Manajemen Unggas
01 November 2009
Tumbuh Lambat, Performa Rendah, Waspada Mikotoksin

Sebuah informasi menyebutkan, kasus tumbuh lambat (slow growth) pada broiler banyak ditemukan. Secara umum, slow growth yang dimaksud adalah pertumbuhan ayam tidak maksimal sesuai potensi genetik yang dimiliki. Tak hanya di wilayah Jawa Barat (Karawang, Purwakarta, Sukabumi dan sekitarnya). Di Jogjakarta, 2 peternak di wilayah Sleman yang ditemui TROBOS mengaku mengalami slow growth dengan tingkat lumayan tinggi.
Ayam terlihat sehat, bahkan lebih lincah daripada yang pertumbuhannya normal.  ?Seribu dari 12.500 broiler (8%) berumur 3 minggu lambat tumbuh. Padahal biasanya di bawah 5%. Bobot hanya 300 gram, normalnya 6-7 ons,? kata Tri Gunarni, pemilik kandang berkapasitas total 54.000 ekor. Ia menduga ini disebabkan DOC tidak baik mutunya. ?Pemeliharaan yang saya lakukan tidak berubah, malah semakin baik karena semakin teliti dalam menangani brooding. Pakan yang digunakan pun seperti biasanya,? ungkapnya memperkuat dugaan. Pada periode sebelumnya, sarjana teknik kimia ini mengaku mendapatkan DOC kualitas terbaik sehingga persentase ayam kuntet tak sampai 3%.
Lebih parah lagi dialami Bambang Wirabumi. ?Kandang saya berisi 12 ribu ekor, yang kerdil 17%. Tapi sudah dipanen periode kemarin,? ungkapnya. Saat dilakukan grading pada umur 2 minggu, bobot hanya 200 gram, sementara normalnya 450 gram. ?Kalau di kisaran 2-3% biasanya dikeluarkan/culling. Lha ini banyak gitu, kalau dianggap sebagai mortalitas saya malah semakin rugi,? sesalnya.
Tri maupun Wirabumi sama-sama menyatakan tidak ada yang bisa dilakukan kecuali culling. ?Memisahkannya dalam sekat tersendiri hanya menolong 10% - 20% saja. Yang lain tetap saja kerdil dan membengkakkan FCR. Mempertahankan mereka dalam sekat itu hanya mengganti biaya DOC,? terang Tri. Ia berharap pada saat panen 35 hari, bobot si kerdil dapat mencapai 1,2 ? 1,4 kg /ekor.
Sedikit berbeda, Bambang  merasa putus asa sehingga ?membuang? si kerdil ke kolong kandang, dan membiarkannya memakan remah-remah pakan yang jatuh. ?Supaya FCR tidak bobol tapi tetap dapat ganti uang kuthuk,? kata peternak berkapasitas 50 ribu ekor ini. Saat panen, ?ayam kolong? ini bobotnya hanya 500 ? 600 gram.

