Manajemen Unggas
01 February 2009
Colibacillosis: Sang Cheerleader Oportunis

Dia lihai mempergunakan kesempatan, menginfeksi dengan mengikuti penyakit lain yang lebih dulu membobol pertahanan tubuh ayam

Ali terpaku menatap ayam-ayam broiler di kandangnya yang tampak lesu. Peternak muda dari Kediri itu sebelumnya telah berencana untuk memanen ayamnya dalam waktu dekat. Tetapi sejak beberapa hari terakhir, ayam-ayam tersebut malah jadi tidak doyan makan. Sebagian diantaranya bahkan terlihat bengkak mukanya dan bulu-bulunya semrawut. Sementara kotorannya terlihat lebih encer serta kehijauan. Dan, yang lebih membuat Ali senam jantung adalah tingkat kematian (deplesi) ayam yang kian tinggi dari hari ke hari.
Meski tidak mutlak seratus persen, tapi kondisi yang terjadi di kandang Ali bisa jadi menandai kemunculan penyakit Colibacillosis. Jika Ali melanjutkan investigasinya dengan melakukan bedah bangkai ayam (necropsi), sangat mungkin akan ditemukan daging yang basah dan kemerahan di bawah permukaan kulit. Untuk kasus yang akut, beberapa organ dalam seperti jantung dan hati akan tampak diselubungi selaput cairan berwarna keju  (perkejuan/air sacculitis).
Dari pengakuan beberapa peternak dan para Technical Service (TS), colibacillosis masih banyak dijumpai di lapangan. Bahkan laporan TS Medion?produsen obat hewan nasional?tahun 2005 menyebutkan, penyakit ini menempati lima besar penyakit yang sering menyerang ayam! Dan celakanya, peternak baru menyadari adanya colibacillosis setelah penyakit itu telanjur parah. Tingkat kematiannya jika terjadi di minggu pertama masa pemeliharaan mencapai 10 sampai 15%.

Penyakit Cheerleader
Colibacillosis atau juga sering disebut coli, menurut Info Medion (Edisi April 2006) adalah penyakit yang timbul akibat infeksi bakteri Escherichia coli, suatu bakteri gram negatif yang tidak tahan terhadap asam, berbentuk batang, tidak membentuk spora dan bisa bergerak. Hasbullah, Regulatory & Technical Affair Manager Pfizer Animal Health?produsen obat?menyebutkan, E. coli merupakan mikroflora normal yang berada di usus.
?Kuman ini jika berada di dalam usus bersifat nonpatogen, tidak mengganggu ayam, bahkan menguntungkan karena membantu proses pencernaan. Tetapi jika sudah berada di luar usus, dia akan jadi patogen yang menginfeksi organ lain,? papar Hasbullah. Sementara secara terpisah, Haryono Jatmiko, Technical Marketing Manager, PT CEVA Animal Health Indonesia?produsen obat?mengatakan, E. coli yang patogen hanya sekitar 10 sampai 15%.
Penyakit colibacillosis kerap kali muncul sebagai infeksi sekunder yang mengikuti serangan penyakit lain. ?Penyakit cheerleader,? berbarengan, Product Manager PT Agrinusa Unggul Jaya (AUJ)?produsen obat-obatan dan peralatan kandang?Divisi Kesehatan Hewan, Widia Kurnianto dan Technical Support PT AUJ, Jatmiko berkomentar. Walau demikian, colibacillosis juga bisa merupakan infeksi primer. ?Colibacillosis bisa jadi penyakit ikutan dan juga bisa jadi gerbangnya penyakit,? ujar Haryono.
Tetapi sekadar catatan, tingkat keparahan infeksi sekunder justru lebih berat ketimbang infeksi primernya hingga membuahkan sebutan ?patogen oportunis?. Sebutan ini bermakna bahwa ia lihai mempergunakan kesempatan untuk menginfeksi dengan mengikuti penyakit lain yang lebih dulu membobol pertahanan tubuh ayam. Biasanya Coli menyerang beramai-ramai dengan penyakit lain sepert CRD (Chronic Respiratory Disease), SHS (Swollen Head Syndrome), ND (New Castle Disease), Salmonellosis, Aspergillosis, Malaria, dsb.

