Agri Unggas
01 November 2010
Kawin Silang Ayam Kampung : Produktif atau Kontraproduktif?

Kawin silang banyak dilakukan untuk mendapatkan ayam kampung dengan produktivitas tinggi, memenuhi tuntutan konsumen. Berhasilkah?

Ayam-ayam itu memiliki penampakan harfiah layaknya layer (ayam ras petelur), dengan warna bulu coklat kemerahan. Alih-alih layer, ayam ini asli dari Bangka yang dikenal dengan julukan ayam merawang, sehingga masuk dalam kategori ayam kampung. Oleh Bambang Krista, sebanyak 500 ekor didatangkan langsung dari tanah asalnya, dan kini resmi menjadi penghuni kandang yang berlokasi di Setu, Bekasi.
Bambang, yang sudah 2 tahun ini mengaku asik bergelut dengan usaha pembibitan ayam kampung, kini tengah fokus menggarap proyek mengawinsilangkan beberapa jenis ayam kampung. ?Tujuannya adalah mendapatkan bibit unggul yang sesuai dengan selera konsumen,? kata Bambang. Ayam merawang dipilih dengan alasan memiliki sifat dwiguna. Sebagai pedaging jenis ini cocok, di sisi lain produktivitas telurnya juga tinggi.
Tetapi karena penampilan yang seperti layer, variabel yang kurang disukai konsumen ini hendak dikoreksi Bambang. Menurut  pria asli Solo ini, dalam persepsi umum konsumen, ayam kampung harus kehitaman atau berwarna gelap dan kakinya kehitaman. Sehingga kawin silang ayam merawang dengan ayam kampung lain diprediksi bakal berujung pada hasil ayam dengan kualitas genetik dan performa yang sesuai pasar. Ia yakin bisnis ini sangat prospektif.

Sifat Induk Betina
Dalam mengawinsilangkan ayam kampung, menurut Bambang, yang menjadi dasar utama adalah produktivitas betina. Kemampuan bertelur induk yang tinggi, akan diturunkan sehingga turunannya akan mampu berproduksi telur yang tinggi. ?Tongkrongan ayam merawang itu lebih tinggi dan ramping. Inilah yang mencirikan produktivitas tinggi,? terangnya.
Ukuran telur pun, lanjut Bambang, relatif lebih besar ketimbang ayam kampung lainnya. ?Sekitar 45 ? 50 gram,? ia menyebut ukuran rerata bobot telur ayam merawang. Variabel ini juga digunakan Bambang sebagai dasar dalam kawin silang ayam kampung. Karena dengan persilangan ini ukuran telur dan DOC (Day Old Chick/ayam umur sehari) yang dihasilkan akan lebih besar lagi.
Sementara untuk induk jantan, Bambang memilih ayam pelung dan kedu sebagai pasangan ayam merawang. Kedua ayam kampung ini memiliki postur besar, pertumbuhan cepat, dan terutama warna tubuh yang gelap. ?Anakan yang didapat sedang dicoba dikawinsilangkan untuk menghasilkan generasi kedua (F2). Diharapkan turunannya bisa menjadi calon indukan lagi dan sifat ? sifatnya bisa mendekati kriteria ayam kampung sesuai selera konsumen,? ujarnya optimis. Satu hal yang masih mengganjal, kata Bambang, ayam kampung kreasinya rata-rata berjengger tunggal. ?Buat konsumen pedaging ini persoalan tersendiri, karena biasanya kurang disuka,? ungkapnya.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Nopember 2010