Agri Unggas
01 December 2011
Manfaat dan Risiko Jagung Transgenik

Tanaman transgenik hanya bisa mengendalikan 1 – 2 spesies serangga hama sehingga spesies yang lain harus dikendalikan denganteknologi lainnya

Kebutuhan jagung sebagai bahan pakan ternak terutama unggas terus meningkat sepanjang tahun. Seiring dengan itu, importasi bahan baku jagung pun terus meningkat. Upaya peningkatan produksi jagung dalam negeri nyatanya selama ini belum mampu menjawab kebutuhan perusahaan pakan. 

Langkah untuk mendongkrak produktivitas lahan jagung yang kini mulai dilirik para petani dan pengusaha jagung adalah menggunakan benih jagung transgenik atau GMO (Genetically Modified  Organisms). Meski di Indonesia, penggunaan produk bioteknologi hasil rekayasa genetik ini masih jadi perdebatan.

Fakta menunjukkan, di duniakomersialisasi tanaman produk transgenik termasuk jagung memasuki tahun ke – 16 dan terus mengalami peningkatan. Hingga 2010 lahan yang digunakan untuk produk bioteknologi di dunia sudah mencapai 148 juta ha. Tercatat sebanyak 15,4 juta petani yang berasal dari 29 negara dan 90 % diantaranya adalah petani dari negara berkembang memanfaatkan produk bioteknologi ini.

Pakar Entomologi dari Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, Prof Y Andi Trisyono mengatakan, di Amerika Serikat sejak dikomersialisasikan 1996 silam, jagung transgenik masih bisa bertahan sampai saat ini. “Amerika Serikat sukses memanfaatkan teknologi dalam waktu 16 tahun karena risikoyang ada dikelola dengan baik,” ungkap Andi. Sebagaimana diketahui, selain unggul dari sisi produktivitas, jagung transgenik juga punya keunggulan dapat menangkal hama jenis tertentu.

Berbeda halnya dengan Afrika Selatan dan Puerto Rico yang mengintroduksi tanaman jagung transgenik di 2007, kata Andi. Hanya dalam tempo 2 – 3 tahun tanaman jagung transgenik itu bisa terpatahkan dan serangga atau hama sasaran menjadi resisten. “Jika serangga menjadi resisten maka kemanfaatan tanaman transgenik menjadi hilang. Hal itu bisa terjadi jika salah dalam pengelolaan risiko dan jagung yang ditanam tidak dikelola dengan baik,” jelas Andi.

 

Prinsip Kehati–hatian

Sementara bagi Indonesia, menurut Ahli Peneliti Muda bidang Bioteknologi Tanaman di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Bogor, Muhammad Herman, umumnyabersikap menerima terhadap produk rekayasa genetik termasuk jagung dengan pendekatan kehati-hatian.  “Tanaman produk rekayasa genetik yang berasal dari dalam atau luar negeri harus memenuhi persyaratan keamanan lingkungan, keamanan pangan, keamanan pakan. Juga memperhatikan dan mempertimbangkan kaidah agama dan etika, sosial budaya dan estetika,” papar Herman.

Anggota Tim Teknis Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan ini mengatakan,produk tanaman transgenik dinyatakan aman setelah melalui serangkaian pengujian seperti uji multi lokasi di 16 lokasi dalam 2 musim, dinilai oleh badan benih nasional dan tim penilai dan pelepas varietas. “Setelah dinyatakan aman produk dilepas oleh Menteri Pertanian,” ujar Anggota Tim Penilai dan Pelepas Varietas, Badan Benih Nasional.

Anggota Kelompok Kerja Biosafety, Kementerian Lingkungan Hidup inipun melanjutkan, dalam pengkajian keamanan lingkungan harus memperhatikan dampak terhadap non target dan keanekaragaman hayati seperti predator, parasit, lebah madu, ulat sutra,dan mikroba tanah. Sementara untuk pengkajian keamanan pangan harus mempertimbangkan kesepadanan substansial, perubahan nilai gizi, alerginisitas, toksisitas,dan pertimbangan lain seperti marka gen antibiotik.

Selengkapnya baca majalah Trobos edisi Desember 2011