Manajemen Unggas
01 June 2011
Iklim Berubah, Lalat Kian Berulah

Sudah dua tahun terakhir, kasus lalat muncul sepanjang tahun tak lagi musiman. Pembasmiannya pun makin sulit, lalat kian bandel

Tidak sebagaimana umumnya kandang layer (ayam petelur) yang kerap disatroni gerombolan lalat, lingkungan kandang layer di Kecamatan Polokarta, Sukoharjo Jawa Tengah itu terlihat sepi dari kerumunan serangga penular berbagai penyakit tersebut. Bau menyengat khas kandang layer pun nyaris tak terendus, ketika TROBOS bertandang ke kandang berbendera PT Agro layer Farm itu. Padahal, cuaca tengah didominasi curah hujan yang tinggi, tanah basah dan lembab, genangan air di sana-sini.

Kepala Divisi Kesehatan Argo layer Farm, Suryawan Junaidi kepada TROBOS mengatakan, pihaknya menerapkan sistem berlapis untuk pengendalian lalat. “Pemberian racun larva lalat melalui pakan, aplikasi semprotan larvasida (cairan pembunuh larva-red) pada kotoran ayam, serta aplikasi insektisida berbentuk kristal tabur untuk membasmi lalat dewasa,” sebut dokter hewan ini.

Ketika populasi lalat dewasa sudah sampai taraf mengganggu, obat anti-lalat bentuk kristal disebarnya di tempat-tempat lalat banyak berkerumun, di lorong kandang, di gudang pakan, dan gudang telur.Ditambahkan Suryawan, idealnya keterpaduan program pemberantasan lalat tak hanya intra-farm (dalam satu peternakan), tetapi juga mencakup inter-farm (antar peternakan sekawasan). Bila tidak, kandang yang tidak memperhatikan pengendalian lalat seolah menjadi pemasok lalat bagi peternakan lain. “Jangan sampai ada farm yang ‘enak-enakan memproduksi’ lalat sementara yang lain kena limpahan lalat,” katanya.

Pendapat serupa diutarakan pula oleh Yani Rustono Direktur CV Pradipta Paramita, produsen obat anti-lalat yang berkantor pusat di Solo. Menurut Yani, sesama peternak di satu kawasan mulai menyadari, lalat dan bau merupakan urusan komunal mereka. Peternak akan saling mengingatkan jika ada yang tidak beres dalam mengendalikan lalat. Karena selain akan menimbulkan masalah sosial, lalat akan bermigrasi ke farm milik rekannya di kawasan tersebut yang akhirnya menjadi masalah bersama antar peternak se-lingkungan.

Persoalan lalat kini mendapat perhatian tersendiri, pertimbangan utamanya untuk kelanggengan usaha peternakan agar tidak diprotes warga terdekat. Ekses bau dan sebaran lalat telah terbukti menjadi faktor paling sering dituding warga sekitar sebagai gangguan dan tak jarang berujung pada tuntutan penutupan usaha peternakan ayam. “Fakta menunjukkan, apabila kesan kumuh dan bau dihilangkan, serta lalat bisa dikendalikan tidak merebak, usaha peternakan ayam akan aman di situ,” ujar Yani pasti.

 

Pembasmiannya Lebih Sulit

Meski berhasil mengendalikan populasi lalat dan bau di peternakan yang di kelolanya, Suryawan mengakui upaya yang dilakukannya itu kini lebih sulit ketimbang tahun-tahun lalu. Ia mengatakan, serbuan lalat dalam setahun ini lebih gencar dan lebih sulit dibasmi. “Keberadaan lalat sekarang ini tidak lagi musiman, melainkan sepanjang tahun,” katanya. Bisa jadi dikarenakan perubahan iklim yang ditandai dengan hujan turun sepanjang tahun, tak jelas lagi pemisah musim kemarau dengan musim penghujan.

Hananto PT Bantoro, Technical Manager PT Novindo Agritech Hutama –produsen utama obat  anti-lalat— juga memberi keterangan yang senada. Sepanjang tahun ini, problem lalat cukup mendominasi kasus-kasus di kandang baik broiler(ayam pedaging)maupun layer. “Iklim yang tidak menentu memberi pengaruh luar biasa terhadap keberadaan lalat di kandang ayam,” kata Hananto. Pemicunya, intensitas hujan yang terus menerus.

