Manajemen Unggas
01 January 2010
Ayam Bengkak Sendi, Peternak Merugi

Oleh: Prof Dr Drh Soeripto*
*Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor

Andi, adalah seorang peternak pemula di Klaten yang mencoba peruntungan di bisnis broiler (ayam pedaging) setelah tak satu pun lamaran kerjanya diterima, selepas kuliah. Desember lalu, debutnya dengan populasi 5000 ekor ternyata sudah harus berhadapan dengan kasus penyakit. Ia heran, karena memasuki pekan kedua pemeliharaan ia menemukan beberapa ayamnya ndeprok (lumpuh). Khawatir salah penanganan dan kejadian makin tinggi, Andi meminta bantuan tenaga lapangan perusahaan inti tempat ia menjalin kerjasama kemitraan.
Penjelasan diperolehnya, si ayam terserang radang sendi. Tersenyum geli, Andi teringat beberapa hari lalu saat ayahnya menderita radang sendi. Kini giliran ayam-ayamnya mengalami nasib serupa. ?Ternyata ayam bisa kena radang sendi juga,? gumamnya.

Sering dan Merugikan
Bengkak atau radang sendi merupakan penyakit yang sering terjadi pada ayam. Penyakit ini menyebabkan ayam menjadi pincang sampai tidak dapat berjalan, dan jika berlanjut dapat terjadi kematian. Secara ekonomis sangat merugikan industri perunggasan. Kerugian ekonomis terjadi diakibatkan turunnya berat badan, turunnya produksi telur, mahalnya biaya pengobatan serta resistensi infeksi yang sulit dimusnahkan dari peternakan.
Berbagai usaha untuk menanggulangi penyakit ini dengan antibiotika sering dilakukan. Antibiotika mulai dari obat generik sampai obat ?dewa? sudah digunakan, tetapi hasilnya sering tidak memuaskan. Kegagalan pengobatan biasanya disebabkan karena keinginan peternak untuk mencoba-coba hasil atau terbatasnya pengetahuan tentang penyebab penyakit bengkak sendi. Bagi para dokter hewan mungkin sudah tidak asing lagi mengenai penyebab penyakit ini, sekalipun ada juga yang lupa tentang gejala klinisnya di luar gejala kepincangan serta tanda-tanda lain yang berkaitan dengan penyakit ini.
Diagnosis dan penanggulangan penyakit ini sebetulnya tidak begitu sulit jika dapat diamati/dicermati gejala awal timbulnya penyakit. Permasalahan menjadi tidak mudah kalau diketahuinya sudah terlambat dan penyakitnya sudah menjadi kompleks. Dengan informasi/ uraian yang singkat ini, diharapkan dapat menambah wawasan para peternak mengenai bengkak atau radang sendi, sehingga dimasa datang para peternak akan lebih mudah dalam mengatasi atau menanggulangi penyakit ini.

Tiga Penyebab Utama
Ada tiga penyebab utama terjadinya bengkak sendi, yaitu infeksi oleh Staphylococcus aureus, Mycoplasma synoviae dan atau Reovirus. Marilah kita coba simak bagaimana cara membedakan atau mengetahui kebengkakan sendi yang disebabkan oleh masing-masing agen infeksi tersebut. Dengan mengetahui uraian singkat mengenai gejala klinis, umur, pola penyebaran dan kelainan patologinya, diharapkan para peternak dapat mengetahui gambaran penyebab bengkak sendi pada kaki ayam, sekalipun agak merepotkan jika dihadapkan pada kondisi komplikasi, kronik atau tidak adanya informasi awal terjadinya infeksi. Pada akhirnya isolasi agen penyebab infeksi perlu dilakukan untuk memberikan jawaban atas bengkak sendi tersebut. Sekalipun demikian, jawaban itu belum tentu benar karena pada kondisi komplikasi atau kronik, ada kemungkinan agen infeksi yang menjadi penyebab utama justru tidak dapat atau sulit diisolasi.
 
Masuknya Agen Penyebab
Bengkak sendi yang disebabkan oleh infeksi Staphylococcus aureus (S.aureus) umumnya terjadi melalui kulit yang robek atau terluka. Kulit yang terluka biasanya terjadi pada telapak kaki disebabkan oleh kandang kawat atau belahan bambu yang tajam, sehingga peradangan sendi terjadi pada telapak kaki (foot pads). Bengkak sendi ini, disebut ?bumble foot?, awalnya terlihat pada satu kaki tetapi jika berlanjut dapat terlihat pada sendi kedua telapak kaki. Infeksi S.aureus juga dapat terjadi melalui luka lain seperti pemotongan kuku, paruh atau tulang dan vaksinasi. Selain itu, penyakit infeksi seperti omphalitis dan penyakit-penyakit yang menyebabkan imunosupresi (tertekannya pertahanan tubuh) seperti Gumboro, chicken infectious anaemia atau Marek Disease dapat juga menjadi pintu masuknya infeksi S.aureus. Umumnya infeksi S.aureus yang dipicu oleh penyakit imunosupresi dapat menyebabkan kematian mendadak karena terjadi septisemia (bakteri masuk dalam darah). Pada kondisi ini biasanya bengkak sendi sebagai simtom (gejala) jarang muncul.
Penyebaran infeksi S.aureus  yang menyebabkan bumble foot tidak terjadi secara vertikal maupun horizontal. Sehingga sangat mungkin, dan umumnya demikian, persentase kejadian bengkak sendi relatif kecil, kecuali kualitas kandang yang digunakan sudah tidak memenuhi persyaratan untuk kaki ayam berpijak.
Bengkak sendi yang disebabkan oleh infeksi Reovirus umumnya terjadi pada ayam jenis pedaging, sekalipun pernah dilaporkan terjadi pada ayam petelur. Pada kondisi normal, Reovirus biasa ditemukan pada usus dan alat pernafasan. Reovirus yang ditemukan pada alat pencernaan hanya 20% yang bersifat ganas. Virus ini bermigrasi dan bertahan lama hidup pada seka tonsil dan persendian. Virus yang hidup pada seka tonsil dan menyebar pada alat pencernaan biasanya  menyebabkan malabsorption (gangguan penyerapan oleh usus) yang menimbulkan manifestasi terjadi kekerdilan, sedangkan virus yang menyebar pada persendian diduga yang menyebabkan kebengkakan sendi.
Penyebaran infeksi Reovirus dapat terjadi secara lateral. Reovirus dapat disebarkan melalui feses dan udara. Virus dapat bertahan lama hidup pada feses sehingga feses diduga merupakan sumber penyebaran utama. Ayam umur 1 hari (DOC) biasanya lebih peka terinfeksi Reovirus melalui pernafasan ketimbang melalui alat pencernaan. Dan karena penyebaran dapat terjadi sejak ayam umur 1 hari, maka tingkat kejadian infeksi relatif cukup tinggi.
Sementara bengkak sendi yang bersifat akut disebabkan oleh Mycoplasma synoviae (MS), meski tidak menutup adanya kasus kronik. Infeksi ini paling sering terjadi pada peternakan ayam petelur komersial yang umurnya bervariasi (multi-age chickens). Penyebaran infeksi dapat terjadi secara vertikal melalui indung telur dan secara horisontal melalui udara. Morbiditasnya dapat mencapai 90-100%, tetapi yang memperlihatkan bengkak sendi umumnya berkisar antara 5-15%, atau kadang-kadang dapat mencapai 75% jika manajemen kesehatan yang diterapkan tidak sesuai dengan standar persyaratan kesehatan yang berlaku.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Januari 2010