Managemen Kandang
01 April 2011
Menjaga Pakan di Gudang Tetap Berkualitas

Penanganan pakan dan bahan baku pakan yang tidak baik berujung pada rusaknya kandungan nutrisi. Menjadi tantangan tersendiri, karena kecepatan penurunan kualitas ini 10 kali lipat lebih cepat pada iklim tropis

Daya simpan pakan ayam di dalam gudang adalah 30 hari sejak tanggal produksi (batch). Baik pakan bentuk crumble (butiran), pellet maupun mash (tepung), akan mengalami penurunan kualitas apabila melewati masa tersebut. Karena itu disarankan, idealnya peternak tidak menyimpan pakan lebih dari 14 hari atau 2 minggu sebagai antisipasi. Saran ideal ini mempertimbangkan, sebelum diterima peternak, pakan sempat mampir di gudang agen atau poultry shop (PS). Paparan sekaligus saran ini disampaikan Toto Laksono, Marketing Manager PT Cargill Animal Nutriton. “Kadangkala pakan tinggal di gudang PS satu sampai dua minggu,” katanya.
Mufti Zainal Abidin peternak inti broiler (pemilik PS) asal Tasikmalaya adalah pengguna pakan jadi dari pabrikan. Ia mengaku, setelah pakan tiba di gudangnya dari pabrik ia segera mendistribusikan ke peternak mitranya (plasma). “Paling lambat 2 hari sudah sampai kandang peternak,” kata Mufti.
Sementara Heri Santosa, peternak Ciamis mampu memproduksi sendiri pakan untuk budidaya broiler miliknya dan broiler plasmanya. Tiap bulannya ia mampu memproduksi pakan 800-1000 ton. Dan ia mengaku, mendistribusikan pakan ke peternak dengan frekuensi lebih banyak. “Di cuaca dengan curah hujan tinggi, pakan dikirim bisa sampai 2 – 3 kali,” sebutnya.

Tantangan Iklim Tropis
Steven Goh dalam jurnal Asian Poultry edisi Januari/Februari menjelaskan, manajemen (handling) bijian menjadi tantangan tersendiri untuk daerah yang beriklim tropis. Meski fokus ulasannya ditujukan pada komoditas jagung, tetapi analisis Goh tersebut berlaku untuk pakan maupun bahan baku pakan secara umum. Regional Business Director DelstAsia Sdn Bhd wilayah Asia Tenggara ini menyebutkan, selama proses penyimpanan, kualitas pakan dan bahan baku pakan akan terus menurun. Kecepatan penurunan kualitas ini akan 10 kali lipat lebih cepat di bawah iklim tropis. Faktor pemicunya, cuaca yang sedemikian panas, paparan sinar matahari yang menyengat di waktu siang diikuti hujan yang tiba-tiba, serta kelembaban yang tinggi. Semua itu mengakibatkan terjadinya peningkatan aktivitas air yang terkandung dalam bijian (bahan baku pakan).
Bio-deterioration adalah salah satu efek buruk yang disebut Goh bisa terjadi pada bijian. Kejadiannya timbul karena aktivitas berlebihan dari enzim yang terdapat dalam biji secara alami. Aktivitas enzim ini meningkat, salah satunya kata Goh, disebabkan suhu yang tinggi. Bila berlanjut, kerusakan ini akan berujung pada denaturasi nutrisi dalam bijian dan kontaminasi faktor anti-nutrisi. Penurunan kualitas pakan karena penyimpanan yang tidak tepat ini berkonsekuensi pada kesehatan dan performa ayam, dan pada gilirannya menyusutkan keuntungan peternak.
Penjelasan serupa dijelaskan dalam artikel teknis yang dikeluarkan Kemin Industries, sebuah perusahaan pendukung kesehatan ternak. Disebutkan, bio-deterioration adalah hasil interaksi dari sejumlah agen perusak. Agen utama yang dikatakan berkontribusi pada kerusakan ini adalah kadar air, temperatur dan hama. Dengan temperatur udara yang tinggi dan dikombinasi kadar air yang tinggi, jamur akan merebak. Sebaliknya, pertumbuhan jamur ini akan menurun seiring rendahnya temperatur lingkungan.

Kurang Paham dan Peduli
Sementara itu, menurut pengamatan Toto, umumnya ada tiga kelemahan utama peternak ataupun agen di Indonesia dalam handling pakan dan dalam mengelola penyimpanan pakan di gudang.  Disebutkan Toto, pertama tidak memakai pallet (alas gudang); yang kedua jarak antar tumpukan tidak ada atau terlalu sempit, sehingga mekanisme “first in first out” (FIFO) tidak berjalan; dan terakhir adanya hama seperti tikus, kecoa serta kutu.
Ia pernah menemukan, tenaga kandang sampai tidak bisa membedakan jenis pakan starter dan pakan grower akibat sempitnya gudang. Buntutnya, kesalahan seperti ini berakibat fatal pada produksi.
Anang Hermanta  Marketing Director PT Sinta Prima Feedmill menegaskan tidak bolehnya pakan kontak dengan air, “Kebiasaan peternak seringnya tidak memperhatikan paparan air pada pakan.” Amat disesalkan Anang, pakan yang oleh pabrikan dibungkus dengan baik harus rusak karena tidak cukup upaya menghindarkannya dari air. Misalnya, lanjut Anang, saat bongkar dari truk pengangkut. Dengan dalih hanya gerimis kecil dan jaraknya sangat dekat, proses pemindahan karung tidak dilindungi dari rintikan air tersebut. Padahal molekul air ini sangat efektif merusak nutrisi pakan selama proses penyimpanan.