Bukan Kasus Besar
Arif Rahmat SPt, Technical Representative  PT Mulia Jaya Prima Farma wilayah Jateng- DIY, sebuah perusahaan distributor obat hewan,  menyatakan ayam tumbuh lambat memang selalu ada di kandang meski kecil. ?Sekarang ini bukan kasus besar. Meskipun demikian, kita memang tetap perlu waspada,? tandasnya. Menurutnya kasus massal broiler kerdil / tumbuh lambat terakhir kali terjadi pada tahun lalu. ?Tetapi penyebabnya telah diketahui. Saat itu peternak terpaksa menggunakan DOC yang kurang terjamin kualitasnya akibat permintaan DOC yang melonjak,? tuturnya. Akibatnya, target bobot panen tak tercapai disertai jebolnya FCR.
Hal senada dikemukakan oleh Didyk Agung Suwoko SPt dan Dedi Iswantono SPt dari PT  Primatama Karya Persada wilayah Jogjakarta. ?Dalam satu kandang ada yang kecil 2 % itu wajar. Sebab manajemen pemeliharaan broiler yang sedemikian kompleks tentu tak bisa dipenuhi semua oleh peternak,? ungkap mereka saling menguatkan. Sedangkan kasus slow growth menurut mereka sudah lama tidak terdengar di wilayah kerjanya, apalagi di perusahaan kemitraan yang dikelolanya.
Arif menegaskan, kasus lambat tumbuh yang dialami 2 peternak di Sleman itu kemungkinan disebabkan DOC ataupun manajemen pemeliharaan di fase awal yang kurang baik. ?Kalau masalahnya di pakan, semua ayam di kandang akan mengalami lambat tumbuh. Dan akan dialami peternak lainnya,? ungkapnya. Dugaan senada pun diungkapkan oleh Didyk. ?Untuk mengetahui apakah penyebabnya dari pakan, cukup mengecek performa peternak yang menggunakan pakan dalam satu pengiriman, terutama yang bernomor seri / batch sama,? terang lulusan alumni Fapet Unibraw ini.
Kasus slow growth menurut  Dr drh AETH Wahyuni Msi, pengajar Mikrobiologi FKH UGM, merupakan gejala fisik yang sangat kompleks penyebabnya. Bisa terjadi karena faktor internal ayam sejak masih dalam telur maupun faktor eksternal dari manajemen. Lebih lanjut Wahyuni menegaskan faktor DOC masih berperan signifikan pada kasus slow growth, baik berupa penyimpangan genetis, usia induk,  lolosnya DOC yang seharusnya di culling  di hatchery, penyakit ISS (infectious stunting syndrom), maupun efek samping transportasi jarak jauh. Sayangnya, efek dari faktor-faktor di atas kebanyakan baru terlihat setelah umur 10 ? 14 hari. ?Sangat sulit memilih DOC yang kelak akan kerdil. Paling-paling yang bisa dilakukan hanya mengeluarkan/culling DOC yang kurang sehat, seperti nafsu kurang makan, sayu, kaki kering, bobot terlalu kecil,  ataupun infeksi umbilicus,? terangnya.
Wahyuni menyatakan, dugaan buruknya kualitas DOC ini ditelusuri dengan cara membandingkan performa pengguna DOC dari produsen yang sama dalam kisaran waktu yang sama. Maka sebelum terjadi, peternak harus ?kritis? dengan kondisi DOC yang diterimanya.

Ditengarai IBD dan Mikotoksin
Nur Vidia Machdum, Technical Department Manager PT Romindo Privetcom perusahaan obat dan vaksin hewan tak membantah kasus tumbuh lambat (dalam arti luas dimaknai dengan rendahnya performa broiler) masih ditemui di lapangan. Menurut dia, umumnya kasus ini terkait ayam dalam satu flok yang memiliki pencapaian berat badan yang cukup jauh dibandingkan kelompok ayam yang dapat mencapai sasaran pertumbuhan berat badan. Kasus ini, menurut Nur Vidia, tanpa diketahui sebab pasti secara klinis. ?Kejadian dalam suatu kelompok ayam dilaporkan berkisar 0,5 - 4%. Secara nasional, laporan penanganan kasus yang ada di lapangan kurang dari 1%,? ujar dokter hewan ini.
Nur Vidia cenderung menengarai penyebabnya adalah Infectious Bursal Disease (IBD) dan mikotoksikosis (sindrom disebabkan mikotoksin). Dari 285 kasus yang dilaporkan tim Romindo, pada ayam layer dan breeder, kasus IBD mencapai 7%. Sedangkan mikotoksikosis sekitar 5%.
Secara umum, Nur Vidia menjelaskan ayam yang terserang IBD secara khas menunjukkan gejala klinis diare putih. Ini akibat timbunan asam urat. Nafsu makan dan minum turun sehingga asupan berkurang drastis. ?Inilah yang menyebabkan pertumbuhan menjadi lambat,? terangnya. Pada kasus melanjut, fungsi organ vital seperti ginjal akan terganggu. ?Berujung pada kematian,? imbuhnya. Sementara untuk mikotoksikosis gejala khas tidak tersirat dan perubahan klinis yang menciri tergantung jenis toksinnya.

