Seberapa Tahan Virus AI pada Kotoran
Penggunaan kotoran ayam sebagai pupuk, aman. Dalam feses yang terpapar langsung sinar matahari secara penuh, dengan suhu lingkungan 32 - 35oC, virus AI hanya mampu bertahan 30 menit
Kotoran ayam (chicken manure) diyakini petani sebagai pupuk organik terbaik, dan untuk mendapatkannya relatif mudah. Meski demikian, pertanyaan adakahini berpotensi menjadi jalanpenyebaran Virus Avian Influenza (VAI), masih kerap mengemuka. Terlebih,kotoran ini umum diangkut melalui jalan raya. Pertanyaan ini banyak datangdari orang-orang yang awam soal virus.“Kalau saya yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata drh Michael Haryadi Wibowo MP, dosen Mikrobiologi FKH UGM saat berbincang dengan TROBOSdi kantornya.
Haryadi punmenyodorkan dua naskahjurnal ilmiah hasil penelitian ilmuwan asalThailand dan Amerika. “Biar jurnal saja yang bicara ya. Kalau mengunduhsendiri harus bayar, ini saya unduhkan gratis,” katanya sambil tertawa.
Menurut Haryadi, isi jurnal itu menggeser paradigma lama tentang virus AI yang dinyatakan mampu bertahan 104 hari dalam manureatau yang sering disebut juga dengan feses. “Dua jurnal itumenyebutkan,beberapa perlakuan terhadap feses mampu meng-inaktif-kan VAI dalam ke hitunganhari bahkan menit,” ungkapnya. Dikatakan, daya hidup VAI dalam kotoran bisa diperpendek dengan perlakuan suhu, tingkat kekeringan (dryness), serta penjemuran di bawah sinar matahari dan sinar ultraviolet (UV).
Drynessdan Sinar Matahari
Jurnal “The Effect of Temperature and UV Light on Infectivity of Avian Influenza Virus (H5N1)in Chicken Fecal Manure” yang ditulis oleh Kamlang Chumpolbanchorn dkk – dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Mahidol, Nakhon Pathom, Thailand – pada 2006 menyebutkan, kotoran ayam dengan tingkat kekeringan (dryness) normal (setara kelembaban 13,7% v/v) yang sengaja diberi virus AI, virus tak ditemukan lagi setelah 24 jam inkubasi pada suhu 25oC.
Penelitian lain di Thailand yang dilakukan oleh Songserm dkk (2005) menemukan bahwa VAI mampubertahan selama 4 hari dalam fresh fecal dropping manure (kotoran baru/basah) yang memiliki kelembaban setidaknya 60%, dankotoran ayam beradadi tempat yang teduh bersuhu 25 -32oC.
Namun, menurut Songserm,eliminasi VAI pada kotoran basah dapat dipercepat dengan menjemurnya. Karena ia mendapati, bilakotoran baru/basah diletakkan pada tempat yang terpaparsinar matahari penuh dengan suhu lingkungan 32 - 35oC, VAI hanya akan bertahan selama 30 menit. Dengan demikian dapat disimpulkan makin tinggi dryness atau semakin kering kotoran, semakin pendek lama waktu VAI bertahan.
Hasil penelitian ini menjadisalahsatu rujukan ilmiah dalam Mekong Team Working Paper vol.7 yang digunakan untuk assesment dalam rangka kompartementalisasi peternakan unggas di Thailand. Direkomendasikan,agar petani memilih kotoran yang keringuntukpenggunaan kotoran ayam sebagai pupuk, terutamadari farm yang status keamanannya atau status kontaminanVAI tidak jelas.
Jurnal ini juga digunakan untuk memastikan keamanan penggunaan pupuk kotoran ayam.Dalam rekomendasi disebutkan,risiko kebobolan dan penyebaran H5N1 HPAIV pada unggas melalui pupuk kotoran ayam adalah sangat rendah dengan tingkat ketidakpastian tingkat menengah (assessed as very low with medium uncertainty).Penegasan ini sekaligus menjawab kekhawatiran Jepang yang menghentikan impor bawang asal Negeri Gajah Putih ini karena penggunaan pupuk kotoran ayam pada budidayanya.
Lapangan Meng-inaktivasi
Sementara itu, jurnal penelitian H Lu dkk berjudul“Survival of Avian Influenza Virus H7N2 in SPF Chicken and Their Environments”yang diterbitkan oleh American Association of Avian Pathologist membeberkan tentang inaktivasi (mematikan)VAI pada berbagai suhu pada sampel-sampel kotoran ayam segar yang telah dicampur dengan VAI.
Hasilnya senada dengan penelitian Songserm di Thailand, VAI pada kotoran ayam baru/basah bisa mati dalam waktu kurang dari seminggu, untuk feses yangberasal dari ayam yang dipelihara di lab BSL-2. Idem dittoVAI pada kotoran asal peternakan ayam komersial,kehilangan infektivitas dalam waktu antara 2 – 6 hari. Sementara virus di kotoran ayam SPF (Specific Pathogen Free) bertahan lebih lama, hingga 23 hari. VAI pada kotoran ketiga jenis ayam yang diteliti tersebutlebih rendah daya tahannya ketimbang VAI yang berada dalam cairan alantois (Chorioallantoic Fluid/CAF).
Cepatnya inaktivasi VAI pada kotoran ayam komersil lapangan disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme yang mampu menekan daya hidup VAI. Aktivitas enzim atau byproduct dari mikroorganisme itu memiliki kemampuan untuk menghancurkan VAI kurang dari seminggu pada temperatur ambient atau temperatur yang lebih tinggi.
Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012