Gudang yang Sehat
Menyimpan pakan tak bisa asal-asalan. Idealnya ada tempat khusus atau gudang yang memenuhi beberapa syarat minimal. Erika B Laconi, Dosen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor menyebutkan gudang mutlak diperlukan dalam penyimpanan pakan ternak. “Seharusnya tidak boleh terjadi pakan disimpan dalam kandang. Baik itu permanen atau semi permanen, pakan mestinya disimpan di gudang pakan,” ujar wanita yang biasa disapa Ika ini. Aturan yang sama berlaku untuk penyimpanan bahan baku, bagi peternak yang meramu sendiri pakannya (self mixing).
Menurut Toto, yang terpenting bukanlah khusus gudangnya, tetapi pemenuhan syarat seperti temperatur, kelembaban, kebersihan, layout, serta bebas dari kontaminasi. Beberapa parameter disebut Toto untuk gudang yang baik. Terhindar sinar matahari langsung, terhindar dari hujan dan bocor, temperatur di kisaran 300C – 340C, kelembaban tak lebih dari 70% dan bebas dari hama kutu dan tikus. “Dan tidak bercampur dengan bahan kimia seperti pupuk, pestisida atau racun tikus,” imbuhnya.
Untuk layout atau desain, yang baik adalah cukup luas untuk mengatur FIFO. Memiliki catatan stok yang rapi dan cukup jarak antara dinding terhadap tumpukan (atau antar tumpukan). Sementara untuk bahan baku, menurut Toto, keperluan gudang akan sangat bergantung pada jenis bahan baku tersebut. Untuk minyak ikan (fish oil) misalnya, pasti lebih dibutuhkan tangki yang representatif. Yang tentu berbeda dengan kebutuhan tempat penyimpanan lime stone.
Hidayatur Rohman, adalah peternak layer kawakan asal Blitar yang memproduksi sendiri pakannya. Pemilik CV Jatinom Indah ini mengatakan produksinya ada di kisaran 250 – 300 ton per bulan. Pihaknya juga melayani kebutuhan pasokan pakan bagi peternak plasmanya maupun dijual bebas. Menurut keterangan yang diberikannya, rentang waktu bahan baku pakan mulai masuk di gudangnya sampai disajikan di tempat pakan ayam berkisar 1 – 3 bulan, bergantung masing-masing jenis bahan baku. Dayat –demikian ia akrab disapa— yakin kualitas pakan produksinya ada dalam kondisi terbaik karena ia melengkapi gudang tempat penyimpan pakan dan bahan baku pakan miliknya dengan dryer (pengering) serta rutin melakukan fumigasi.

Kadar Air dan Daya Simpan
Daya tahan dan daya simpan pakan dan bahan baku pakan sangat tergantung kadar air yang terkandung di dalamnya. Standar Nasional Indonesia (SNI) menetapkan angka ideal kadar air dalam pakan ternak tak melebihi 14 %. Keterangan ini disebut oleh Ika. Meskipun, sebagai antisipasi dan langkah aman, sebagian pabrikan menerapkan standar lebih baik dengan mematok kadar air di kisaran 10 – 12 % untuk pakan dan bahan baku pakan. Dijelaskan Ika, kadar air tinggi tidak harus terlihat basah, “Bahan baku yang kelihatannya kering belum tentu kadar airnya sedikit.”
Menurut dia, kadar air yang tinggi berhubungan dengan rusaknya protein dan lemak. Kadar air yang semakin tinggi di satu sisi dan kandungan protein serta lemak yang tinggi di sisi lain, secara bersama akan menimbulkan reaksi. “Reaksi terjadi pada amonia, yang menyebabkan timbulnya bau,” kata Ika. Peningkatan kadar air selama penyimpanan karena disimpan di tempat yang lembab, menyebabkan komposisi sebagaimana tertera dalam label tidak lagi sesuai. “Semakin tinggi kadar air, bahan kering persentasenya menurun. Protein yang semula disebut 20 %, karena kadar air naik, pasti proteinnya mengecil secara persentase,” jabar Ika.
Anang sempat menyebut, penyimpanan pakan dalam gudang yang lembab dipastikan bakal rusak dalam waktu 2-3 hari saja. Sebagaimana baku dalam teori, penyimpanan pakan dan bahan baku pakan yang kurang baik biasanya menimbulkan persoalan. Yang paling umum muncul di daerah tropis dengan kelembaban tinggi seperti Indonesia adalah tumbuhnya jamur. Kontaminasi jamur menjadi problem tersendiri karena jamur ini memproduksi racun yang biasa dikenal dengan mikotoksin. Jenisnya banya, tetapi yang paling terkenal di Indonesia adalah aflatoksin.
Pemberian pakan yang terkontaminasi mikotoksin pada ayam akan menimbulkan gangguan kesehatan serius (mikotoksikosis) berupa gejala keracunan, sampai kematian. Kasus yang banyak terjadi di lapangan, meski tak menimbulkan kematian tetapi kejadiannya signifikan menekan produksi ayam. Peternak harus menderita kerugian akibat penanganan pakan yang tidak tepat. Dan kasus mikotoksikosis masih menjadi salah satu kasus utama di perunggasan Indonesia.

Kenali Pakan Rusak
Tanda-tanda pakan rusak , antara lain disebut Ika adanya bau yang tidak semestinya, kemudian untuk jenis mash, akan menggumpal. Secara fisik, diukur semakin berat berarti sudah banyak terdapat jamur atau kutu. Apalagi pakan yang dibuat dengan kandunganlemak dan protein tinggi semakin jelas terlihat.

Artikel selengkapnya baca majalah Trobos edisi April 2011