Agri Unggas
01 January 2013
Kemitraan Ayam Kampung dari Malang

Jumlah peternak mitra yang bergabung, 80 peternak pembudidaya pembesaran serta 5 peternak penetasan

Total populasi ayam kampung yang terafiliasi dalam grup peternakan Pancamurti saat ini mencapai kisaran 10.000 ekor. Sekitar 6.000 ekor diantaranya tersebar di peternak mitra, selebihnya ada dalam pengelolaan langsung Agus Prayudi yang bertindak sebagai “inti” dari kelompok kemitraan dengan basis di Desa Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Pria yang komandan grup sekaligus pemilik Pancamurti tersebut, menamakan ayam-ayam yang dikembangkannya dengan ayam transgenik. “Hasil persilangan antara ayam kedu betina dengan ayam bangkok jantan,” terang pria yang biasa disapa Yudi ini kepada TrobosLivestock saat ditemui di peternakannya.

Dipilihnya ayam bangkok sebagai pejantan unggul, dengan alasan memiliki kemampuan produksi daging yang bagus. Ia menyebut sifat daging dada yang tebal, bagus untuk diarahkan menjadi ayam kampung pedaging.

Sementara untuk induk betina, Yudi mengaku sudah mencoba menggunakan ayam nunukan, ayam sentul, dan ayam kedu untuk mencari sifat produksi telur yang tinggi. Dan akhirnya ia memutuskan ayam kedu betina yang terbaik. Dikatakan Yudi, keturunan hasil silangan bangkok – kedu ini mampu mencapai bobot 0,8 – 1,0 kg dalam masa budidaya 8 minggu, dan produksi telurnya mencapai 250 butir per ekor per tahun.

Sebagai pembanding, ia menyebut 12 – 16 minggu adalah rentang waktu yang umumnya diperlukan ayam kampung “biasa” untuk bisa sampai di bobot tersebut. Dan untuk telur, hanya menghasilkan 100 – 120 butir per tahun. FCR (Feed Conversion Ratio) ayam hasil kreasinya, kata Yudi juga bagus. “Sekitar 2,2 dan yang menjadi nilai lebih adalah produksi telurnya stabil,” ujarnya dengan nada puas.

Pola Kemitraan
Yudi yang lulusan STM Mesin dan menggeluti usaha ayam kampung sejak 2008 ini mengembangkan pola kemitraan dengan caranya sendiri. Ia membedakan pola kemitraannya menjadi dua, mitra peternak pembudidaya komersial (pembesaran untuk konsumsi) dan mitra peternak penetasan.

Produk akhir adalah yang membedakan keduanya. Peternak komersial produk akhirnya adalah ayam siap potong dengan bobot 0,8 – 1,0 kg dalam dua bulan. Sementara mitra penetasan, produk akhirnya adalah DOC (Day Old Chicken) atau anak ayam sehari yang mengambil telur tetasnya dari breeding (pembibitan) yang digarap Yudi. Saat ini jumlah peternak mitra pembesaran yang diorganisir Yudi mencapai 80 peternak, sedangkan mitra penetasan berjumlah 5 peternak dan rencananya akan terus dikembangkan.

Seluruh mitra Pancamurti berlokasi di Malang, sementara untuk luar kota Yudi hanya melayani jual-beli bibit, indukan, atau mesin tetas. “Kemitraan sampai ke luar kota sulit distribusinyamas. Pernah mencoba di Blitar, tapi karena sulit akhirnya tidak diteruskan,” katanya. Penjualan saat ini, lanjut Yudi, untuk DOC pedaging dibanderol Rp 5.000 per ekor, indukan Rp 80.000 per ekor, sementara mesin tetasnya Rp 1 juta per unit dengan kapasitas 500 butir.

Tidak Suplai Pakan
Peternak mitra pembudidaya komersial, oleh Yudi diwajibkan menggunakan bibit yang dia dan mitra penetasnya hasilkan. Kemudian mewajibkan juga mitranya melakukan program vaksin serta membekalinya dengan brosur program vaksin. Tetapi untuk urusan pakan, ia membebaskan peternak mitranya. “Silahkan memilih pakan merk apa, yang penting dalam 2 bulan bisa mencapai bobot panen yang disepakati,” terangnya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock edisi Januari 2013