Agri Unggas
01 March 2010
Jalan Berliku Integrasi Vertikal Layer

Integrasi vertikal pada perunggasan dimaknai sebagai upaya menyediakan sendiri sarana produksi pokok, biasanya berupa pakan dan bibit. Biasanya cara ini bermakna mendekatkan sumber pakan dan bibit sehingga menekan biaya transportasi dan pengendalian penuh atas riwayat dan spesifikasi sarana produksi yang dipakai peternak.
Meramu pakan sendiri bagi peternak layer di Indonesia sudah umum. Tetapi peternak yang memproduksi DOC sendiri masih jarang ditemui. ?Jangankan memproduksi DOC, banyak peternak yang masih suka membeli pullet ketimbang membikin pullet sendiri dari DOC,? kata Soewardi, komisaris CV Bina Unggas Pratama yang memproduksi DOC layer strain Hyline.

Antisipasi Fluktuasi Harga
Awal mula Soewardi membangun pembibitan dan penetasan sendiri pada 1994 adalah karena ingin mengantisipasi fluktuasi harga DOC dan sering ?menghilangnya? DOC layer dari pasaran. ?Saat kita butuh, DOC mahal dan bilangnya stoknya nggak ada,? katanya mangkel (mendongkol). Menurut dia, keadaan seperti itu menyulitkan peternak yang sedang membutuhkan replacement (mengganti ayam afkir). Apalagi jika populasi layer-nya mencapai dua ratusan ribu seperti Doni Farm yang dikelola Soewardi, sehingga setiap saat membutuhkan DOC untuk mempertahankan siklus produksinya.
Saat kepepet seperti itu, peternak akhirnya tak memperhatikan lagi kualitas DOC yang dibelinya. ?Jadinya ya  asal dapat,  wong  dapat DOC saja sudah bagus,? ungkap Soewardi. Membeli pullet juga tak menyelesaikan masalah kelangkaan DOC saat itu. Karena membeli pullet juga tak mudah dan pasti harganya ikut naik. ?Selain itu harus berhati-hati karena rawan manipulasi umur dan kaburnya status kesehatan,? tandasnya.

Efisiensi dan Pendapatan Selain Telur
Karena alasan inilah Soewardi pada 1994 memutuskan untuk memproduksi DOC layer sendiri berbendera PT Wahana Bina Unggas Pratama (Sekarang CV Bina Unggas Pratama), dengan populasi parent stock (PS) 3000 ekor dan 1 set mesin tetas. Karena hasilnya berlebih jika dibandingkan dengan kebutuhan internal farm, maka sebagian DOC dijual kepada peternak lain.
Dengan demikian, peternakan yang memproduksi DOC sendiri berkesempatan memiliki sumber pendapatan di luar penjualan telur. ?Saat DOC di pasaran mahal dan langka, kita tetap bisa replacement tanpa biaya lebih besar. Dalam kondisi normal sekalipun kita tetap efisien, karena dalam biaya pengadaan DOC kita terhitung lebih murah ketimbang harga pasar,? ungkap Bambang Sumantri, Marketing Manager Dony Farm dan CV BUP.
Menurut Bambang, hingga awal 2010 ini perusahaannya memiliki 22.000 ekor parent stock layer strain Hyline produksi sebuah breeder dari Bandung. Dengan 5 unit mesin tetas produksi DOC-nya mencapai 720 box/minggu (@100 ekor). DOC yang dilempar ke pasar diberi label Cakra 50 diluncurkan pertama kali tepat pada peringatan hari kemerdekaan RI ke-50 pada 17 Agustus 1995.
Untuk menjual DOC layer produksinya, BUP menggandeng mitra distribusi / agen di Blitar. Blitar sengaja dipilih sebagai pasar utama karena merupakan sentra peternakan layer Jawa Timur. ?Dia menjadi agen tunggal, dan memiliki pelanggan loyal peternak skala kecil ? menengah dengan rata-rata populasi 5000 ekor,? terang alumni Fapet IPB ini.
Kini BUP tak hanya memproduksi DOC layer, tapi juga broiler. ?Dony Farm pernah ekspansi usaha pembesaran broiler. Sekarang berhenti, tapi justru berganti memproduksi DOC broiler,? kata  Soewardi. Budidaya pembesaran (komersil) broiler dialihkan ke Jawa Barat (Ciamis) dan ditangani langsung oleh putranya. ?Dasar pemikirannya hampir sama dengan pendirian breeding layer,? katanya. Populasi PS broiler BUP hingga akhir Februari lalu sebanyak 6.000 ekor, dan pada April mendatang direncanakan bertambah 3.600 ekor lagi.

