Manajemen Unggas
01 March 2011
Bertahan di Daerah Endemi Leucocytozoon

Dulu jarang muncul pada musim kemarau. Sekarang, di daerah endemis seperti Jogja bagian selatan, kasusnya muncul sepanjang tahun

Sebut saja namanya Badri, peternak plasma broiler di kawasan pantai selatan Jogjakarta. Kemarau lalu ia tertegun mendapati 40 ekor ayamnya mati dalam sehari. Padahal beberapa hari sebelumnya tak ada gangguan performa apalagi gejala sakit pada 5000 ekor ayamnya itu. Setelah diperiksa oleh Technical Service dari sebuah pabrik obat nasional, ayam-ayam itu mati menderita Malaria ? like Disease (MLD).
Ayam terus dipertahankan hingga 5 hari kemudian untuk mengejar bobot panen awal. Namun apa daya,  kematian terus terjadi hingga mencapai 1000 ekor. Akhirnya diketahui, ia mengabaikan pemberitahuan dari petugas lapangan (PPL) kemitraan untuk tetap memprogramkan pengobatan dini infeksi parasit/protozoa Leucocytozoon sp ini, meski saat itu menurut perhitungan telah memasuki musim kemarau.
Lain lagi dengan yang dialami Tumiyo, peternak plasma broiler dari dukuh Ngajaran, desa Sidomulyo, kecamatan Bambanglipuro, kabupaten Bantul. Meski kampungnya terletak di lereng perbukitan, kawasan itu tak pernah sepi dari ancaman MLD. ?Bertahun-tahun selalu begitu. Kasus akan selalu berulang kalau tidak melakukan pengobatan dini,?ungkapnya. Sehingga ia pun menyatakan ?terpaksa berdamai? dengan penyakit yang ia sebut ?malaria? ini, tetap beternak meski dengan kewaspadaan penuh.
Istilah ?pengobatan dini? dalam kasus MLD biasa dipakai untuk mengganti kata ?pencegahan penyakit dengan menggunakan obat/antibiotik?. Karena sejatinya antibiotik bukan digunakan untuk pencegahan. Tetapi pelaku di lapangan berargumen, yang dilakukannya bukanlah pencegahan leucocytozoon dengan antibiotik, melainkan pengobatan dini saat penyakit masih berada dalam masa inkubasi. Saat itu infeksi sudah terjadi, tetapi belum menampakkan gejala klinis. Kalau pengobatan dilakukan setelah gejala klinis muncul, artinya sudah terlambat.

Kini Sepanjang Tahun
Menurut Budiono, petugas pengawas lapangan (PPL) dari kemitraan boiler Mitra Tirta Abadi, kabupaten Bantul dan Kulon Progo merupakan wilayah endemis MLD. ?Dari pinggir pantai sampai puncak pegunungan, semua endemis. MLD menjadi ancaman sepanjang tahun,? ungkapnya. Budi pun mencatat di kedua kabupaten ini nyaris tak ada perbedaan tingkat ancaman  MLD pada musim kemarau maupun penghujan. Padahal sebelumnya penyakit ini dikenal hanya muncul pada musim pancaroba dan penghujan, sesuai siklus hidup vektornya. ?Dulu sangat jarang muncul pada musim kemarau. Tapi sekarang, di daerah endemis kasusnya muncul sepanjang tahun,? papar Budi. Walaupun demikian, Budi mengaku intensitas serangan MLD tertinggi tetap pada akhir penghujan hingga bulan Juni atau Juli.
Budiono menerangkan hal ini akibat rusaknya siklus musim yang semakin parah. ?Kemarau bisa sangat basah sehingga larva nyamuk Culicoides sp dan lalat hitam (Simulium sp/black flies) yang kelak menjadi vektor Leucocytozoon tetap berkembang. Sehingga siklus hidup vektor ini tetap bersambung sepanjang tahun,? tuturnya.
Menurut Area Coordinator PT Caprifarmindo wilayah Jogjakarta drh Arif Widianto, ayam yang terinfeksi Leucocytozoon tapi mampu bertahan / tidak mati lebih berbahaya daripada ayam yang mati, meskipun ayam itu terlihat sehat. ?Ia menjadi reservoir parasit. Kalau tergigit vektor dan vektor itu menggigit ayam sehat, akan menularkan MLD,? terangnya. Di daerah endemis, bisa jadi unggas dan burung-burung di daerah itu telah menjadi reservoir parasit.

Kawasan Endemis
Arif menyatakan, kawasan selatan Jogjakarta dan Jawa Tengah memang daerah endemis MLD. ?Pengobatan dini MLD menjadi program wajib sepanjang tahun, terlebih saat pancaroba dan penghujan,? tandasnya. Ia menyebut Kroya, Kulon Progo, Bantul, Purworejo, dan Kebumen sebagai wilayah terparah. ?Ada peternak pelanggan saya di Kulon Progo yang 3 periode berturut-turut dihantam leuco,? katanya.
Wilayah-wilayah yang disebut Arif di atas memang berada di sepanjang pantai yang drainase lingkungannya buruk. ?Drainase kandang mungkin baik, tapi, air di kawasan itu memang tidak bergerak karena dekat pantai. Sangat kondusif bagi perkembangan vektor,? paparnya.
Keunikan terjadi di Bantul dan Kulon Progo bagian utara yang juga endemik MLD, padahal jauh dari pantai bahkan berbukit-bukit. Arif menduga hal ini berkaitan dengan banyaknya semak-semak, sungai yang asat (ada airnya tapi menggenang) saat kemarau, pucuk tumbuhan yang menampung sedikit air hujan sehingga menjadi tempat bertelur vektor, keberadaan mata air dan genangan air buangan kandang maupun rumah-rumah di perkampungan sekitarnya berperan besar ?melestarikan? siklus vektor penyakit ini. ?Selain itu, yang jelas adalah lestarinya reservoir parasit leucocytozoon didaerah itu,? tegasnya.

Selengkapnya baca majalah Trobos edisi Maret 2011