Dijelaskan dokter hewan tamatan UGM(Universitas Gadjah Mada) Jogjakarta ini, habitat lalat biasanya di rumput, kebun dan sampah. Begitu hujan turun serangga ini akan mencari tempat berteduh, antara lain yang dituju adalah kandang ayam. Terlebih, di dalam kandang tersedia sumber pakan yang melimpah dan cocok sekali untuk tempat hidup lalat, berupa kotoran ayam yang basah.

Tetapi Hananto membantah asumsi yang menyebutkan perubahan suhu akan memicu jumlah populasi lalat secara umum. “Populasinya sama saja, tetapi karena hujan, lalat bermigrasi mencari tempat berteduh. Karena terkonsentrasi di kandang, seolah populasinya meningkat,” demikian ia menjelaskan. Dan karena hujan yang turun akhir-akhir ini makin sering, alhasil lalat selalu saja datang dan tak kunjung habis diberantas.

Kendati demikian, Hananto membenarkan adanya pengaruh suhu pada umur siklus hidup lalat. Ia menyodorkan data, semakin rendah suhu di suatu tempat, umur lalat dewasa semakin panjang. Demikian juga pergantian stadium dari telur-larva-pupa menjadi lebih panjang (lihat tabel).

Sementara itu, Yani menyebut sudah dua tahun terakhir kasus lalat muncul sepanjang tahun. “Nyaris tidak ada siklus puncak musim lalat atau peak season” katanya. Padahal, menurut siklus yang selama ini dianut, lalat ditengarai muncul di musim penghujan, antara November sampai Maret dengan puncaknya terjadi Desember hingga awal Januari. Biasanya bersamaan dengan musim buah-buahan. “Terutama kalau di sini pas musim mangga, keadaannya cukup parah,”keluhnya.

Suryawan juga mengeluhkan akibat dari hujan yang berkepanjangan terhadap padatnya populasi lalat di kandang. Pasalnya, saat curah hujan tinggi disertai angin, tampias air membasahi kolong kandang hingga lebih 50 cm ke dalam jauhnya. Sehingga feses susah dipertahankan kering, dan sangat kondusif untuk berkembangnya larva lalat. “Sementara standar kami, apabila larva terlihat di kotoran, segera disemprot dengan larvasida,” kata dia. Tak ayal, dengan makin tingginya perkembangan larva di kotoran, makin kerap frekuensi penyemprotan dan makin besar pula biaya yang dikeluarkan.

Demikian juga dengan penggunaan cyromaizine, jenis pembasmi larva lalat yang diaplikasikan melalui pakan. Pemberiannya di musim hujan seringkali kurang efektif, larva yang ada di feses tetap saja berkembang. Masuknya air tampias seakan mengencerkan atau melarutkan obat yang ada di feses sehingga tidak maksimal membunuh larva. Sejak 2010, kata Suryawan, ia tak berani menghentikan pemberian cyromaizine. Sebelumnya, obat ini diberikan dengan interval 21 hari, dan diselingi istirahat 7 hari. Tetapi sekarang, sebulan penuh cyromaizine diberikan selama hujan masih turun.

 

Integrated Fly Control

Pengendalian lalat yang terintegrasi masih menjadi strategi ampuh untuk menekan populasi lalat di kandang. Seperti langkah yang ditempuh Agro Layer Farm. Hananto kembali menegaskan, pengendalian lalat yang ideal harus mencakup pembasmian telur, larva, dan lalat dewasa. Pembasmian yang parsial tidak akan memutus mata rantai siklus hidup lalat. Membasmi lalat dewasa saja tidak akan efektif karena telur dan larva yang berkembang di feses akan menetas.Multifase lalat menuntut pengendalian yang multiaspek. Secara teknis oleh Hananto strategi ini diistilahkan dengan Integrated Fly Control (pengendalian lalat yang terpadu) yang meliputi fisik, biologis, dan kimiawi.

