging sapi dan turunan bahan pakan asal sapi dari AS karena munculnya kasus sapi gila di California. Pelarangan ini dipuji banyak pihak, meski tetap menyisakan sejumput kekhawatiran. Karena AS bukan tak mungkin akan mengeluarkan kartu as -nya dengan menaikkan harga bahan pakan seperti jagung dan SBM
SAMPAI tulisan ini diturunkan, Menteri Pertanian Suswono belum mencabut instruksi nomor 2/2012 tanggal 26 April 2012 tentang larangan sementara impor daging sapi dari AS (Amerika Serikat). Termasuk di dalamnya adalah MBM (Meat Bone Meal= tepung daging & tulang), jeroan, daging bertulang (bone and meat), dan gelatin. Larangan itu muncul setelah pada 23 April 2012 pihak yang berwewenang di AS mendapati seekor sapi yang terjangkit mad cow, sapi gila atau BSE (bovine spongiform encephalopathy). Dalam pada itu Menteri Suswono sempat mengisyaratkan, masa inkubasi penyakit sapi gila sekitar delapan tahun. Simpulnya, kalau dalam kurun waktu delapan tahun mad cow tak nongol lagi, barulah dinyatakan bebas BSE.
Segera setelah mendengar larangan, hari Kamis 26/04 itu juga perwakilan dagang AS menyerukan agar Indonesia mencabut larangan impor yang diberlakukan bagi sejumlah produk sapi asal Amerika. Berbicara dalam konferensi pers di Singapura, perwakilan dagang Amerika Ron Kirk mengatakan “tidak ada alasan untuk takut“ bahwa temuan kasus sapi gila di California pada hari Senin (23/04) telah menyebar.“Tak ada bukti laporan bahwa produk yang telah terkontaminasi (sapi gila-red) ini telah memasuki rantai makanan kami (Amerika-red) atau dunia. Dan tidak ada alasan, dalam analisis yang saya pahami…bagi para konsumen untuk cemas tentang daging asal Amerika. Jadi kita harapkan bahwa Indonesia akan dengan cepat membuka kembali pasar konsumen mereka untuk produk-produk sapi asal Amerika“ kata Ron Kirk.
Tahun lalu Indonesia mengimpor tak kurang dari 100.000 ton daging sapi dari seluruh dunia, 18.000 ton di antaranya berasal dari AS.Larangan impor ini dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, sehari setelah jaringan penjual eceran asal Korea yakni Lotte Mart dan Home Plus menyatakan bakal menghentikan penjualan daging sapi asal Amerika.Namun Home Plus hanya sembilan jam menghentikan penjualan, karena pada hari Rabu 25/04 malam mereka telah kembali menjual produk daging sapi asal Amerika.Sementara Uni Eropa menyatakan kepercayaan dengan menyatakan tidak punya rencana melarang impor daging sapi asal Amerika.
* * *
BAGI Indonesia, ihwal berjangkitnya penyakit menular pada hewan di manca negara, apakah itu mad cow (sapi gila), PMK (penyakit mulut dan kuku), dan terlebih flu burung, sangat berpengaruh terhadap kelangsungan pembangunan peternakan Indonesia. Ini karena sudah sejak beberapa dasawarsa terakhir, negeri agraris ini kian bergantung pada impor produk-produk sapi maupun beberapa bahan baku pakan ternak, antaralain jagung – tepung ikan – MBM – tepung tulang – bungkil kedele, dan bahkan bekatul. Untuk MBM saja, tiap tahun Indonesia mengimpor 300.000 ton. Sebagian besar dari AS, sisanya dari Australia, Selandia Baru, dan Kanada.
Kasus sapi gila di AS itu memang tidak seganas kasus sama yang beberapa tahun lalu terjadi di Inggris. Pernyataan dan seruan Ron Kirk pun bisa dianggap masuk akal. Tetapi pelarangan yang dikeluarkan oleh Menteri Suswono juga cukup beralasan, tidak bisa dibilang tergesa-gesa. Mengapa? Kecuali flu burung yang sudah hampir satu dasawarsa belum juga berhasil dizerokan, juga ancaman wabah anthrax, sapi gila maupun PMK masih menjadi momok.
Terlebih di era pasar bebas ini, secara diam-diam ancaman itu mudah menebar dan menyebar ke mana-mana lewat jalur tol impor-ekspor yang secara kebetulan dihalalkan oleh badan notivikasi SPS-WTO. Di poin inilah pelarangan Menteri Pertanian itu berpotensi mengandung dilema jika diingat bahwa sebagian jumlah bahan baku pakan ternak (MBM, BM, jagung, bungkil kedele) diimpor dari AS. Dengan kata lain, pelarangan ini bukan tidak mungkin mendorong AS melakukan langkah “balas dendam”. Antara lain bisa dengan halus mengubah tarif atas komoditi ekspor dan impornya, bisa juga dengan alasan tertentu ia melakukan “embargo terselubung”.
Yang jelas, sisi buruk pelarangan itu bisa menjadi bumerang bagi kelangsungan atau pun stabilitas harga bahan baku pakan impor dari AS. Yang segera terasa, kecuali jagung Indonesia terpaksa mengimpor MBM dan bahan baku pakan lainnya dari negara lain. Sesudah itu kemungkinan negatifnya akan berantai. Mulai dari kemungkinan harga bahan baku pakan naik, harga pakan pun kian meninggi. Dan selagi dayabeli di pasar domestik tercekik, maka keniscayaan itu pun datang: hidup sebagian besar dari 12,5 juta peternak budidaya berikut keluarganya akan kian terekan, atau gulungtikar.
Bagaimanapun kasus sapi gila di AS dan pelarangan oleh Menteri Pertanian atas impor semua produk sapi dari AS bisa lah menjadi pelecut dan peringatan, bahwa swasembada adalah cara yang sangat tidak gampang tetapi juga sangat menentukan ketahanan, keamanan,dan kesehatan pangan. Kasus ini bahkan sekaligus mengingatkan agar pemerintah mampu bersikukuh mempertahankan keberadaannya sebagai negara yang “Bebas PMK” (penyakit mulut & kuku).
Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012










