Agri Unggas
01 June 2012
Meracik Sendiri Pakan Puyuh

Dalam menyusun campuran bahan pakan untuk puyuh yang terpenting adalah imbangan antara kebutuhan energi dan protein

Gaung usaha beternak burung puyuh memang belum santer seperti bisnis broiler (ayam pedaging) maupun layer (ayam petelur). Namun, perlahan tapi pasti, bisnis ini mulai menggeliat di sentra–sentra baru dan dilirik oleh pelaku usaha seperti di Priangan Timur Jawa Barat.Pemilik Andhika PS dan Andhika Feedmill, Heri Santoso di Ciamis Jawa Barat mencoba menangkap peluang usaha komoditas puyuh. Secara bertahap populasi puyuh miliknya yang kini berjumlah 12.500 ekor ini akan ditingkatkan menjadi 250 ribu ekor.

Heri berpendapat, usaha beternak puyuh ini cukup menjanjikan tapi belumberkembang seperti broiler dan layer. “Yang ada justru timbul tenggelam makanya saya berani terjun untuk mengetahui permasalahannya,” tandas Heri kepada TROBOS.

Heri beralasan, terjun ke usaha beternak puyuh sebagai langkah ekspansinya karena belum banyak pelaku usaha di Priangan Timur yang bermain di puyuh. Kalau ada hanya 2 – 3 orang peternak puyuh dengan populasi tidak sampai 50 ribu ekor. “Padahal berdasarkan estimasi suplai telur puyuh ke Priangan Timur dari daerah lain seperti Jogjakarta dan Blitar bisa mencapai 7 – 8 ton per minggu. Ini menjadi peluang untuk wilayah kita sendiri,” jelasnya optimis.

Selain itu, lanjut Heri, yang menjadi daya tarik terjun ke puyuh karena harga telurnya stabil. Tidak hanya stabil di supermarket yang sudah dikemas secara menarik tapi juga di pasar becek. “Penjualan telurnya kan bisa lewat pengepul bergandengan dengan penjualan telur ayam. Saya ingin menyuplai pasar Priangan Timur dulu karena sampai jenuh saja belum ketahuan di angka berapa,” ujarnya.

Kalau dilihat dari Harga Pokok Produksi (HPP) dan harga telur puyuh dipasaran selisihnya cukup jauh. Dari 1 kg telur puyuh HPP berkisar antara Rp 12.000 – 13.000. Sementara, harga telur dipasaran mencapai Rp 17.500 per kg sehingga masih ada selisih Rp 4.500.  “Animo orang makan telur puyuh juga bagus. Protein lebih tinggi, harga lebih murah. Cukup Rp 1.000 dapat 3 butir telur puyuh dengan total 33 g per hari dan kebutuhan protein pun terlampaui. Ini kan luar biasa,” tuturnyasemangat.

Buat Pakan Sendiri
Tidak sekadar beternak, Heri berusaha untuk meningkatkan efisiensi dengan membuat pakan sendiri untuk puyuh peliharaannya. Pria yang bisnis utamanya beternak broiler inipun meracik pakan puyuh di pabrik pakan broiler miliknya.

Ukuran campuran bahan pakan yang dibuat lebih kecil dari pakan broiler yaitu berbentuk crumble (pellet yang dibentuk butiran kecil ± 3 mm) dan lebih halus disesuaikan dengan puyuh. “Pakan dibuat seminggu sekali dan masih untuk mencukupi kebutuhan sendiri,” ungkapnya.

Heri melanjutkan, komposisi bahan pakan berupa konsentrat dari pabrik pakan yang dicampur dengan jagung, bekatul, dan CPO (Crude Palm Oil/minyak sawit mentah). “Komposisi bahan pakannya disesuaikan dengan saran pabrik yang mengeluarkan konsentrat,” ujarnya.

Ia menekankan dengan membuat campuran pakan untuk puyuh dapat menghemat biaya produksi karena harga pakan menjadi lebih murah. Ia membandingkan kalau dari pabrikan harga pakan puyuh berkisar Rp 4.300 – 4.400 per kg. Sedangkan jika membuat sendiri, biaya pakan berkisar Rp 3.700 – 3.800 per kg. “Ada selisih Rp 300 – 400 per kg membuat lebih efisien karena menggunakan bahan baku lokal sehingga selisihnya cukup besar,” tandasnya.

Dalam menyusun campuran bahan pakan untuk puyuh yang terpenting adalah imbangan antara kebutuhan energi dan protein. Kebutuhan energi untuk puyuh sekitar 2.700 kkal dan protein sekitar 22 %.

Sedangkan kebutuhan pakan puyuh per ekor per hari sekitar 22 g. Untuk fase bertelur dimulai pada umur 42 – 45 hari diberi pakan 20 g per hari dan ketika masa bertelur sampai umur 75 – 80 hari dinaikkan menjadi 22 – 23 g per hari.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juni 2012