Tak Kenal Musim
Jatmiko menyebutkan, pada dasarnya colibacillosis muncul tak mengenal musim. Hal ini juga diamini TS Medion area Jogjakarta, Dwiharto. ?Tak seperti beberapa penyakit lain yang outbreak-nya dipengaruhi datangnya musim penghujan yang lembab, ataupun tibanya cuaca dingin di tengah keringnya musim kemarau,? ujar alumnus FKH UGM ini.
Hanya saja, lanjut Dwiharto, kasus terbesar banyak terjadi pada pertengahan hingga akhir musim kemarau dan di awal musim penghujan. Pertengahan hingga akhir kemarau dimungkinkan muncul serangan coli karena debit air yang turun, sehingga konsentrasi bakteri E coli dalam air meningkat. Konsentrasi bakteri yang tinggi dalam air, jika terminum ayam yang sedang dalam kondisi kurang bagus akan menyebabkan ayam seperti terbanjiri bakteri. ?E coli merajalela di tubuh ayam. Lama-lama masuk ke dalam darah lalu terjadilah colisepticemia yang sangat berbahaya,? jelas Dwiharto.
Selain itu, pada musim ini pula, debu mudah beterbangan sehingga bisa juga berperan sebagai pembawa bibit penyakit E. coli. ?Infeksi E. coli lebih besar kemungkinannya melalui debu daripada melalui air,? kata Haryono. Dia menyebutkan, dalam satu gram debu kandang mengandung 105 ? 106 E. coli.
Lain ceritanya dengan awal musim hujan. Dwiharto menjelaskan, saat itu rembesan air dari lingkungan kandang masuk ke dalam sumber air. Sayangnya, rata-rata sumber air minum ayam terletak dekat dengan kandang. Saat hujan lebat, air menggenang di tempat kotoran, yang kemudian bisa mengalir ke sekitar sumber air. Maka, rembeslah air yang membawa E. coli dari lingkungan kandang itu ke dalam sumur.
Karena itu Widia menyarankan kedalaman sumur yang dijadikan sumber air di kandang jangan tanggung. ?Kalau masih 8 sampai 10 meter, tingkat kecemarannya masih tinggi. Yang bagus kedalamannya sekitar 30 meter atau lebih,? katanya.

Waspadai Litter dan Jaringan Air Minum
Kualitas air yang buruk karena kontaminasi E coli umumnya menjadi tertuduh utama pemicu kasus colibasillosis. Sehingga, peternak kadang merasa sudah cukup terlindung dari penyakit ini dengan perlakuan pemberian kaporit pada air minumnya. Padahal, jaringan perpipaan air yang sudah tua juga menjadi gudang bakteri ini. Begitu pula halnya dengan tempat minum yang kotor/tak tuntas pembersihannya. Banyak kasus anak kandang/peternak malas ?menyentuh? tempat air minum otomatis (autodrinker) sehingga kotoran bertahan di situ.
Menurut Dwiharto, di dalam pipa paralon tua terdapat endapan biofilm seperti koloid yang terbawa air, residu perlakuan vitamin dan obat via air minum. ?Nah, E. coli sangat mungkin bersarang di situ, sehingga pemberian kaporit di tangki tandon kadang tak menyelesaikan masalah,? terang Dwiharto. Mengatasinya, saluran mesti diganti dengan yang baru. Atau kalau masih layak di pakai, bisa dilakukan flushing (dibersihkan, misalnya dikerok dengan serabut kasar) dengan air panas bertekanan tinggi.
Selain itu, alas kandang (litter), debu, pakan terkontaminasi kotoran/feses juga menjadi sumber penularan yang harus diperhatikan.  ?Bahkan, tempat pakan yang berkerak jarang dibersihkan bisa menjadi tempat ngendon E. coli,? kata Zahrul Anam, Area Supervisor Sanbe Vet & Aqua Jogjakarta.
Kerak pada tempat pakan pun menjadi tempat tumbuh jamur semacam Aspergillus, penghasil aflatoksin yang meyebabkan ayam mengalami aspergillosis. Sesaat setelah kekebalan ayam bobol oleh aflatoksin itulah, sang oportunis E. coli ikut masuk dan sering infeksinya lebih parah ketimbang aspergillosisnya.
Alas kandang lembab dan tercampur kotoran pada fase awal brooding (pemanasan) juga menjadi pintu masuk colibasillosis. E coli masuk melalui tali pusar yang masih terbuka (belum kering), sehingga terjadi omphalitis (radang tali pusar).
Alas kandang yang menjadi tempat persembunyian E. coli juga sering masuk ke tempat air minum. Menurut Zahrul hal itu tidak hanya terjadi pada fase awal brooding, tetapi juga terjadi pada pemeliharaan broiler dengan kandang postal. ?Bagaimana mau bebas dari colibacillosis kalau begitu ?? tanya Zahrul retoris.
Dwiharto menerangkan, E. coli mampu bertahan di dalam alas kandang karena kondisi kering tidak menyebabkannya mati, bahkan membuatnya bertahan. Jika debu ini terhirup, maka bakteri ini bisa menyerang saluran pernafasan. Meskipun secara umum E. coli menginfeksi secara oral memalui air minum, pakan dan debu/litter.
Panas matahari yang tidak langsung tidak mampu membunuh coli,  ia baru mati pada suhu 70oC atau terpapar sinar matahari langsung, karena kerja sinar UV yang bersifat mensterilisasi.