Titis Wahjudianto, Branch Manager, PT Mensana Aneka Satwa, dalam sebuah kesempatan (19/10) membenarkan banyaknya kasus slow growth di lapangan. Tetapi ia menilai kasus ini sebagai dampak colibacillosis (disebabkan Escherichia coli). Kasus colibacillosis ini, lanjut Titis, mencapai 40-60% di ayam broiler.
Selain itu, Titis tak menafikan keberadaan mikotoksin sebagai pintu gerbang. Mikotoksin bersifat imunosupresif, menyebabkan penurunan kekebalan tubuh sehingga menjadi titik masuknya segala penyakit lainnya.
Fakta berbeda diungkapkan Vira Marlina, Internal Sales, PT Biotek Indonesia yang mengatakan saat ini tidak ada kasus slow growth di peternakan kemitraan internal Biotek. ?Saat ini tidak ada slow growth,? terang Vira.
Carolina Setiawati, Sales Manager, PT Biotek Indonesia, yang bertanggung jawab menangani pelanggan non-kemitraan Biotek mengaku tak menemukan kasus tumbuh lambat dengan indikasi sebagaimana dulu dipercaya. ?Setahun lalu memang banyak, dan cirinya kan kerdil di umur 10 ? 12 hari,? kata wanita yang akrab disapa Lina ini.
Yang kini banyak ditemukannya adalah tingginya kematian mendadak saat berumur 24-26 hari, padahal pertumbuhan sampai 3 minggu bisa dikatakannya bagus. ?Banyak di Karawang dan Purwakarta,? sebutnya. Manifestasi gejalanya adalah penyakit gumboro, ND (Newcastle Disease) dan colibacillosis. Lina menengarai penyebab utama kasus ini tak lain mikotoksin. ?Mikotoksin sebagai pemicu,? ujarnya. Dengan E coli sebagai manifestasi yang terbanyak.

Dua Bulan Terakhir
Lebih jauh Lina menggambarkan, saat ayam siap panen banyak yang mati. Kondisi ini menimbulkan keheranan Lina sepanjang dua bulan terakhir. Karena semua parameter performa sampai 3 minggu baik sekali. ?Pertumbuhannya tergolong cepat, konversi pakan (Feed Conversion Ratio/FCR) sangat baik,? jelas Lina.
Awalnya ia menduga kondisi cuaca yang cenderung panas akhir-akhir ini menjadi salah satu pemicu ayam menjadi stres. Tapi belakangan, pemeriksaan menunjukkan positif gumboro, ND atau Coli. Adanya gumboro dan ND, menandakan adanya faktor-faktor imunosupresif sehingga pertahanan tubuh ayam melemah. Ketika pertahanan tubuh bobol, penyakit apapun tak dapat dihindari lagi kehadirannya.
Pakan pun tidak lepas dari pemeriksaan. Berdasarkan hasil tes, Lina menuturkan ditemukan mikotoksin jenis aspergillus. Tegas ia mengatakan, cara pemeliharaan harus ditingkatkan. Potensi genetik ayam saat ini belum diimbangi peningkatan keahlian peternak. ?Manajemen pemeliharaan belum bisa mengimbangi potensi genetik ayam yang semakin baik. Masih menggunakan cara-cara lama,? ujar Lina. Ia menduga penyebab munculnya mikotoksin lebih diakibatkan kurang baiknya manajemen penyimpanan pakan di peternak.