Hananto memaparkan strategi yang dimaksud. Pengendalian secara fisik,lebih mengarah pada upaya preventif dengan menciptakan suasana kandang yang ”tidak nyaman” bagi perkembangbiakan lalat. Upaya inimencakup kebersihan dan sanitasi sertadesinfeksi kandang, terutama pasca panen.Kemudian manajemen sampah,pembuangan litter, kotoran, dan bangkai ayam. “Kotoran ayam diangkat secara berkala, dan perlu diwaspadai agar dilakukan secara bersih sempurna untukmencegah agar tidak ada larva/pupayang tersisa,” ia berpesan.

Pembersihan rumput liar di sekitar kandang harus dilakukan untuk mencegahkerumunanlalat dewasa serta aliran udara di sekitar kandang lebih baik. Tinggi ideal rumput tidak lebih dari 7 cm. “Sela – sela batang rumput sering menjadi tempat lalat meletakkan telur dan berkembangnya larva,” katanya memberi alasan.

Berikutnya, manajemen kandang dengan mencegahkandang jadi lembab, mencegah kebocoran, memastikan air tidak masuk serta mengatur aliran udara alias mengaturventilasi.Karena lalat berkembangbiak di kotoran dan kandang yang lembab. Tidak kalah penting, meminimalisir akumulasi pakan di tempat-tempat sediaan, dan mencegah pakan sertaair tumpah.

Hananto memberi catatan, hanya dengan menerapkan kontrol secara fisik berupa menjaga kebersihan kandang, sanitasi lingkungan, serta manajemen sampah, populasi lalat akan dapat ditekan kurang lebih 50 % jika belum terlalu padat.

Pengendalian secara biologis. Hananto melanjutkan, metoda ini memanfaatkan musuh alami (predator) lalat, seperti kumbang, kutu, dan lebah. Secara teori penggunaan musuh alami lalat terbukti bisa menekan populasi lalat, tapi nyatanya, metode ini sulit diaplikasikan. Salah satu sebabnya,pertumbuhan predator umumnya lebih lambat dibanding lalat. Selain itu, predatorberpotensi menimbulkan masalah baru karenaia pun vektor penyakit tertentu.

Cara baru biologis adalah penggunaan Insect Growth Regulator (IGR) dengan zat aktif cyromaizineyang dicampur dalam pakan. Tujuannya, agar feses ayam mengandung larvasida ini. Masuk kategori biologis karena prinsip kerjanya mengganggu perkembangan larva yang ada di feses dengan menghambat pembentukan kitin (penyusun rangka tubuh) larva. Larva pun jadi keropos dan tidak berkembang menjadi lalat dewasa.

Pengendalian secara kimiawi. Ditujukan untuk membunuh lalat dewasa. Dari jenisnya, zat kimia ini dibagi dalam 3 golongan, organophosphat, permetrin, dan nikotinoid. Tapi penggunaan organophosphat mulai dilarang karena tingkat bahaya/efek samping yang ditimbulkan. Sementaraneonikotinoid, olehWHO (organisasi kesehatan dunia) dimasukkan dalam golongan 3, yang artinya aman sekali.

Sedangkan berdasarkanaplikasinya, cara kimiawidikelompokkan menjadi spray (semprot), tabur, serta pengecatan/pemolesan pada tempat-tempat tertentu. Hananto berpesan, perlu perhatian untukmetoda spraying, bila tidak hati-hati mudah menimbulkan resistensi lalat akan zat aktif yang digunakan. Akibat penyemprotan yang tidak merata, serta sifat lalat yang mudah beterbangan. Karena itu, disarankanspraying dilakukan waktu petang (jelang Maghrib) karena pada saat itu lalat mulai istirahat, terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu.

Sementara aplikasi pengecatan, lalat paling suka hinggap di lokasi ”siring” sehingga media efektif pengecatan adalah pada bentangan tali, batang kayu atau papan. Penggunaan kayu sebaiknya dipilih yang tidak berpori banyak, misal bisa digunakan ranting bambu. Hananto mewanti-wanti, untuk aplikasi kimiawi, sebaiknya diperhatikan titik-titik kritis pengendalian. Antara lain,waktu pemberian obat, pemilihan obat yang ramah lingkungan dengan efek samping paling minim dan harus cost effectively (biaya efektif).

Selengkapnya baca majalah Trobos edisi Juni 2011