Agri Unggas
01 January 2010
Merpati Potong:Permintaan Tinggi, Pasokan Sedikit

Burung dara atau merpati di Indonesia selama ini dipelihara hanya sebagai hobi. Yakni untuk keperluan adu ketinggian terbang, balap dan pos. Sementara budidaya merpati untuk dimanfaatkan dagingnya sebagai kebutuhan pangan (merpati potong) masih sangat jarang dijumpai. Padahal permintaan daging merpati untuk dikonsumsi cukup tinggi dan untungnya juga cukup menggiurkan.
Pengepul merpati potong asal Ungaran ? Semarang, Supratno menyebutkan, permintaan merpati potong di pihaknya berkisar 70 sampai 200 ekor per hari. Permintaan itu tak hanya datang dari wilayah Semarang tapi juga dari luar Jawa. Dia mengaku kadang kala mendapat order merpati ke Kalimantan dalam bentuk karkas beku mencapai 200 ekor dalam sekali kirim.
Supratno memasok merpati untuk warung makan, restoran hingga hotel-hotel berbintang. Harga setiap karkas merpati yang siap diolah sekitar Rp 15.000 ? Rp 20.000. ?Bergantung spesifikasi permintaan bentuk fisik dan bobot badan karkas,? jelasnya. Ditambahkan Supratno, untuk keperluan konsumsi sebenarnya yang diinginkan adalah merpati yang masih anakan (piyikan) atau disebut sebagai squab. Yakni merpati yang berumur kurang dari sebulan. Squab disukai karena dagingnya masih lunak dan rasanya gurih.
Supratno menyebutkan, bahan baku squab didapatkan dari peternak merpati di sekitar wilayah Semarang. Diantaranya Mranggen, Purwodadi, Magelang, Temanggung, Solo, Boyolali dan Ambarawa. Patokan harga per ekor merpati dengan berat badan berkisar 200 gram ? 300 gram adalah Rp 12.500. Sedangkan untuk merpati yang berbobot kurang dari 200 gram, dihargai Rp 10.000 per ekor.
Sayang, karena pembudidaya merpati potong masih jarang, maka sangat sulit untuk mendapatkan squab. Tak jarang kemudian digunakan merpati afkiran (sudah tua) dari para pemelihara merpati untuk hobi. ?Kebutuhan merpati potong banyak diperoleh dari peternak merpati hobi,? katanya.

Pasar Tak Menentu
Langkanya pembudidaya merpati potong menurut Suprapto karena pasarnya yang tak menentu. Misalnya saat liburan dan hari raya, permintaan merpati diprediksi meningkat, namun ternyata tak beda jauh dengan hari biasa.
Sementara, Agus Siswanto peternak merpati hobi beranggapan, kurang menariknya bisnis merpati potong karena kendala pakan yang mahal. ?Bayangkan, biaya pakan bisa mencapai 2 ? 3 kali lipat dari harga jual, itu belum termasuk biaya jamu-jamu jika dijadikan merpati balapan? ujarnya.Ongkos produksi yang mahal tersebut hanya akan sepadan jika bisa menghasilkan merpati hias atau balap yang bagus. Agus yang juga putra sulung Supratno menyebutkan, di beberapa daerah di Jateng dan Jogja, pernah ada pembudidaya yang menekuni bisnis merpati potong. Tapi kini jarang sekali dijumpai.
Budidaya squab tidak mudah, selain pangsa pasar yang belum jelas juga kendala pakan. Squab, kata Agus, idealnya tidak melebihi umur 1 bulan. Lebih dari itu, nilai jualnya akan menurun. Sementara, apabila pasar lesu, bisa diperkirakan squab di kandang membludak. Akibatnya, biaya pakan jadi membengkak.
Namun bagi pakar aneka unggas dari Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Teysar Adi Sarjana, budidaya merpati sebenarnya tak terlalu sulit. Jenis unggas ini mudah beradaptasi di berbagai tempat dan jarang ditemukan penyakit. Bahkan, sampai saat ini belum ada penyakit yang spesifik pada jenis unggas tersebut. ?Salah satu jenis unggas tahan penyakit adalah merpati,? katanya.
Mengenai kendala biaya pakan, menurut Teysar bisa diantisipasi dengan pemberian pakan dari berbagai biji-bijian dan bahan pakan lain yang sesuai kebutuhan nutrisi merpati. ?Kebutuhan protein merpati rendah, sekitar 13 ? 15 %, sehingga pakannya mudah diganti dengan meramu pakan sendiri sebagaimana pakan ayam atau itik,? jelasnya.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Januari 2010