Agri Unggas
01 January 2011
Geliat Peternakan Bebek Filipina

Indonesia perlu belajar bagaimana Filipina mencapai kemajuan lebih pesat dalam mendongkrak konsumsi telur

Meskipun dalam sepak bola Indonesia menang melawan Filipina pada ajang piala AFF akhir tahun lalu, namun kita mesti belajar kematangan kekompakan permainan mereka. Dalam khasanah per-bebek-an aganya juga demikian. Filipina yang konon perunggasan broiler-nya (ayam pedaging) juga sempat hancur melawan serbuan paha ayam dari Amerika Serikat, ternyata cukup berhasil membuka pintu substitusi dengan mengembangkan bebek.
Pertimbangannya, tak seperti perunggasan ras yang tergolong foot lose sector, bebek lebih mengakar, mandiri sumber daya genetik dan memiliki tempat dalam budaya setempat. Perkembangan produksi dan konsumsi produk asal bebek di sana pun cukup pesat.
Gambaran  komprehensif mengenai perkembangan indigenous duck (bebek asli) di negeri beriklim tropis laut  ini disampaikan oleh Prof Angel L Lambio PhD dari University of Philippine-Los Banos pada seminar nasional perunggasan lokal di Semarang beberapa waktu lalu. “Mungkin kurang lebih sama dengan di Indonesia,” kata Angel di awal pembicaraannya.
Dari pemaparannya yang menarik justru bukan angka produksi, tapi percepatan kenaikan populasi dan konsumsinya yang patut diperhitungkan. Bebek yang dikembangkan di negeri berpenduduk 98 juta jiwa ini  berjenis mallard (itik kalung), yang dibawa dari China berabad lalu. Mallard yang dalam bahasa Filipina sana juga disebut ‘itik’ ini kemudian diseleksi dan disilangkan dengan jenis lain sehingga dihasilkan bebek unggulan.
Pengembangan bebek terpusat di Pateros City, yang dalam bahasa Spanyol ‘Pato’ berarti bebek. Dari wilayah inilah kemudian bebek unggulan disebarkan ke wilayah-wilayah lain. Stakeholder industri bebek di Filipina berkumpul dalam asosiasi DIAPI (Duck Industry Association of the Philippines). Asosiasi ini berfungsi untuk memperkuat posisi pembudidaya dan produsen bebek (daging dan telur) olahan. Selain itu DIAPI giat mempromosikan peluang dan minat bisnis budidaya maupun pengolahan bebek kepada masyarakat.

Populasi dan Produksi
Populasi bebek di negeri kepulauan ini saat penjelajah Spanyol mendarat pada abad ke-16 tercatat hanya 1 juta ekor, dan terpusat di Pateros dan Taguig, Provinsi Rizal. Pada 1960, populasinya menjadi 2,23 juta ekor. Angka itu pada 2010 telah melambung 381 % pada 2010 menjadi 10,58 juta ekor. Menurut Angel sejak 2000, populasi bebek tumbuh rata-rata 1,12 %/tahun.
Sebagaimana di Indonesia, populasi bebek di Filipina berkembang ke pelosok negeri yang memiliki area persawahan yang luas. “Mulanya hanya di kawasan Danau Laguna Pulau Luzon. Begitu budidaya bebek menjadi populer, bebek berkembang semua wilayah pertanian padi,” tutur Angel. Sampai kini, Luzon menduduki peringkat pertama populasi terbanyak (51,8 %), disusul Mindanao (25,8 %) dan Visayas (22,34 %). Berdasar jenis lahan, 65 % bebek dibudidayakan di sekitar persawahan dataran rendah.
Menurut Angel, bebek di Filipina berkembang pesat sejak 1953 hingga 2002 dengan rerata pertumbuhan 5,93% per tahun. “Kini agroindustri bebek telah menjelma menjadi bisnis multi-miliar peso,”kata Angel. Produksi telur dan daging bebek 2009 senilai  total PhP 5,44 miliar atau setara Rp 1,14 triliun, yang 54,5 % - nya disumbang diperoleh dari produksi telur.
Angel mengakui angka ini masih jauh lebih rendah daripada produksi perunggasan ras yang mencapai PhP 138,87 miliar (Rp 29,162 triliun), babi PhP 127,12 miliar (Rp 26,6 triliun), sapi potong PhP 15,89 miliar (Rp 3,34 triliun), dan persusuan (sapi dan kerbau) PhP 6,78 miliar (Rp 1,42 triliun). “Bukan hanya peternak yang meraup untung dari besarnya nilai uang bisnis bebek ini. Tetapi juga pabrik pakan, produsen olahan telur, pembibit, distributor, dan lainnya,” kata Angel.
Ia menggambarkan bebek di Filipina mulai dikembangkan secara serius dengan skala dan model industri secara mandiri maupun berkelompok. “Meskipun mungkin secara volume nasional tetap lebih kecil dibanding dengan Indonesia,” ungkapnya. Sebanyak dari total populasi  nasional (lihat atas) 7,76 juta ekor (73,34 %) ekor dibudidayakan di backyard farming dan 2,82 juta (26,66 %) ekor dikembangkan di peternakan komersil. Meski jika dibandingkan dengan populasi bebek Indonesia yang mencapai 34,6 juta ekor pada 2009 terlihat kalah jauh, tetapi dari rasio peternakan komersil dan tradisional terlihat Filipina lebih serius mentransformasi budidaya bebek menjadi lebih modern.
Sementara budidaya bebek pedaging, papar Angel, belum populer di Filipina. Daging bebek yang dikonsumsi masyarakat umumnya berasal dari bebek betina afkir, bebek culling (disisihkan), maupun pejantan. Produksi daging bebek negara ini hanya 10.670 ton pada 2005 dan meningkat menjadi 13.750 ton pada 2009. Sementara itu impor daging bebek mencapai 190 ton pada 2000 dan turun stabil menjadi 80 ton/tahun sejak 2005 hingga 2009

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Januari 2011