Agri Unggas
01 September 2010
Perpaduan Ayam Kampung Unggulan

Ayam KUB lebih efisien pakan dan produksi telur lebih tinggi

Suara ayam berkokok kian ramai terdengar dari pekarangan belakang rumah Ade Diana. Tidak kurang dari 10 ribu ekor ayam kampung ia pelihara di lahan seluas 1 hektar. Awalnya peternak ayam kampung asal Ciamis Jawa Barat itu hanya memelihara sekitar 5 ribu ekor ayam sentul (ayam asli Ciamis).
Baru pada akhir 2008, Ade mendapat bantuan ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak) dari Balai Penelitian Peternakan (Balitnak) Kementerian Pertanian sebanyak 500 ekor DOC (Day Old Chick/ayam umur sehari). Ia mencampur pemeliharaan ayam KUB dan Sentul sebagai ayam pedaging.
Kini Ade sudah bisa memproduksi sendiri DOC ayam kampung dengan indukan perkawinan silang antara ayam sentul dan KUB. “Saat ini saya punya sekitar 250 indukan ayam KUB penghasil DOC,” kata Ade kepada TROBOS beberapa waktu lalu di Ciamis.
Lebih lanjut Ade menjelaskan, ayam KUB mempunyai dwi guna yaitu ayam sebagai penghasil telur dan pedaging. Ayam KUB pedaging waktu pemeliharaan 2 - 3 bulan sudah siap panen, dan untuk petelur pada umur 5 - 6 bulan sudah tinggi produksinya (lihat tabel).
Ia memelihara ayam kampung pada 5 kandang dengan masing-masing ukuran 5 x 22 m (3 kandang) dan 5 x 30 m (2 kandang). Kelima kandang tersebut menempati 0,5 hektar dari total areal peternakan milik Ade seluas area peternakan 1 hektar. Kepadatan pemeliharaan tiap kandang antara 15 – 20 ekor per meter2.
Ayah dari dua anak ini menjual ayam KUB dalam bentuk pedaging dan DOC. Untuk pedaging dijual pada ukuran berat hidup 5 ons/ekor dengan harga Rp 15.500 per ekor. Sementara untuk berat hidup 9 ons/ekor dihargai Rp 24.400 per ekor. Lalu untuk DOC-nya seharga Rp 5.000 per ekor.
Permintaan ayam kampung hasil ternaknya sangata tinggi. Banyak permintaan yang tidak dapat dipenuhi oleh Ade, padahal hanya permintaan di sekitar Ciamis dan sekitarnya belum dari luar daerah Jawa Barat. “Permintaan untuk DOC nya saja per hari bisa sampai ribuan, sedangkan hanya bisa mencukupi 300 – 400 ekor per minggu,” tuturnya dengan lirih.
Ia menyebutkan kendalanya ada pada keterbatasan modal untuk bahan baku pakan. “Untuk bibit tidak terlalu, karena bisa memproduksi sendiri,” ujarnya. Pria yang mendapat penghargaan sebagai juara 1 Peternak Ayam Kampung Tingkat Nasional 2009 ini bertekad untuk  mengembangkan usaha ayam kampung agar jangan sampai punah.

Keunggulan Ayam KUB
Sebagaimana disebutkan ILRE (International Livestok Research Institute) yang bermarkas di Etophia, ayam lokal Indonesia punya keunikan dibandingkan ayam lokal asia lainnya, seperti India dan China. Hanya kekurangan ayam kampung adalah sifat mengeramnya yang tinggi dan produksi telurnya yang rendah.
Namun itu dulu, sekarang telah hadir ayam KUB lebih unggul dari ayam biasa. Salah satu keunggulannya dari sisi efisiensi pakan yang hanya 80 – 85 gram per ekor per hari, biasanya ayam kampung menghabiskan pakan 100 gram per ekor per hari. Selain itu yang ayam KUB mempunyai sifat mengeram yang rendah sehingga produksi telurnya tinggi.
Menurut Peneliti dari Balitnak, Dr Ir Tike Sartike, Msi,  ayam KUB secra jenis sebenarnya sama dengan ayam kampung lainnya. “Hanya produktivitas telurnya tinggi serta pertumbuhannya lebih cepat,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, ayam KUB merupakan hasil persilangan berbagai jenis  ayam kampung dari berbagai daerah yang punya sifat unggul. Misalnya di Ciamis ada ayam ayam sentul yang punya produksi telur cukup bagus. “Untuk menghasilkan pedaging dengan waktu pemeliharaan (10 – 12 minggu), dengan bobot berat 8 ons – 1 kg/ekor maka harus dikawinkan dengan ayam lokal lainnya,” jelasnya.

Cikal Bakal
Awal mulanya penelitian ayam KUB dilakukan sekitar 1998-an. Tike menceritakan, kala itu dikumpulkan berbagai ayam kampung dari beberapa lokasi di Jawa Barat. Seperti dari Depok, Cianjur, Jatiwangi, Cigudeg, dan Ciawi. “Pokoknya ayam kampung yah, bukan ayam lokal spesifik yang memang belum didefinisikan,” ucapnya dengan lugas.
Kemudian diseleksi 2 sifat unggulan dari ayam kampung tersebut, yaitu sifat mengeram dan produksi telur. Sifat mengeram dilakukan pengamatan selama 6 bulan, kemudian dilihat produksi telurnya setiap hari dan dihitung sampai 6 bulan produksi. “Dilihat mana yang mengeram mana yang tidak,” tutur wanita yang memperoleh sarjana peternakan di Institut Pertanian Bogor ini.
Hasil pantauannya, ternyata ayam itu kalau dikandangkan secara individu dan  diletakkan pada kandang baterai, sudah memperbaiki sifat mengeram dari pada ayam tersebut. Dalam waktu 6 bulan penelitian didapatkan hasil produksi telur sekitar 85 butir/ekor. Biasanya ayam kampung yang dipelihara secara tradisional hanya 12 – 20 butir sekali bertelur dengan hanya 5 – 6 kali prosesnya per tahun. Artinya cuma bisa menghasilkan 60 butir per tahun.
Melihat hasil awal tersebut, akhirnya  ia dan kawan–kawan penelitinya di Balitnak meneliti lebih lanjut untuk memperbaiki kedua sifat unggulan sifat tersebut. Dari 1998 populasi dasar dikawinkan, dan dikoleksi setiap generasi dibuat sebanyak 400 ekor. Kemudian untuk seleksi diambil sekitar 300 ekor dan sisanya jadi kontrol dengan pengamatan penelitian selama 6 bulan.


Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi September 2010