Pullet dan Pejantan
Seiring meningkatnya status usaha dengan membibitkan sendiri DOC layer, muncul problem baru berupa produksi ?sampingan? DOC pejantan dan naik-turunnya kapasitas serap pasar DOC. ?DOC pejantan pernah mengalami ?boom permintaan? beberapa saat lalu. Untuk substitusi ayam kampung yang pasokannya menurun drastis,? kata Bambang Sumantri.
Selain berkesempatan menjual DOC, Soewardi juga menjual pullet, jika terjadi kelebihan antara produksi pullet dengan kebutuhan replacement. Usaha ini juga menjadi buffer bagi naik-turunnya daya serap pasar DOC. Menurut  Bambang Sumantri, saat serapan pasar kurang baik, sebagian DOC dibesarkan menjadi pullet sembari menanti serapan pasar membaik selama menunggu panen pada umur 13 - 18 minggu (rata-rata 16 minggu). Populasi pembesaran pullet kini mencapai 22.750 ekor per periode dari kapasitas kandang pembesaran 27.500 ekor.

Sedang Diuji
Siklus anjloknya harga dan permintaan DOC selalu terjadi tiap tahunnya, sehingga menantang kerja lebih keras, cerdas dan intuitif. Hal ini membuat produksi sendiri DOC tidak semulus perhitungan di atas kertas. ?Sejak akhir 2009 sampai hari ini harga DOC ambleg (terpuruk), bahkan sampai di bawah Rp 1.000,-/ekor. DOC pejantan pun hanya laku Rp 800,- karena harga daging pejantan dan daging ayam kampung juga turun. Apalagi harga telur jatuh di bawah BEP, hari ini (pertengahan Februari-red) hanya Rp 9.400,-/kg, sudah sedikit naik daripada bulan lalu yang hanya Rp 8.500,-/kg,? keluh Bambang.
Bahkan DOC yang dikirim ke agen pernah mangkrak, tidak ada yang membeli karena peternak menunda replacement. ?Biasanya kejadian serupa tak berlangsung lama. Tapi yang terjadi saat ini, sudah 3 bulan lebih belum bangkit juga. Liburan, tahun baru, dan bulan Mulud (bulan Jawa) juga tidak bisa mengangkat harga seperti biasanya,?katanya.
Kondisi seperti ini menurut Bambang pernah terjadi pada 1998. ?Saat itu kita mau menunda chick in parent stock karena kondisi harga sangat parah. Tapi oleh pak Soewardi dicegah, harus tetap chick in karena dalam beberapa saat pasti akan bangkit lagi,? tuturnya. Benar saja, intuisi Soewardi terbukti beberapa bulan kemudian, BUP kebanjiran order DOC layer dengan harga luar biasa.
Menurut perkiraan Bambang Sumantri, pada 2008 ? 2009 harga DOC yang mencapai level Rp 8.000/ekor membuat sebagian pihak ikut-ikutan memproduksi DOC layer. ?Akhirnya terjadi boom produksi DOC pada akhir 2009 sehingga pasar jatuh. Diperparah dengan penundaan replacement peternak karena harga telur juga ambleg karena berbagai faktor,? jelasnya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS edisi Maret 2010