Agri Unggas
01 July 2010
Dicari Bibit Ayam Kampung Asli

Ayam kampung hasil persilangan membanjiri pasaran, bibit ayam kampung asli kian sulit ditemukan

Memasuki liburan sekolah awal Juli ini permintaan ayam kampung khususnya di Jogjakarta meningkat. Ditambah pada akhir Juni lalu di Kota Gudeg itu digelar acara Muktamar Seabad Muhammadiyah yang dihadiri 80 ribu orang, serapan pasar unggas lokal itu kian besar.
Sayangnya peluang pasar itu tidak dapat optimal terpenuhi oleh para peternak ayam kampung di Jogjakarta. Menurut Ketua Harian Asosiasi Peternak Ayam Buras (Asteras) Jogjakarta, Ir M Maharindra, untuk memenuhi permintaan ayam kampung asli 100 ekor per hari saja sulit.
Ia menjelaskan, kelangkaan ini antara lain disebabkan lebih besarnya tingkat permintaan dibanding produksi, pengurasan ayam kampung, dan pembibitan yang hingga kini masih muskil (sulit) diintensifikasi. Maharindra menggambarkan, pengurasan terjadi karena tidak kurang dari 3.000 ayam kampung dari Jogjakarta dikirim ke Jakarta setiap hari. ?Pengiriman dilakukan melalui pengepul di Pasar Ayam Terban Kabupaten Sleman Jogjakarta,? kata Maharindra.
Pengurasan ini membuat harga ayam kampung naik terus. Maharindra mengungkapkan, tahun lalu, di Jogjakarta harga ayam kampung Rp 21 ribu per kg, kini Rp 22 ribu/kg pada hari biasa. Bahkan harga bisa mencapai Rp 22.000/kg sampai Rp 24.000/kg pada liburan. Dari hitungan analisa usaha, seorang peternak ayam kampung bisa mendapat untung bersih Rp 2 juta per 1.000 ekor populasi (lihat tabel).
Terdongkraknya harga ayam kampung juga dipicu oleh sikap ?tahan barang? oleh peternak. Sekarang banyak peternak yang biasa panen bobot 0,8 kg - 0,9 kg/ekor menahan ayamnya, untuk stok saat bulan puasa dan lebaran yang tinggal beberapa minggu. Biasanya pada saat puasa dan lebaran konsumen menyukai ayam besar, berbobot 1,5 kg ? 2 kg/ ekor.
?Bahkan jago bangkok 3 kg/ekor pun laku saat lebaran,? tutur Maharindra. Ia menambahkan, menjelang lebaran harga ayam besar - kecil sama, antara Rp 24 ribu ? Rp 27 ribu per kg. Namun harapan harga tinggi itu terkadang juga meleset kalau Jogja kebanjiran pasokan ayam kampung dari Blitar, Lamongan, dan Kediri, ungkap Maharindra.

Berburu DOC
Banyaknya permintaan menjelang liburan dan lebaran membuat bibit atau DOC (Day Old Chick/ayam umur sehari) ayam kampung yang sudah bertahun-tahun langka jadi kian sulit didapat. ?Kalau mau, menunggu mungkin 1 - 2 bulan lagi baru dapat,? kata Tirto Hartono, penetas ayam kampung terbesar di Jogjakarta.
Harga DOC saat ini (akhir Juni) Rp 4.000/ekor, naik Rp 200/ekor dibanding harga sepekan sebelumnya. Sementara itu, Maharindra mengaku bisa menyediakan DOC setiap 2 minggu dengan sejumlah 2.000 ekor melalui jaringan Asteras. ?Minimal pesanan 200 ekor,? katanya.
Hartono menjelaskan, selain disebabkan permintaan yang tinggi, kosongnya DOC juga disebabkan oleh semakin langkanya telur tetas. Muntilan, Wonosobo, dan Temanggung yang dulunya sumber telur tetas ayam kampung asli ndeso ini, kini kosong. Boyolali dulu sempat memasok tetapi juga kini mulai habis. ?Sampai-sampai saya harus berburu ke pelosok Jawa Timur seperti Lamongan dan Blitar,? papar Hartono.
Setiap 5 hari, Hartono mendapatkan pasokan telur tetas ayam kampung sejumlah 5.000 ? 6.000 butir, seharga Rp 1.700 - Rp 2.000/butir. Telur sejumlah itu hanya menghasilkan DOC sebanyak 2.000 ? 2.500 ekor saja. Telur tetas yang masuk itu rata-rata hanya 60% yang benar-benar fertil (sudah dibuahi). Sehingga dengan daya tetas 60% ? 70%, maka telur yang menetas hanya sekitar 40% ? 50% dari telur yang masuk. Padahal, sebenarnya mesinnya bisa menghasilkan daya tetas lebih dari 80%.
Setelah ditelusuri, lanjut Hartono, ternyata penyebabnya adalah kualitas telur tetas turun. Akibat perjalanan telur ayam kampung asli deso terlalu lama. Mulai dari peternak, pengumpul, pengepul, sampai ke tangan Hartono butuh waktu hingga seminggu. ?Setiap titik tadi pasti memeriksa, meneropong, mengganti wadah, dan sebagainya.
?Jadi, chalaza (tali yolk) kendor atau malah putus sehingga zigot tak bisa berkembang,? terang penetas yang juga produsen mesin tetas full digital berlabel HTN ini. Selain itu, telur asli deso ini fertilitasnya kurang karena tidak terbuahi sempurna, tak seperti di breeding farm (pembibitan) yang mengaplikasi inseminasi buatan.
Diakui Hartono, sampai saat ini pembibitan ayam kampung masih mengandalkan telur tetas asli deso karena hanya peternak backyard di desa-desa yang mampu menghasilkan. ?Belum ada cerita produksi telur tetas ayam kampung intensif itu untung,? tandasnya.
Hal ini karena, ayam kampung asli hanya mampu bertelur 11 ? 12 butir/clutch,  dengan siklus 4 clutch/tahun. ?Betina pilihan pun maksimal bertelur 115 butir/tahun. Itu pun mesti memakai perlakuan khusus,? terangnya.

Berkembang Silangan
Problem pada perbibitan ayam kampung asli ini memicu pembibit ?berkreasi? memproduksi DOC ayam kampung ?super? (sudah hasil persilangan) alias ayam ?br?k?l??. Menurut Manajer Produksi Pembibitan Ayam Silangan asal Klaten, Drs Paryanto, ayam ini merupakan hasil silangan ayam kampung dengan layer (ayam petelur).
Jenis ayam ?campursari? ini juga bisa persilangan ayam kampung dengan ayam bangkok, ayam arab, dan broiler (ayam pedaging). ?Kalau mau jujur, 80% kebutuhan ayam kampung dipenuhi oleh ayam silangan dan pejantan layer ini,? kata Pria yang menitip-tetaskan telur-telurnya kepada Hartono ini.
 Menurut pria yang akrab dipanggil Jhon ini, harga DOC br?k?l? ini Rp 4.200/ekor, Rp 200 lebih tinggi dibanding DOC ayam kampung asli. Setiap 3 hari Jhon memasukkan 3.000 butir telur br?k?l? ke penetasan Hartono.


Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Juli 2010