Menyerang di Usia Berapapun
Colibasillosis bisa terjadi pada layer maupun broiler. Berdasar pengamatan, Dwiharto menyebutkan kasusnya lebih banyak ditemukan pada broiler. ?Secara genetik mungkin layer lebih tangguh. Atau karena umurnya yang lebih panjang, kekebalannya lebih baik ketimbang broiler yang hanya berumur beberapa hari,? terangnya.
Sebaliknya Haryono berpendapat, colibacillosis justru lebih banyak ditemukan pada layer. Alasannya, dengan masa budidaya yang panjang, penyakit ini bisa menyerang kapan saja dan diikuti atau mengikuti penyakit-penyakit lainnya.
Mengenai kemunculannya, colibacillosis bisa menyerang pada usia berapapun. Jatmiko menyebut usia 14 hari pada broiler, coli biasa datang. Dan Hasbullah mengatakan kedatangan coli pada kisaran usia 4 sampai 6 minggu. Sementara itu baik Jatmiko, Widia dan Hasbullah sependapat coli bisa juga terjadi sejak DOC, karena sudah terinfeksi E. coli sejak dari hatcherynya (pembibitan). ?Makanya kalau beli DOC, harus dilihat kasus omphalitis (infeksi pada kantung kuning telur oleh bakteri dari saluran cerna atau kulit induk ayam) tinggi atau tidak. Jika kasusnya tinggi dan DOC-nya banyak yang perutnya kembung maka bisa diindikasikan mengalami colibacillosis,? kata Hasbullah. Hal ini bisa diatasi dengan meningkatkan biosekuriti dan fumigasi (pembasmian hama/penyakit dengan menggunakan uap) di hatchery.
Sementara Widia mengingatkan agar mengatur kelembaban suhu di hatchery maupun di farm. Hal ini akan sangat berpengaruh pada infeksi E. coli terhadap kuning telur (yolk sac). ?Kalau kelembaban tinggi, maka E. coli akan dengan mudah menginfeksi yolk sac,? kata Widia.
Jatmiko menambahkan, infeksi E.coli bisa juga terjadi jika telur jatuh ke alas kandang lalu diambil kembali dan hanya dibersihkan dengan lap. ?E.coli malah semakin masuk ke telur,? kata Jatmiko.
Zahrul menambahkan, infeksi E.coli terhadap kuning telur membuat sisa kuning telur itu gagal diabsorbsi, bahkan membusuk. ?Warnanya jadi kecoklatan,? tandas Zahrul.

Kenali Gejalanya
Gejala yang umum muncul pada kasus colibasillosis adalah perut membesar berwarna kebiruan sehingga seperti ?menggantung?, pertumbuhan lambat dan uniformitas (tingkat keseragaman) buruk. Jika dibedah, akan ditemukan fibrin/selaput berwarna kelabu/keruh pada organ dalam seperti hati dan jantung (perihepatitus fibrinosa dan perikarditis fibrinosa) dan kantong-kantong udara diliputi cairan berwarna keju (airsacculitis). Ciri paling khas adalah adanya coligranuloma berwarna kekuningan di seantero permukaan organ dalam. Semakin kronis, coligranuloma ini akan semakin mengental.
Menurut Zahrul, tebalnya fibrin pada organ dalam, terutama jantung, akan menekan pembuluh darah sehingga terjadi hambatan aliran darah. Akibatnya, jantung akan memompa lebih keras. Tekanan tinggi pada pembuluh darah menyebabkan plasma darah ?rembes? dan terkumpul di dalam rongga perut (ascites). Hal inilah yang menyebabkan perut seakan ?kembung? dan menggantung. Pada peristiwa ini, dapat terjadi kematian akibat jantung gagal memompa akibat memompa terlalu keras. Saat dibedah, organ jantung terasa lembek.
Kematian tinggi pada fase ini juga bisa terjadi saat peternak memanen dini ayam-ayamnya. ?Pada saat penimbangan ayam, kaki berada di atas. Saat itu cairan di dalam rongga perut seketika menimpa jantung sehingga tergencet,? kata Zahrul. Ini menjawab keheranan peternak, mengapa ayam yang dipanen dini karena terkena colibasillosis banyak yang mati saat ditimbang.

Colisepticemia
Colisepticemia
adalah salah satu bentuk atau fase infeksi dari colibacillosis. Terjadi ketika E.coli masuk ke dalam sistem sirkulasi darah ayam, sehingga dengan cepat menyerang berbagai target organ dalam. E. coli masuk ke darah melalui luka usus atau saluran pernafasan. Sangat besar kemungkinan colisepticemia ini didahului oleh infeksi penyakit lain yang menyerang dua sistem organ di atas.
Tak mengherankan, colisepticemia menyebabkan isolat  E. coli dapat ditemukan pada hati, limpa, jantung, kantung hawa, usus, organ reproduksi dan semua organ yang mengalami kelainan/tanda-tanda abnormal. Ditemukannya colibacillosis pada organ reproduksi menunjukkan bahwa colibasillosis dapat ditularkan secara vertikal.
Zahrul  menerangkan, terjadinya colisepticemia menunjukkan bahwa infeksi sudah sangat parah. Kalaupun diobati, saat bakteri mati ayam pun juga akan mati keracunan endotoksik. Karena kematian E.coli disertai lisis sel bakteri itu, sehingga racun hemolisin di dalam plasma selnya akan keluar dan meracuni darah ayam.


Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Februari 2009