Manajemen Unggas
01 October 2013
Manajemen Feeding 3 Fase pada Ayam Broiler

Idealnya, pemberian pakan broiler didasarkan pada standar kebutuhan nutrisi setiap fase kehidupannya. Tetapi dengan alasan kepraktisan peternak umumnya menganut dual feeding system atau bahkan single feeding system saja

 

Adalah Hari Wibowo, peternak broiler di Yogyakarta, salah satu yang menganut metoda pemberian pakan secara single feed. ”Hanya pakai satu jenis, pakan starter dari awal sampai panen,” ungkap Hari. Meskipun ia mengakui, idealnya broiler diberi pre starter, starter, dan finisher sesuai fase (umur) kehidupannya.

 

Alasan Hari, single feed mempermudah pemberian. Selain itu, penggunaan 2 atau bahkan 3 jenis pakan berkonsekuensi penyediaan stok 2 atau bahkan 3 item. ”Repot di stok,” kata Hari. Dan dengan pilihannya ini, Hari puas atas performa yang dihasilkan. Ia mengaku, IP (Indeks Prestasi) 300 mudah ia capai.

 

Ia pun tak menampik penggunaan kombinasi pakan starter di umur awal yang dilanjutkan finisher pada umur tertentu sampai panen, akan lebih hemat karena pakan starter lebih mahal ketimbang pakan finisher. Tetapi Hari tetap memilih memberikan pakan starter sampai akhir. Penjelasannya, dengan umur panen 33 – 34 hari dan FCR 1,6 serta bobot panen 1,8 kg per ekor, rata-rata ia menghabiskan 2,8 kg untuk tiap ekor broiler. Kalkulasi dia, biaya pakan hanya lebih tinggi Rp 100 per kg bobot broiler yang dihasilkan dibandingkan menggunakan kombinasi starter dan  finisher.

 

Sementara waktu panen, lanjut Hari, bisa 1 – 2 hari lebih cepat. Sehingga frekuensi chick in bisa 6,5 sampai 7 kali dalam setahun. Menurut Hari pakan finisher lebih cocok dan efisien untuk target panen ayam besar, panen dengan bobot di atas 2 kg. Tetapi kalau ayam besar, berarti setahun ia hanya 6 kali chick in karena panen umur 38 – 40 hari.

 

Antara Idealita dan Realita
Secara ideal, teknik pemberian pakan (feeding) pada budidaya broiler komersial dibagi atas 3 tahap berdasarkan periode kehidupannya, pre starter, starter, dan finisher. Ini antara lain disampaikan Desianto Budi Utomo, Vice President Government & Academis PT Charoen Pokphand Indonesia kepada Trobos Livestock.

 

Meski demikian, sambung Desianto, aplikasi di lapangan tidak melulu menganut teori dan idealita. Dengan alasan pakan pre starter mahal, serta alasan kepraktisan, jarang peternak menggunakan pre starter. Kebanyakan menerapkan dual feeding system, menggunakan 2 jenis pakan kombinasi starter dan dilanjutkan finisher. Bahkan, dengan alasan kepraktisan juga dan pendeknya waktu panen, banyak pula yang memilih cara single feed sebagaimana Hari Wibowo. “Peternak punya hitung-hitungannya sendiri, menyesuaikan kebutuhan dan pengalaman di kandang,” ujarnya. Paling tidak, tambah Desianto, menerapkan 2 jenis pakan starter dan finisher sudah baik.

 

Manager Feed, Sujaya Group, Dede Slamet Ruchyadi yang basis bisnisnya di Singkawang Kalimantan Barat juga mengatakan, peternak di Jawa umumnya menggunakan single feed  atau dua pakan. ”Jarang sekali yang menerapkan 3 jenis pakan kecuali yang tergabung dalam grup kemitraan,” tutur Dede.

 

Turut memberi keterangan, Bayu Sesarahardian, Reasearch Manager PT Sinta Prima Feedmill. Kata dia jenis pakan pada broiler adapre starter, starter, grower dan finisher. ”Tetapi di Indonesia popularnya pre starter, starter, dan finisher. Pemakaian pakan grower tidak popular. Sedangkan di luar negeri standar Cobb mengenal istilah pakan grower untuk broiler,” jelasnya.

 

Lanjut Bayu, tiga tipe manajemen feeding yang umum di Indonesia berdasarkan periodenya adalah (1) pre starter, starter kemudian finisher, (2) full starter hingga panen dan (3) starter dilanjut finisher. Pemilihannya mengacu pada kemudahan peternak dalam melakukan stok dan distribusi pakan ke kandang, kondisi lingkungan peternak apakah nyaman atau risiko tinggi,serta target produksi yang diinginkan.

 

Senada, Dede mengatakan, di Indonesia umumnya panen di bawah 2,5 kg. Jadi hanya menggunakan pakan pre starter, starter, dan finisher. ”Kalau Cobb, panen sampai 3 kg jadi pakai pre starter, starter, grower, dan finisher,” terangnya.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi Oktober 2013