Agri Unggas
01 May 2012
Pembelajaran Biosekuriti pada Peternakan Unggas

Peternak perlu didorong untuk membuat rencana manajemen risiko dan disiplin mengimplementasikan di peternakannya

Biosekuriti menjadi garda terdepan dalam upaya mencegah dan mengendalikan penyakit di peternakan unggas. Berkaca cari hal itu, Aciar(Australian Centre for International Agricultural Reseach)yang disponsori oleh Pemerintah Australia menjalankan proyek pembiayaan efektif biosekuriti bagi peternakan unggas komersial sektor 3 di Indonesia.

Pelaksanaan proyek ini bekerjasama dengan pemerintah baik pusat maupun daerah, kalangan industri, peternak, dan akademisi. Lokasi proyek yang telah berjalan dari Juni 2008 dan berakhir Mei lalu ini bertempat di 3 provinsi yaitu Jawa Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan.

Koordinator Aciar untuk wilayah  Jawa Barat,  Bugie Kurnianto Prasetyomengatakan, proyek ini untuk lebih merangsang para peternak sektor 3 yang menjadi hulu dalam sistem rantai pasar menerapkan biosekuriti. “Peternak perlu didorong untuk membuat rencana manajemen risiko dan mengimplementasikan di peternakannya dengan sungguh–sungguh,” terang Bugie kepada TROBOS.

Lebih lanjut, proyek ini mendorong upaya untuk membangun sistem Clean and Healthy Market Chain/CMC (rantai pasar yang bersih dan sehat) di peternakan unggas sektor 3 dengan melibatkan para peternak, Rumah Pemotongan Hewan Ayam (RPA),dan outlet (supermarket). Dengan terbangunnya sistem diharapkan dapat menghasilkan produk daging ayam dan telur yang aman dan sehat untuk dikonsumsi.

Pelatihan Biosekuriti
Kegiatan proyek pembelajaran biosekuriti perunggasan ini melalui PBUI (Pusat Biosekuriti Unggas Indonesia) bekerjasama dengan pemerintah daerah dan kalangan industri antaralain mengadakan pelatihan biosekuriti di 3 lokasi proyek. Pelatihan melibatkan semua pemangku kepentingan sebagai peserta mencakup peternak sektor 3, konsultan, auditor dan stakeholder. Seperti pelatihan yang dilakukan di Makassar Sulawesi Selatan pertengahan bulan lalu.

Menurut Training & Policy Development Manager – Aciar Project, Dewa M. N. Dharma, pelatihan biosekuriti ini sangatlah penting dan bisa menjadi pengalaman berharga bagi peternak. “Berdasarkan pengamatan kami di lapangan, peternak yang sudah dilatih mengaplikasikan program biosekuriti di peternakannya dan bisa memberi contoh bagi peternak yang lain,” tutur Dewa.

Industry Liaison & Management Manager – Aciar Project, Didin Sudiana menambahkan,perubahan perilaku peternak di daerah yang sudah dilatih cukup signifikan. “Terlihat kesadaran peternak akan pentingnya kesehatan dan biosekuriti di peternakannya,” ujarnya.

Dalam hal pemasaran produk unggas yaitu karkas broiler dan telur dari peternak, lanjut Didin,  penerapan CMC cukup sukses terutama di Bali dan Makassar meski di Jawa Barat agak kurang maksimal. “Untuk Makassar, kami kerjasama dengan Lotte Mart dan Bali dengan Carrefour. Dari penjualannya tampak masyarakat tidak ragu membeli dan mengkonsumsi produk unggas yang sudah biosekur walaupun harganya lebih mahal,” paparnya.

Terkait pemasaran produk unggas, Hasmida Karim, selaku pelatih dalam kegiatan tersebut mengatakan konsumen menerima setiap produk yang aman dan sehat. Dan, produk dari peternak yang telah menerapkan biosekuriti ini termasuk kelas premium sehingga harganya lebih mahal. “Untuk produk ini umumnya peternak lebih banyak membidik dan memasok ke supermarket, hotel dan restoran cepat saji,” jelasnya.

Kompetisi Biosekuriti
Sementara itu, dalam mendorong penerapan biosekuriti di peternakan, PBUI menggelar kompetisi biosekuriti peternakan broiler sektor 3. Kegiatan kompetisi ini sedang berlangsung dari Maret – Mei 2012. Para peserta yang terlibat dalam kompetisi ini adalah peternak broiler yang memiliki populasi di bawah 20 ribu ekor dari 3 provinsi yaitu Jawa Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan. Peserta yang menjuarai kompetisi ini akan mendapatkan uang tunai dan jalan–jalan melihat penerapan CMC di Bali.

Bugie menjelaskan melalui kompetisi ini diharapkan bisa menularkan semangat dan memacu peternak broiler untuk menerapkan biosekuriti secara ketat. “Dari kompetisi ini akan disaring peternak broiler terbaik yang bisa menerapkan biosekuriti dengan baik,” kata Bugie.

Gayung bersambut, Ketua Umum PPBR (Paguyuban Peternak Bandung Raya), Jajang Hermawan Sofyan menyambut baik digelarnya kompetisi ini. “Saya berharap, dengan lomba ini peternak broilerkhususnya di Bandung Raya bisa terpacu untuk menerapkan biosekuriti dengan lebih baik lagi,” ujar Jajang.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Mei 2012