Anemia dan Reovirus
Haryono Jatmiko, Technical Marketing Manager, PT Ceva Animal Health Indonesia mengatakan, meski kini kasusnya sudah tak terlalu tinggi, rendahnya performa yang dimanifestasikan dengan tumbuh lambat ada ditemukan pada broiler. Tapi soal sebab, dokter hewan ini punya pandangan berbeda. Ia memberikan perhatiannya pada tiga sebab. ?Tumbuh lambat dapat diasosikan dengan reovirus, chicken anemia virus dan mikotoksin,? kata Haryono.
Dari tiga penyebab itu, menurut Haryono, yang paling berdampak nyata terhadap tumbuh lambat adalah reovirus dan anemia. Reovirus yang menyerang ayam dapat menyebabkan kegagalan penyerapan nutrisi pada pencernaan (malabsorbsi) sehingga menyebabkan ayam gagal berkembang. ?Saat umur 24 hari, broiler terlihat tak seragam,? terang Haryono ditemui di Jakarta, 12 Oktober lalu.
Ayam terinfeksi reovirus menciri dengan bulu terbalik seperti helikopter. Malabsorbsi berakibat efisiensi pakan rendah, bobot badan turun, pigmentasi turun, afkir dan mortalitas meningkat. Ayam menunjukkan paruh yang runcing, feses berbusa dan berwarna oranye. ?Feses menunjukkan jelas ayam menderita malabsorbsi sindrom,? ungkap Haryono.
Sementara untuk anemia, ia menyebut penurunan produktivitas antara lain bobot 4% lebih rendah saat dipanen. Sedangkan kematian atau mortalitas saat panen mencapai total 3%. Keuntungan peternak menurun signifikan, hingga 20% atau ?save income? minus 7 poin. Sayang, penyakit ini di lapangan jarang diketahui peternak. ?Penyakit anemia itu tidak terlihat, jadi peternak kurang memperhatikan,? terang Haryono.
Ayam menderita anemia akan memperlihatkan pendarahan yang tidak berhenti-henti. Sumsum yang dimilikinya akan berwarna pucat dan ukurannya sangat kecil dibandingkan ayam normal. Proventiculus mengalami perdarahan. Otot juga mengalami perdarahan, di paha dan dada. Tak jarang dikelirukan dengan gumboro, mikotoksin, Avian Influenza (AI) dan lainnya. ?Perdarahan terjadi karena proses pembekuan darah gagal,? katanya.

Perhatian pada Mikotoksin
Dengan porsi yang berbeda, semua narasumber menyebut mikotoksin sebagai salah satu sebab buruknya performa.
Perubahan musim dari kemarau ke penghujan ataupun sebaliknya mengundang berbagai penyakit. Sayangnya, peternak hanya biasa mewaspadai penyakit-penyakit tertentu yang biasa menyerang musim perubahan kemarau ke penghujan seperti IB, CRD dan colibacillosis. Padahal potensi gangguan jamur tak kalah mengancam karena kelembaban udara mulai meningkat. ?Waktu-waktu ini jamur juga menjadi ancaman serius,? ujar Wahyuni.
Negara tropis seperti Indonesia dengan tingkat kelembaban udara yang tinggi sangat rentan terhadap kejadian mikotoksikosis. Di kondisi temperatur dan kelembaban seperti itu, jamur akan mudah tumbuh dan berkembang biak. Penyakit ini pada umumnya dapat menurunkan kinerja produksi ternak dalam hal pertumbuhan dan mengganggu sistem reproduksi. Pertumbuhan lambat inilah yang menyebabkan kerugian terbesar, karena efisiensi pakan menjadi demikian buruknya.
Yang harus diwaspadai, kemunculan mikotoksikosis tidak hanya berkorelasi positif dengan cuaca semata. Musim tanam, khususnya jagung, juga memberikan kontribusi pada kemunculan mikotoksin. Ini antara lain diungkapkan Haryono yang kerap kali mendengar peternak mengeluhkan ayamnya mengalami pertumbuhan lambat (slow growth) di saat jagung langka. Bisa jadi, ketersediaan yang terbatas menyebabkan jagung kualitas rendah pun digunakan, sehingga banyak antinutrien di dalam pakan. ?Antinutrien itu bisa apa saja, termasuk mikotoksin,? tambah Haryono.
Banyaknya antinutrien inilah, menurut Haryono membuat kualitas pakan mengalami penurunan. Tingginya harga pakan, membuat banyak peternak mengambil pilihan pakan dengan kualitas lebih rendah untuk diberikan. ?Mungkin kontaminannya jauh lebih tinggi daripada pakan yang berkualitas lebih baik,? tutur Haryono.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi November 2009